Search

Pustaka Akhir Zaman

Kan kuteteskan air mata darah demi tegaknya hujjah Allah

Qadha dan Qadhar dari Lisan Imam Ali as

Qadha dan Qadhar dari Lisan Imam Ali as

 

Tahun 36 Hijriah. Amirul Mukminin Ali as bersama pasukannya bergerak ke daerah Shiffin untuk menghancurkan pasukan Muawiyah. Terjadilah perang Shiffin. Perang ini berlanjut hingga 18 bulan dan setelah berakhir, Imam Ali as kembali ke Kufah.

 

Suatu hari ada seorang pria berumur mendatangi Imam Ali as di Kufah dan bertanya, “Wahai Amirul Mukminin! Apakah kepergian kita ke medan perang Shiffin dan berperang dengan warga Syam termasuk Qadha dan Qadha Ilahi?”

 

Imam Ali as menjawab, “Benar, wahai orang tua! Kita tidak akan pernah menaiki dataran tinggi sekalipun atau menuruni jalan terjal, kecuali dengan Qadha dan Qadha Ilahi.”

 

Orang tua itu salah memahami apa yang disampaikan oleh Imam Ali as dan beranggapan segala yang terjadi merupakan determinasi ilahi (Ijbar) berkata, “Dengan demikian, apakah saya bisa menisbatkan kesulitan yang saya alami dalam perjalanan ini dikarenakan Allah, dan saya mengatakan bahwa Allah Swt yang memaksa saya melakukan semua ini? Artinya, saya tidak akan mendapat pahala atas semua pekerjaan ini?”

 

Imam Ali as berkata, “Diamlah, wahai orang tua! Jangan berucap seperti itu. Demi Allah! Perjalananmu ke Shiffin, tinggal di sana dan kembali dari sana telah disediakan pahala yang besar di sisi Allah. Engkau tidak terpaksa dalam melakukan semua ini.”

 

Orang tua itu bertanya lagi, “Bila kepergian kita ke Shiffin adalah bebas dan sesuai dengan kehendak kita sendiri, lalu mengapa kembalinya kita dari sana dengan Qadha dan Qadar Ilahi?”

 

Imam Ali as menjawab, “Seakan-akan engkau beranggapan yang dimaksud dari Qadha dan Qadar Ilahi adalah kepastian ilahi, dimana engkau terpaksa melakukannya. Bila memang demikian, maka segala bentuk pahala, siksa, perintah dan larangan Allah Swt menjadi sia-sia. Kabar gembira dan ancaman kepada manusia tidak berarti. Tidak ada orang melakukan perbuatan baik yang dipuji dan pelaku dosa tidak patut dicela. Pelaku kebaikan tidak akan dinilai lebih baik dari pendosa dan pelaku keburukan tidak layat dicela dari pelaku kebaikan. Ucapan seperti ini sama seperti ucapan para penyembah berhala dan musuh Allah, golongan setan dan kelompok Ijbar dan Majusinya umat ini. Allah Swt meletakkan kewajiban kepada manusia berdasarkan kehendak manusia dan begitu juga larangan sesuai dengan ikhtiarnya, sehingga mereka tidak melakukan dosa sesuai dengan ikhtiarnya. Dengan demikian, setiap sedikit perbuatan baik akan diganjar pahala yang banyak dan tidak menaati Allah bukan berarti mengalahkan-Nya. Menaati Allah Swt dilakukan tidak dengan terpaksa. Allah Swt tidak memberikan ikhtiar sempurna kepada manusia dan segalanya diserahkan kepada mereka (Tafwidh). Begitu juga Allah Swt tidak menciptakan langit, bumi dan udara secara sia-sia, tidak juga mengutus begitu saja para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Ini adalah akidah orang kafir. Celakalah mereka dan akan dimasukkan ke neraka Jahannam.”

 

Penjelasan lugas dan argumentatif Imam Ali as berhasil memuaskan orang tua itu dan membuatnya gembira. Ia kemudian membacakan dua bait syair kepada Imam Ali as:

 

انت الامام الذى نرجو بطاعته               

يوم النجاة من الرحمان غفرانا

 

اوضحت من امرنا ما كان ملتبسا            

جزاك ربك بالاحسان احسانا

 

Engkau Imam yang wajib ditaati

Di Hari Kiamat kami berharap ampunan ilahi

 

Engkau jelaskan urusan yang sulit

Allah membalas kebaikanmu dengan kebaikan.[1] (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

 

Sumber: Dastanha-ye Usul Kafi, Mohammad Mohammadi Eshtehardi, 1371Hs,  jilid 1.

 

Baca juga:

Kisah Ushul Kafi: Jawaban Ini dari Hijaz!

Kisah Ushul Kafi: Menafikan Bentuk Fisik dari Allah



[1]
 . Bab al-Jabr wa al-Qadr, jilid 1, hal 155-156, hadis 1.

Puisi Buat Imam Husain as

Assalaamu’Alaykaa Yaa Aaba ‘Abdillaah*

Wahai jiwa-jiwa suci yang terbang dalam angkasa malakut…

Wahai energi-energi abadi yang berenang dalam atmosfir jabarut…

Wahai ayat-ayat yang menghiasi dinding-dinding alam lahut…

Wahai bukti-bukti yang memadati kisi-kisi lelangit…

Wahai shalawat dan tasbih yang menggetarkan dedaunan …

Wahai desau angin yang sebarkan rintihan munajat di penghujung asa…

Wahai rinai-rinai yang lembabkan pipi pendamba sekerat ijabah…

wahai anai-anai yang membakar diri dalam ada-NYA

Jangan tanya apa masalahku…

Jangan pula meminta pendapatku

Aku kehabisan kata dan tanda baca…

Pandu aku yang sempoyongan mengetuk pintu Rahmat MU

Biarkan aku bergulung-gulung meraung mengemis ampunanNya

Beri aku sepercik air dari telagaNya

agar aku lenyap

agar aku tak berbatas….

agar aku tak ber ‘aku’

Puisi Cinta untuk Rasulullah Saww

Nafasku tersekat dalam tangisan
Duhai, mengapa nafas tak lepas bersama jeritan
Sesudahmu tiada lagi kebaikan dalam kehidupan
Aku menangis karena aku takut hidupku akan kepanjangan
 
Kala rinduku memuncak, kujenguk pusaramu dengan tangisan
 
Aku menjerit meronta tanpa mendapatkan jawaban
Duhai yang tinggal di bawah tumpukan debu, tangisan memelukku
Kenangan padamu melupakan daku dari segala musibat yang lain
Jika engkau menghilang dari mataku ke dalam tanah,
engkau tidak hilang dari hatiku yang pedih
 
Berkurang sabarku bertambah dukaku
setelah kehilangan Khatamul Anbiya
Duhai mataku, cucurkan air mata sederas derasnya
jangan kautahan bahkan linangan darah
Ya Rasul Allah, wahai kekasih Tuhan
pelindung anak yatim dan dhuafa
Setelah mengucur air mata langit
bebukitan, hutan, dan burung
dan seluruh bumi menangis
 
Duhai junjunganku,
untukmu menangis tiang-tiang Ka’bah
bukit-bukit dan lembah Makkah
Telah menangisimu mihrab
tempat belajar Al-Quran di kala pagi dan senja
Telah menangisimu Islam
sehingga Islam kini terasing di tengah manusia
Sekiranya kau lihat mimbar yang pernah kau duduki
akan kau lihat kegelapan setelah cahaya
 
(Ini adalah puisi yang konon dibacakan oleh Sayyidah Fatimah Az-Zahra setiap kali beliau mengunjungi makam ayahandanya, Rasulullah, Muhammad SAW

Read more: http://www.ipabionline.com/2012/01/puisi-cinta-untuk-rasulullah-saw.html#ixzz2MoLQI8Lw

Ucapan-ucapan suci pilihan yang pernah diucapkan oleh Imam Husein a.s.

Pada kesempatan ini kami haturkan kepada para pembaca budiman ucapan-ucapan suci pilihan yang pernah diucapkan oleh Imam Husein a.s. dengan harapan semoga kita dapat menjadikan ucapan-ucapan tersebut sebagai penunjuk jalan demi terciptanya sebuah kehidupan yang tentram.

1.Nasihat Imam Husein a.s. kepada para ulama

“Wahai golongan yang dikenal dengan ilmunya, disebut-sebut karena kebaikannya, dikenal pandai menasihati, dan disegani oleh manusia karena mereka dikenal dekat dengan Allah. Kalian diperhitungkan oleh orang mulia, dihormati oleh orang lemah dan orang yang tidak pernah kalian kenal akan lebih mengutamakan kalian dari pada dirinya sendiri. Kalian dijadikan perantara untuk sebuah hajat ketika yang memintanya tidak dapat memperolehnya sendiri dan berjalan di atas bumi bak raja dan orang-orang penting. Hak orang-orang lemah telah kalian injak-injak. Dan adapun hak kalian –yang menurut kalian berhak atasnya– kalian (memaksa untuk mendapatkannya). (Di samping itu) kalian juga masih meminta surga-Nya, berdampingan dengan Rasul-Nya dan aman dari siksa-Nya”.

2.Kesehatan badan dan tazkiah jiwa

“Kuwasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah. Selama usia masih dikandung badan jagalah kesehatan kalian. Janganlah menjadi orang yang mengkhawatirkan dosa-dosa hamba-hamba Allah yang lain dan merasa aman dari siksa dosanya sediri”.

3.Macam-macam jihad

“Jihad itu ada empat macam: dua dari empat macam tersebut adalah wajib, satu jihad adalah sunnah yang tidak dijalankan kecuali bersamaan dengan jihad yang wajib dan selebihnya adalah sunnah.

a. Adapun jihad yang wajib adalah (1) jihad seseorang untuk tidak bermaksiat kepada Allah, –dan ini adalah jihad yang paling agung–, dan (2) jihad melawan orang-orang kafir.

b. Adapun jihad yang sunnah dan tidak dijalankan kecuali bersamaan dengan jihad yang wajib adalah jihad melawan musuh. Jihad melawan musuh adalah wajib bagi seluruh umat. Jika mereka meninggalkannya, akan datang azab menimpa mereka. Dan azab ini adalah azab atas nama mereka. Jenis jihad ini adalah sunnah bagi imam (pemimpin), dan jika ia hendak melaksanakannya, ia harus melaksanakannya bersama umat.

c. Adapun jihad yang sunnah adalah semua sunnah yang dilakukan oleh seseorang dan ia sangat konsisten dalam melakukan dan menghidupkannya. Usahanya dalam mengerjakan sunnah tersebut adalah amalan terbaik, karena hal itu adalah satu usaha untuk menghidupkan sunnah. Rasulullah SAWW bersabda: “Barang siapa yang meninggalkan sunnah hasanah (sebagai warisan darinya), maka ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya hingga hari kiamat tanpa dikurangi sedikit pun”.

4.Ibadah para pedagang, hamba dan orang merdeka

“Sebagian orang menyembah Allah karena ingin mendapatkan sesuatu. Ibadah ini adalah ibadah para pedagang. Sebagian yang lain menyembah Allah karena takut. Ibadah ini adalah ibadah para hamba sahaya. Dan sebagian kaum menyembah Allah karena hanya ingin bersyukur (kepada-Nya). Ibadah ini adalah ibadah orang-orang yang merdeka. Dan ini adalah ibadah yang paling utama”.

5.Tidak berbuat lalim

“Janganlah engkau berbuat lalim kepada orang yang penolongnya adalah Allah azza wa jalla semata”.

6.Kepada siapakah kita harus meminta?

“Janganlah engkau meminta hajatmu kecuali kepada salah satu dari tiga orang ini: orang yang beragama, orang yang memiliki harga diri dan orang yang berasal dari keturunan baik”.

7.Orang yang kikir

“Orang yang kikir adalah orang yang tidak mau mengucapkan salam”.

8.Akibat mengikuti orang yang berdosa

“Barang siapa yang bersahabat dengan seseorang atas dorongan ingin bermaksiat kepada Allah, maka ia tidak akan mendapatkan apa yang diharapkannya dan ditimpa apa yang ditakutinya”.

9.Menghormati anak-cucu Fathimah Az-Zahra` a.s.

“Demi Allah, aku tidak akan pernah mau hidup hina selamanya. Fathimah Az-Zahra` akan bertemu dengan ayahnya (pada hari kiamat) seraya mengadukan apa yang diperbuat oleh umatnya terhadap anak-cucunya. Dan tidak akan masuk surga orang yang mengganggunya dengan cara mengganggu anak-cucunya”.

10.Melawan orang-orang zalim

“Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah SAWW pernah bersabda: “Barang siapa yang melihat seorang raja (baca : penguasa) yang lalim, menghalalkan segala yang diharamkan oleh Allah, mengingkari janjinya kepada-Nya, menentang sunnah Rasul-Nya dan melakukan dosa dan kezaliman di dunia kemudian enggan merubahnya, maka Ia akan memasukkannya ke dalam golongannya”.

11.Ridha Allah adalah sumber kebahagiaan

“Tidak akan bahagia sebuah kaum yang berani membeli kerelaan makhluk dengan kemurkaan Allah”.

12.Pengikut terbaik

“Sungguh aku tidak mengenal pengikut yang lebih baik dari para pengikutku dan tidak pernah menemukan keluarga yang lebih setia dari keluargaku. Semoga Allah membalas kalian dengan kebaikan”.

13.Ucapan pemusnah duka

“Sesungguhnya seluruh bumi akan mati dan penduduk langit tidak akan kekal serta segala sesuatu akan musnah kecuali Dzat-Nya yang telah menciptakan bumi dengan kekuatan-Nya dan membangkitkan semua makhluk kelak. Mereka akan bangkit kembali sedangkan Ia tetap tunggal”.

14.Kesabaran adalah jembatan kemenangan

Imam Husein a.s. menghibur para sahabatnya pada hari Asyura` seraya berkata: “Bersabarlah wahai orang-orang mulia, kematian hanyalah sebuah jembatan yang akan mengantarkan kalian menyeberangi dunia kesengsaraan menuju surga-surga yang luas dan nikmat yang abadi”.

15.Apakah dunia itu?

“Wahai hamba-hamba Allah, berhati-hatilah terhadap dunia, karena jika dunia harus kekal dimiliki oleh seseorang, maka para nabilah yang lebih berhak untuk hidup kekal dan lebih utama (untuk menyerahkan sepenuhnya apa yang mereka miliki untuk kehidupan dunia). Hanya saja Allah telah menciptakannya untuk dimusnahkan. Segala yang baru darinya akan sirna, nikmatnya akan musnah, kesenangannya akan berubah menjadi kesusahan, dan ia adalah sebuah rumah sementara. Oleh karena itu, berbekallah. Dan bekal yang terbaik adalah takwa. Dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung”.

16.Ketegaran yang menawan

“Tidak, demi Allah. Aku tidak akan menyerah kepada mereka seperti orang yang hina dan tidak akan lari dari medan perang seperti seorang hamba (yang lari dari majikannya)”.

17.Tidak kenal hina

“Ingatlah bahwa Yazid telah mengancam dengan dua hal: pedang dan kehinaan. Kami tidak mungkin memilih kehinaan. Allah, Rasul-Nya dan mukminin tidak menghendaki hal itu untuk kami. Jiwa-jiwa yang suci tidak mengizinkan kami mengorbankan manisnya terbunuh bersama orang-orang mulia demi menaati orang-orang yang tidak tahu diri”.

18.   Kemurkaan Allah terhadap bangsa Yahudi, Majusi dan musuh Ahlul Bayt a.s.

“Allah sangat murka kepada bangsa Yahudi karena mereka menjadikan anak untuk-Nya, Ia sangat murka kepada pengikut agama Nasrani karena mereka menjadikan-Nya tuhan ketiga dari tiga tuhan, Ia sangat marah kepada penganut agama Majusi karena mereka menyembah matahari dan bulan di samping menyembah-Nya, dan Ia sangat marah kepada sebuah kaum yang sepakat untuk membunuh cucu nabi mereka”.

19.Agama tidak? Jadilah orang yang merdeka!

“Wahai pengikut Abu Sufyan, jika kalian tidak memiliki agama dan tidak takut hari kebangkitan, maka jadilah orang yang merdeka di duniamu, dan kembalilah untuk menengok keturunan kalian jika kalian memang keturunan Arab sebagaimana kalian yakini”.

20.Lebih dahulu berdamai

“Jika di antara dua orang terjadi percekcokan dan salah satu dari mereka berdua lebih dahulu minta untuk berdamai, maka ia akan masuk surga”.

21.Pahala mengucapkan salam

“Mengucapkan salam memiliki tujuh puluh kebaikan; enam puluh sembilan dari kebaikan itu akan diberikan kepada orang yang terlebih dahulu mengucapkan salam dan satu darinya akan diberikan kepada yang menjawabnya”.

22.Ridha Allah

“Barang siapa yang mengorbankan kemurkaan manusia demi ridha Allah, maka Ia akan mencukupkannya darinya, dan barang siapa yang mengorbankan kemurkaan Allah demi ridha manusia, maka Ia akan menyerahkan segala urusannya kepada manusia itu”.

23.Sebuah mimpi

“Ketahuilah bahwa dunia ini, manis dan pahitnya adalah sebuah mimpi, dan kesadaran sejati akan terjadi di akhirat kelak”.

24.Hindarilah!

“Janganlah kalian ucapkan sebuah ucapan yang dapat mengurangi harag diri dan nilaimu”.

25.Hidup kekal dengan sebuah kematian

“Mati dalam menempuh kemuliaan tidak lain adalah sebuah kehidupan abadi, dan hidup terhina tidak lain adalah sebuah kematian yang tidak berarti”.

Ucapan-ucapan suci pilihan yang pernah diucapkan oleh Fathimah a.s.

Pada kesempatan ini kami haturkan ucapan-ucapan suci pilihan yang pernah diucapkan oleh Fathimah a.s. dan telah diriwayatkan oleh Syi’ah dan Ahlussunnah. Dengan mengambil ilham dari ucapan-ucapan suci tersebut diharapkan cahaya hikmah akan terpancar dalam lubuk kalbu kita dan akan menjadi penerang jalan bagi kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari:

1. Kedudukan Ahlul Bayt a.s. di sisi Allah

“Panjatkanlah puja kepada Dzat yang karena keagungan dan cahaya-Nya seluruh penduduk langit dan bumi mencari perantara untuk menuju kepada-Nya. Kami adalah perantara-Nya di antara makhluk-Nya, kami adalah orang-orang keistimewaan-Nya dan tempat menyimpan kesucian-Nya, kami adalah hujjah-Nya berkenaan dengan rahasia ghaib-Nya, dan kami adalah pewaris para nabi-Nya”.

2. Segala yang memabukkan adalah haram

Rasulullah SAWW pernah bersabda kepadaku: “Wahai kekasih ayahnya, segala yang memabukkan adalah haram, dan segala yang memabukkan adalah khamar”.

3. Wanita terbaik

“Yang baik bagi wanita, hendaknya ia tidak melihat laki-laki dan laki-laki tidak melihatnya”.

4. Hasil ibadah yang disertai ikhlas

“Orang yang menghadiahkan kepada Allah ibadahnya yang murni, maka Ia akan menurunkan kepadanya kemaslahatannya yang terbaik”.

5. Kemurkaan Fathimah a.s. terhadap dua khalifah

Ia berkata kepada Khalifah pertama dan kedua: “Jika aku membacakan hadis dari Rasulullah SAWW apakah kalian akan mengamalkannya?”

“Ya”, jawab mereka singkat.

Ia melanjutkan: “Demi Allah, apakah kalian tidak pernah mendengar Rasulullah SAWW bersabda:“Kerelaan Fathimah adalah kerelaanku dan kemurkaannya kemurkaanku. Barang siapa mencintai Fathimah putriku, maka ia telah mencintaiku, barang siapa yang membuatnya rela, maka ia telah membuatku rela, dan barang siapa membuatnya murka, maka ia telah membuatku murka”?

“Ya, kami pernah mendengarnya dari Rasulullah SAWW”, jawab mereka pendek.

“Kujadikan Allah dan malaikat sebagai saksiku bahwa kalian berdua telah membuatku murka. Jika aku kelak berjumpa dengan Rasulullah, niscaya aku akan mengadukan kalian kepadanya”, lanjutnya.

6. Umat yang paling buruk

Fathimah a.s. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW bersabda: “Umatku yang terburuk adalah mereka yang berlimpahan nikmat, makan makanan yang berwarna-warni, memakai pakaian yang beraneka ragam dan mengucapkan segala yang diinginkan”.

7. Kapan seorang wanita lebih kepada Allah?

Fathimah a.s. bercerita: Rasulullah SAWW pernah bertanya kepada para sahabat mengenai wanita apakah dia?

“(Wanita adalah) sebuah rahasia (yang harus dijaga)”, jawab mereka pendek.

“Kapankah ia lebih dekat kepada Tuhannya?”, tanya Rasulullah SAWW kembali.

Mereka tidak dapat menjawab. Ketika ia (Fathimah a.s.) mendengar hal itu, spontan ia menjawab: “Ketika ia berada di dalam rumahnya”.

“Fathimah a.s. adalah penggalan tubuhku”, sabda Rasulullah SAWW menimpali.

8. Buah mengirimkan shalawat kepada Fathimah a.s.

Fathimah a.s. berkata: Rasulullah SAWW pernah berkata kepadaku: “Wahai Fathimah, barang siapa bershalawat kepadamu, maka Allah akan mengampuni (dosa-dosanya) dan mengumpulkannya denganku di surga”.

9. Ali a.s. adalah seorang panutan dan pemimpin

Fathimah a.s. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW bersabda: “Barang siapa yang menganggap aku sebagai walinya, maka Ali adalah walinya, dan barang siapa yang menganggap aku sebagai imamnya, maka Ali adalah imamnya”.

10. Hijab Fathimah a.s.

Suatu hari Rasulullah SAWW bertamu ke rumah Fathimah a.s. dengan membawa seorang buta. Ia langsung menutup dirinya dengan hijab supaya tidak dilihat oleh orang tersebut. Rasulullah SAWW langsung bertanya: “Mengapa engkau menutupi dirimu dengan hijab padahal ia tidak dapat melihatmu?”

“Jika ia tidak dapat melihatku, aku yang dapat melihatnya. Ia dapat mencium aroma badanku”, jawabnya.

“Aku bersaksi bahwa engkau adalah pengalan tubuhku”, jawab Rasulullah SAWW menimpali.

11. Sebuah konsep hidup yang sempurna

Fathimah a.s. berkata: (Pada suatu malam) Rasulullah SAWW pernah bertamu ke rumahku dan aku sudah naik ke ranjang untuk tidur malam. Ia berpesan: “Wahai Fathimah, janganlah engkau tidur kecuali setelah melakukan empat hal: mengkhatamkan Al Quran, menjadikan para nabi a.s. sebagai pemberi syafaatmu, menjadikan mukminin rela terhadap dirimu dan melaksanakan haji dan umrah”.

Setelah berkata demikian, ia langsung melaksanakan shalat. Aku sabar menunggunya hingga ia menyelesaikan shalatnya. Setelah menyelesaikan shalatnya, aku bertanya: “Wahai Rasulullah, engkau memerintahkanku untuk melaksanakan empat hal yang tidak mungkin dapat kukerjakan dalam kondisi seperti ini?”

Ia tersenyum seraya berkata: “Jika engkau membaca ‘qul huwallaahu ahad’ (maksudnya membaca surah al-ikhlash — pen.) sebanyak tiga kali, maka kamu telah mengkhatamkan Al Quran, jika engkau bershalawat kepadaku dan kepada para nabi sebelumku, maka kami akan memberikan syafaat kepadamu pada hari kiamat, jika engkau beristigfar untuk mukminin, maka mereka akan rela terhadapmu, dan jika engkau membaca ‘subhaanallaah wal hamdulillaah walaa ilaaha illallaah wallaahu akbar’ engkau telah mengerjakan haji dan umrah”.

12.Kerelaan suami

Fathimah a.s. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW bersabda: “Celakalah seorang istri yang membuat suaminya marah dan kabar gembira bagi seorang istri yang suaminya rela terhadapnya”.

13.Manfaat cincin akik

Fathimah a.s. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW bersabda: “Barang siapa yang selalu memakai cincin akik, maka ia akan selalu melihat kebaikan”.

14.Ali a.s. adalah pemecah problema yang terbaik

Fathimah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW pernah bercerita: Sekelompok malaikat pernah bertengkar tentang suatu masalah. Kemudian mereka meminta seorang penengah dari bangsa manusia. Allah mewahyukan kepada mereka agar memilih siapa yang mereka sukai. Akhirnya mereka memilih Ali bin Abi Thalib a.s.

15.Wanita penghuni neraka

Fathimah a.s. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW bercerita tentang pengalamannya setelah melihat penduduk neraka: “Wahai putriku, wanita yang digantung dengan rambutnya itu adalah wanita yang tidak menutupi rambutnya dari pandangan laki-laki, wanita yang digantung dengan lidahnya adalah wanita yang suka mengganggu suaminya. Adapun wanita yang berkepala babi dan berbadan keledai adalah wanita yang suka mengadu domba dan pembohong, dan wanita yang berbadan anjing adalah wanita penyanyi dan penghasut”.

16.Syarat-syarat orang yang berpuasa

“Orang yang sedang menjalankan puasa jika tidak menjaga mulut, telinga, mata dan seluruh anggota badannya, maka ia tidak termasuk kategori orang yang berpuasa”.

17.Muslim pertama dan yang paling alim

Fathimah a.s. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW bersabda: “Suamimu adalah orang yang paling alim, orang yang pertama masuk Islam dan orang yang paling penyabar”.

18.Menolong keturunan Rasulullah SAWW

Fathimah a.s. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW bersabda: “Jika seseorang pernah menolong seorang dari keturunanku dan ia belum membalasnya, maka aku yang akan membalasnya”.

19.Ali a.s. dan para pengikutnya

Fathimah a.s. berkata: “Ayahku melihat Ali a.s. seraya berkata: “Orang ini dan para pengikutnya adalah penghuni surga”.

20.Para pengikut Ali a.s. di hari kiamat

Fathimah a.s. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW bersabda: “Wahai Abal Hasan, engkau dan para pengikutmu adalah penghuni surga”.

21.Al Quran dan ‘itrah dalam ucapan Rasulullah SAWW

Fathimah a.s. bercerita: Aku pernah mendengar ayahku berpesan ketika ia sedang menunggu ajal tiba dan kamarnya dipenuhi oleh para sahabat: “Wahai manusia, tidak lama lagi aku harus pergi meninggalkan kalian dan sebelum ini telah kusampaikan sebuah pesan sebagai hujjah terakhir bagi kalian. Ingatlah baik-baik, aku tinggalkan bagi kalian kitab Tuhanku dan Ahlul Baytku”. Kemudian mengangkat tangan Ali a.s. seraya berseru: “Inilah Ali. Ia akan selalu bersama Al Quran dan Al Quran juga akan selalu bersamanya. Keduanya tidak akan pernah berpisah hingga mereka datang menghadapku di telaga surga. Oleh karena itu, aku akan menanyakan kalian bagaimana kalian memperlakukan keduanya”.

22.Mencuci Tangan

Fathimah a.s. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW bersabda: “Janganlah menyalahkan kecuali dirinya sendiri orang yang hendak tidur malam sedangkan tangannya masih berlumuran debu”.

23.Balasan bagi orang yang selalu berwajah ceria

“Selalu berwajah ceria akan membawa seseorang masuk surga”.

24.Konsekuensi berumah tangga

“Wahai Rasulullah, tanganku telah mengapal karena setiap hari aku harus membuat tepung dan membuat adonan roti”.

25.Bahaya kikir

Fathimah a.s. berkata: Rasulullah pernah berpesan kepadaku: “Jauhilah sifat kikir, karena kikir adalah sebuah penyakit yang tidak akan menjangkiti orang dermawan. Jauhilah sifat kikir, karena sifat kikir adalah sebuah pohon di neraka yang ranting-rantingnya menjulur ke dunia. Barang siapa yang berpegang teguh kepada sebatang rantingnya (di dunia), maka tangkai tersebut akan menyeretnya ke dalam neraka”.

26.Pahala kedermawanan

Fathimah a.s. berkata: Rasulullah SAWW pernah berpesan kepadaku: “Peganglah sifat kedermawanan, karena sifat itu adalah sebuah pohon di surga yang ranting-rantingnya menjulang ke bumi. Barang siapa yang berpegangan dengan sebatang tangkainya (di dunia), maka tangkai tersebut akan menuntunnya menuju surga”.

27.Pahala mengucapkan salam kepada Rasulullah SAWW dan Fathimah a.s.

Fathimah a.s. berkata: Rasulullah SAWW pernah bersabda kepadaku: “Barang siapa yang mengucapkan salam kepadaku dan kepadamu selama tiga hari berturut-turut, maka ia berhak mendapatkan surga”.

28.Senyum yang penuh rahasia

Aisyah bercerita: Ketika Rasulullah SAWW sedang sakit parah, ia memanggil putrinya seraya membisikkan sesuatu di telinganya. Fathimah a.s. menangis. Kemudian ia membisikkan sesuatu untuk kedua kalinya. Fathimah a.s. tersenyum. Setelah itu aku bertanya kepadanya tentang hal itu. Ia menjawab: “Tangisku karena Rasulullah SAWW memberitahu kepadaku bahwa ia akan segara meninggal dunia, dan senyumku karena ia memberitahu kepadaku bahwa aku adalah orang pertama yang akan menyusulnya”.

29.Rasulullah SAWW adalah ayah bagi keturunan Fathimah a.s.

Fathimah a.s. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan setiap keturunan yang berasal dari seorang ibu sebagai keluarga yang berhubungan nasab langsung dengannya kecuali keturunan Fathimah. Karena aku adalah wali mereka (dan nasab mereka menyambung kepadaku)”.

30.Kebahagiaan sejati

Fathimah a.s. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW bersabda: “Jibril mewahyukan kepadaku bahwa orang yang sesungguhnya bahagia adalah orang yang mencintai Ali, baik pada masa hidupku maupun setelah wafatku”.

31.Rasulullah SAWW dan Ahlul Bayt a.s.

Fathimah a.s. bercerita: Suatu hari aku bertamu ke rumah Rasulullah SAWW. Ia membentangkan sehelai kain seraya berkata kepadaku: “Duduklah di atasnya”. Tak lama kemudian Hasan masuk. Rasulullah SAWW berkata kepadanya: “Duduklah bersama ibumu”. Selang beberapa waktu Husein masuk. Ia berkata kepadanya: “Duduklah bersama mereka berdua”. Kemudian Ali masuk. Ia berkata kepadanya: “Duduklah bersama mereka”. Setelah itu Rasulullah SAWW melipat kain tersebut sehingga menutupi kami seraya berkata: “Mereka adalah dariku dan aku dari mereka. Ya Allah, ridhailah mereka sebagaimana aku ridha atas mereka”.

32.Doa Rasulullah SAWW ketika masuk dan keluar dari masjid

Ketika masuk masjid, Rasulullah SAWW selalu membaca doa “Bismillaah, allaahumma shalli ‘alaa Muhammad waghfir dzunuubii waftah lii abwaaba rahmatik”, dan ketika keluar dari masjid, ia membaca doa “Bismillaah, allaahumma shalli ‘alaa Muhammad waghfir dzunubii waftah lii abwaba fadhlik”.

33.Keutamaan waktu antara fajar hingga matahari terbit

Fathimah a.s. bercerita: Suatu pagi Rasulullah lewat di sampingku ketika aku sedang berbaring hendak tidur pagi. Ia menggerakkanku dengan kakinya seraya berkata: “Wahai putriku, bangunlah, saksikanlah rezeki Tuhanmu dan janganlah engkau termasukdalam golongan orang-orang yang lupa. Karena Allah akan membagi rezeki manusia di antara waktu fajar dan matahari terbit”.

34.Orang sakit berada di bawah lindungan Allah

Fathimah a.s. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW bersabda: “Ketika seorang hamba sakit, Allah mewahyukan kepada para malaikat: “Bebaskanlah dia dari taklif selama ia menjadi tanggungan-Ku. Karena Akulah yang menahannya (dengan jalan menyakitkannya) sehingga Aku mencabut nyawanya atau menyembuhkannya”. Ayahku sering berkata: “Allah mewahyukan kepada para malaikat: “Tulislah bagi hamba-Ku ini sebanyak pahala amalan yang dikerjakannya pada waktu ia sehat”.

35.Menghormati orang lain

Fathimah a.s. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW bersabda: “Orang yang baik di antara kalian adalah orang yang paling luwes bergaul dengan orang-orang sekitarnya dan yang paling pengertian terhadap istrinya”.

36.Pahala membebaskan budak

Fathimah a.s. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW bersabda: “Barang siapa yang membebaskan seorang budak mukmin, maka ia akan terbebaskan dari api neraka”.

37.Waktu terkabulnya doa

Fathimah a.s. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW bersabda: “Pada hari Jumat terdapat sebuah waktu yang jika seorang hamba berdoa demi kebaikan di dalamnya, niscaya Allah akan mengabulkannya. (Waktu itu) adalah menjelang matahari terbenam”.

38.Meremehkan shalat

Fathimah a.s. berkata: Aku pernah bertanya kepada ayahku berkenaan dengan orang yang meremehkan shalat, baik laki-laki maupun wanita. Ia bersabda: “Barang siapa yang meremehkan shalat, baik laki-laki maupun wanita, Allah akan menimpakan atasnya lima belas macam bala:

1. Allah akan menghilangkan berkah dari umurnya.

2. Allah akan menghilangkan berkah dari rezekinya.

3. Allah akan memusnahkan tanda-tanda orang saleh dari wajahnya.

4. Setiap amalan yang diamalkannya tidak akan diberi pahala.

5. Doanya tidak akan naik ke langit (baca : tidak dikabulkan).

6. Doa orang-orang saleh tidak akan meliputinya.

7. Ia akan meninggal dunia terhina.

8. Ia akan meninggal dunia kelaparan.

9. Ia akan meninggal dunia kehausan. Seandainya ia minum seluruh air sungai yang berada di dunia ini, niscaya dahaganya tidak akan sirna.

10. Allah akan mengutus malaikat yang siap menakut-nakutinya di dalam kubur.

11. Kuburannya akan terasa sempit dan hanya kegelapan yang akan menyelimutinya.

Allah akan mengutus malaikat yang akan menyeretnya dalam keadaan tengkurap dengan disaksikan oleh para makhluk (yang lain).

13. Ia akan dihisab dengan hisab yang berat.

14. Allah tidak akan sudi melihat wajahnya (baca : berpaling darinya), dan

15. Allah tidak akan menyucikannya, dan baginya siksaan yang pedih”.

39.Kekalahan para lalim

Fathimah a.s. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAWW bersabda: “Jika dua pasukan yang zalim saling berperang, Allah akan membiarkan mereka dan tidak penting bagi-Nya pasukan mana yang akan menang. Dan jika dua pasukan zalim saling berperang, maka kekalahan akan dialami oleh pasukan yang terzalim”.

40.Cuplikan khotbah Fathimah a.s.

Fathimah a.s. pernah melantunkan sebuah khotbah terkenalnya di masjid yang cuplikannya adalah sebagai berikut: “Allah menciptakan iman demi menyucikan kalian dari kemusyrikan, mewajibkan shalat demi membersihkan kalian dari sifat congkak, mewajibkan zakat demi menyucikan jiwa dan menambah rezeki, mewajibkan puasa demi memperkokoh ikhlas (dalam jiwa kalian), mewajibkan haji demi memperkokoh agama, menganjurkan (bertindak) adil demi mematri kalbu, mewajibkan taat kepada kami demi teraturnya masyarakat, memproklamirkan keimamahan kami demi menjaga umat dari berpecah-belah, mewajibkan jihad demi memuliakan Islam, menganjurkan kesabaran demi membantu mendapatkan pahala, mewajibkan amar ma’ruf demi menjaga kemaslahatan umum, memerintahkan berbuat baik kepada orang tua demi menghindari kemurkaan-Nya, menganjurkan silaturahmi demi memperbanyak jumlah saudara, mewajibkan qishash demi menjaga pertumpahan darah, mewajibkan melaksanakan nazar demi memperoleh pengampunan, mewajibkan menyempurnakan timbangan demi mengikis habis sifat curang dalam jual beli, melarang meminum khamar demi membersihkan (umat) dari kekotoran (jiwa), melarang menuduh (orang lain) demi menghindarkan dari laknat, melarang mencuri demi mewujudkan harga diri, mengharamkan kemusyrikan demi terwujudnya ikhlas (dan pengakuan) terhadap ketuhanan-Nya. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah dengan sesungguhnya, janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim dan taatilah Dia sesuai dengan perintah dan larangan-Nya, karena hanya orang-orang alim yang akan takut kepada-Nya”.

 

Hadis-hadis suci pilihan yang pernah diucapkan oleh Imam Shadiq a.s. selama ia hidup.

Pada kesempatan ini kami haturkan kepada para pembaca budiman hadis-hadis suci pilihan yang pernah diucapkan oleh Imam Shadiq a.s. selama ia hidup.

1. Mengecek diri setiap hari

“Seyogianya setiap muslim yang mengenal kami (Ahlul Bayt) untuk mengecek setiap amalannya setiap hari dan malam. Dengan demikian ia telah mengontrol dirinya. Jika ia merasa berbuat kebaikan, maka berusahalah untuk menambahnya, dan jika ia merasa mengerjakan  keburukan, maka beristigfarlah supaya ia tidak hina di hari kiamat”.

2.Istiqamah

“Jika Syi’ah kami mau beristiqamah, niscaya malaikat akan bersalaman dengan mereka, awan akan menjadi pelindung mereka (dari terik panas matahari), bercahaya di siang hari, rezekinya akan dijamin dan mereka tidak akan meminta apa pun kepada Allah kecuali Ia akan mengabulkannya”.

3.Akibat menipu dan dengki

“Barang siapa yang menipu, menghina dan memusuhi  saudaranya (seiman), maka Allah akan menjadikan neraka sebagai tempat kembalinya. Dan barang siapa merasa dengki terhadap saudaranya, maka imannya akan meleleh sebagaimana garam meleleh (di dalam air)”.

4.Wara’, usaha dan menolong mukminin

“Janganlah kalian terbawa arus mazhab dan aliran! Demi Allah, berwilayah kepada kami tidak akan dapat digapai kecuali dengan wara`, usaha yang keras di dunia, dan menolong saudara-saudara seiman. Dan tidak termasuk Syi’ah kami orang yang menzalimi orang lain”.

5.Hasil percaya kepada Allah

“Barang siapa yang percaya kepada Allah, maka Ia akan menjamin segala yang diinginkannya, baik yang berkenaan dengan urusan dunia maupun akhiratnya, dan akan menjaga baginya apa yang sekarang tidak ada di tangannya. Sungguh lemah orang yang enggan membekali diri dengan kesabaran untuk menghadapi sebuah bala`, tidak mensyukuri nikmat dan tidak mengharapkan kelapangan di balik sebuah kesulitan”.

6.Praktek akhlak

“Bersilaturahmilah kepada orang yang memutus tali hubungan denganmu, berikanlah orang yang enggan memberimu, berbuat baiklah kepada orang yang berbuat jahat kepadamu, ucapkanlah salam kepada orang yang mencelamu, berbuat adillah kepada orang yang memusuhimu, maafkanlah orang yang menzalimimu sebagaimana engkau juga ingin diperbuat demikian. Ambillah pelajaran dari pengampunan Allah yang telah mengampunimu. Apakah engkau tidak melihat matahari-Nya menyinari orang yang baik dan orang yang jahat dan air hujan-Nya turun kepada orang-orang yang saleh dan bersalah?”.

7.Pelan-pelan!

“Pelankanlah suaramu, karena Allah yang mengetahui segala yang kau simpan dan tampakkan. Ia telah mengetahui segala yang engkau inginkan sebelum kalian meminta kepada-Nya”.

8.Surga dan neraka adalah kebaikan dan keburukan sejati

“Segala kebaikan ada di depan matamu dan segala keburukan juga ada di depan matamu. Engkau tidak akan melihat kebaikan dan keburukan (sejati) kecuali di akhirat. Karena Allah azza wa jalla telah menempatkan semua kebaikan di surga dan semua keburukan di neraka. Hal itu dikarenakan surga dan nerakalah yang akan kekal”.

9.Wajah Islam

Islam itu telanjang. Bajunya adalah rasa malu, hiasannya adalah kewibawaan, harga dirinya adalah amal saleh dan tonggaknya adalah wara`. Segala sesuatu memiliki asas, dan asas Islam adalah kecintaan kepada kami Ahlul Bayt”.

10.Beramal untuk akhirat

“Beramallah sekarang di dunia demi kebahagiaan yang kau  harapkan di akhirat”.

11.Pahala membantu para pengikut Ahlul Bayt a.s.

“Tidak ada seorang pun yang membantu salah seorang pengikut kami walaupun dengan satu kalimat kecuali Allah akan memasukkannya ke dalam surga tanpa hisab”.

12.Jauhilah riya`, berdebat dan permusuhan

“Jauhilah riya`, karena sifat riya` akan memusnahkan amalanmu, jauhilah berdebat, karena berdebat itu akan menjerumuskanmu ke dalam jurang kehancuran dan jauhilah permusuhan, karena permusuhan itu akan menjauhkanmu dari Allah”.

13.Kebersihan jiwa adalah tolak ukur penentu seorang mukmin

“Jika Allah menghendaki kebaikan atas seorang hamba, maka Ia akan membersihkan jiwanya. Dengan itu, ia tidak akan mendengar kebaikan kecuali ia akan mengenalnya dan tidak melihat kemungkaran kecuali ia akan mengingkarinya. Kemudian Ia akan mengilhamkan di hatinya sebuah kalimat yang akan mempermudah segala urusannya”.

14.Meminta afiat kepada Allah

“Mintalah afiat kepada Tuhan kalian. Bersikaplah wibawa, tenang dan milikilah rasa malu”.

15.Jiwa doa adalah amal

“Perbanyaklah doa, karena Allah menyukai hamba-hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya. Ia telah menjanjikan kepada mereka untuk mengabulkan (doa-doa mereka). Pada hari kiamat Ia akan menghitung doa-doa mereka sebagai sebuah amalan yang pahalanya adalah surga”.

16.Cinta orang-orang miskin

“Cintailah orang-orang miskin yang muslim, karena orang yang menghina dan bertindak sombong terhadap mereka, ia telah menyimpang dari agama Allah dan Ia akan menghinakannya dan murka atasnya. Kakek kami SAWW pernah bersabda: “Tuhanku telah memerintahkanku untuk mencintai orang-orang miskin yang muslim”.

17.Akar kekufuran

“Jangan menghasut orang lain, karena akar kekufuran adalah hasud dan iri dengki”.

18.Amalan penumbuh benih kecintaan

“Tiga amalan dapat menumbuhkan benih kecintaan: memberi hutang, rendah diri dan berinfak”.

19.Amalan penumbuh benih permusuhan

“Tiga amalan penimbul benih permusuhan: kemunafikan, kezaliman dan kesombongan”.

20.Tiga tanda untuk tiga orang

“Tiga hal tidak dapat diketahui kecuali dalam tiga kondisi: penyabar tidak akan dikenal kecuali dalam kondisi marah, pemberani tidak akan diketahui kecuali ketika perang dan saudara tidak akan diketahui kecuali ketika (kita) membutuhkan”.

 

Hadis-hadis suci pilihan yang pernah diucapkan oleh Imam Kazhim a.s.

Pada kesempatan ini kami haturkan kepada para pencari kebenaran hakiki hadis-hadis suci pilihan yang pernah diucapkan oleh Imam Kazhim a.s.

1.Hujjah lahiriah dan batiniah

“Sesungguhnya Allah memiliki dua hujjah atas manusia: hujjah lahiriah dan hujjah batiniah. Hujjah lahiriah adalah para rasul, nabi dan imam (ma’shum) dan hujjah batiniah adalah akal”.

2.Sabar dan menjauhi orang-orang yang mencintai dunia

“Sabar dalam kesendirian adalah tanda kekuatan akal. Barang siapa yang merenungkan tentang Allah, ia akan menjauhi orang-orang yang mencintai dunia dan menginginkan apa yang ada di sisi Tuhannya, Allah adalah penenangnya dalam ketakutan, temannya dalam kesendirian, kekayaannya dalam kefakiran dan kemuliaannya di hadapan selain kerabatnya”.

3.Merendahkan diri di hadapan Allah

“Barang siapa yang menginginkan kekayaan tanpa harta, terselamatkan dari sifat iri dengki dan keselamatan dalam agama, hendaknya ia merendahkan diri di hadapan Allah ketika meminta kepada-Nya (dan mintalah kepada-Nya untuk) menyempurnakan akalnya. Barang siapa yang akalnya telah sempurna, maka ia akan merasa cukup dengan rezeki yang mencukupi hidupnya. Barang siapa yang merasa cukup dengan rezeki yang mencukupi hidupnya, maka ia akan merasa kaya. Dan barang siapa yang tidak merasa cukup dengan rezeki yang mencukupi hidupnya, maka ia tidak pernah merasakan kekayaan sama sekali”.

4.Menjenguk mukmin karena Allah

“Barang siapa yang menjenguk saudara seimannya karena Allah, bukan karena selain-Nya, demi mengharap pahala-Nya dan segala yang telah dijanjikan kepadanya, maka Allah azza wa jalla akan memerintahkan tujuh puluh ribu malaikat untuk menjaganya dari sejak ia keluar dari rumah hingga ia kembali ke rumahnya seraya berkata kepadanya: ‘Engkau adalah orang baik (baca : beruntung) dan surga adalah sesuai denganmu. Engkau telah membangun rumah di sana”.

5.Harga diri, akal dan nilai seseorang

“Tidak sempurna  agama orang yang tidak memiliki harga diri, dan tidak memiliki harga diri orang yang tidak berakal. Sesungguhnya orang yang  paling agung nilainya adalah orang yang tidak menganggap dunia sebagai satu nilai baginya. Ingatlah, harga badanmu ini adalah surga, jangan engkau menjualnya dengan selainnya”.

6.Menjaga harga diri orang lain

“Barang siapa yang menjaga dirinya untuk tidak mempermalukan orang lain, maka Allah akan mengampuni kesalahannya pada hari kiamat, dan barang siapa yang menahan kemarahannya terhadap orang lain, maka Allah akan menahan murka-Nya terhadapnya pada hari kiamat”.

7.Faktor-faktor yang dapat mendekatkan diri dari Allah

“Sarana paling baik yang dapat digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah shalat, berbakti kepada kedua orang tua, meninggalkan sifat dengki, sombong dan bangga diri”.

8.Orang berakal tidak akan berbohong

“Sesungguhnya orang yang berakal tidak akan berbohong meskipun hal  itu tidak sesuai dengan hawa nafsunya”.

9.Hikmah diam

“Sedikit berbicara adalah sebuah hikmah yang amat besar. Oleh karena itu, hendaklah kalian banyak diam, karena banyak diam adalah satu ketenangan hidup dan satu faktor yang dapat meringankan dosa”.

10.Pencela yang tak tahu malu

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan surga bagi pencela yang tak tahu malu dan tidak memikirkan apa yang keluar dari mulutnya serta apa yang dikatakan orang lain kepadanya”.

11.Orang sombong tidak akan masuk surga

“Hati-hatilah terhadap sifat sombong! Karena tidak akan masuk surga orang yang di hatinya tersimpan setitik kesombongan”.

12.Program kerja siang dan malam

“Berusahalah untuk membagi waktu kalian dalam empat bagian: satu bagian untuk bermunajat kepada Allah, satu bagian untuk mencari rezeki, satu bagian untuk menjenguk para saudara seiman yang dapat dipercaya untuk memberitahukan aib-aib yang ada pada dirimu dan sahabat setiamu lahir-batin, dan satu bagian untuk menikmati kenikmatan yang kalian miliki asalkan tidak haram. Dengan menggunakan bagian keempat ini kalian akan mampu melaksanakan tiga bagian di atas”.

13.Duduk bersama dengan orang yang beragama dan berakal

“Duduk bersama orang yang beragam adalah sebuah kemuliaan dunia dan akhirat, dan bermusyawarah dengan orang berakal dan ahli nasihat adalah sebuah berkah, petunjuk dan taufik dari Allah. Jika ia menentukan sebuah solusi, maka janganlah menentangnya, karena hal itu akan mengundang kecelakaan bagimu”.

14.Akibat cinta dunia

“Barang siapa yang mencintai dunia, rasa takut kepada akhirat akan sirna dari hatinya. Barang siapa yang ilmunya bertambah kemudian kecintaannya kepada dunia juga bertambah, maka ia akan bertambah jauh dari Allah dan kemurkaan-Nya kepadanya akan bertambah”.

15.Menjauhi tamak dan hanya bertawakal kepada Allah

“Hindarilah tamak dan janganlah mengharap apa yang ada di tangan manusia serta musnahkanlah rasa tamak dari hati para makhluk, karena tamak adalah kunci kehinaan, pembasmi akal, pemusnah dan pengotor harga diri serta pembasmi ilmu. Janganlah (hanya mengandalkan) tawakal kepada Tuhanmu”.

16.Hasil amanah dan kejujuran

“Menjaga amanah dan berkata jujur dapat mendatangkan rezeki, sedangkan khianat dan berkata bohong dapat mendatangkan kefakiran dan kemunafikan”.

17.Berkata benar dan membasmi kebatilan

“Takutlah kepada Allah dan berkatalah benar meskipun engkau harus binasa, karena di dalam berkata benar itu adalah keselamatanmu. Takutlah kepada Allah dan tinggalkanlah kebatilan meskipun engkau akan selamat, karena di dalam kebatilan itu adalah kecelakaanmu”.

18.Bala` sesuai dengan kadar iman seseorang

“Seorang mukmin bak dua sayap timbangan, ketika imannya bertambah, maka bala`nya pun akan bertambah”.

19.   Shalat sunnah dan mendekatkan diri kepada Allah

“Shalat sunnah adalah sarana bagi mukmin untuk mendekatkan diri kepada Allah”.

20.Keutamaan ishlah (memperbaiki keadaan) dan memaafkan

“Pada hari kiamat sebuah suara akan berteriak lantang: “Perhatian! Barang siapa yang merasa memiliki pahala di sisi Allah, hendaklah ia berdiri!” Tidak ada orang yang berani berdiri kecuali para pemaaf dan orang yang memilih semangat untuk ishlah. Pahalanya ada di sisi Allah”.

21.Sedekah terbaik

“Menolong orang yang lemah adalah sedekah terbaik”.

22.Dosa baru, bala` baru

“Ketika seseorang melakukan dosa baru yang belum pernah dilakukannya, maka Allah akan mendatangkan bala` yang tak pernah disangka-sangka baginya”.

23.Kunci pintu hati

“Perdalamilah agama Allah, karena memperdalami agama adalah kunci hati dan faktor utama untuk mencapai kedudukan yang tinggi di dalam agama dan di dunia. Dan keutamaan seorang “faqih” atas seorang abid bak keutamaan matahari atas bintang-bintang, dan barang siapa enggan mendalami agamanya, maka Allah tidak akan pernah merelai amalannya”.

24.Dunia adalah sarana terbaik

“Jadikanlah untuk dirimu bagian dari dunia selama hal itu halal, tidak merusak harga diri dan tidak melampaui batas, serta gunakanlah dunia tersebut untuk memperkokoh agama, karena diriwayatkan bahwa bukan golongan kami orang yang mengorbankan dunia demi agamanya atau mengorbankan agama demi dunianya”.

25.Ibadah terbaik

“Ibadah terbaik setelah mengetahui Allah adalah menunggu “faraj” (kemunculan Imam Mahdi a.s.)”.

26.Mencintai orang lain

“Mencintai orang lain adalah setengah iman”.

27.Menghindari kemarahan

“Barang siapa yang menahan kemarahannya terhadap orang lain, maka Allah akan menghindarkannya dari siksa api neraka”.

28.Manusia terkuat

“Barang siapa ingin menjadi manusia terkuat, hendaknya bertawakal kepada Allah”.

29.Selalu meningkat, bukan malah mundur

“Barang siapa yang dua harinya sama, maka ia telah rugi, barang siapa yang satu harinya lebih jelek, maka ia terlaknat, barang yang (kebaikannya) tidak bertambah sama sekali, maka ia berada dalam kekurangan, dan barang siapa yang berada dalam kekurangan, maka kematian lebih baik baginya”.

30.Berbuat kebajikan kepada orang lain

“Hak saudaramu yang paling vital adalah jangan kau menutupi sesuatu yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratnya”.

31.Menghindari bergurau

“Hindarilah bergurau, karena bergurau dapat melenyapkan cahaya imanmu”.

32.Nasihat alam semesta

“Jika engkau merenungkan ciptaan (yang ada di dunia ini), niscaya engkau akan melihat nasihat di dalamnya bagimu”.

33.Yang memahami nilai kebajikan

“Barang siapa yang tidak pernah merasakan kesulitan, maka ia tidak akan pernah memahami nilai kebajikan orang lain”.

 

Imam Kazhim a.s

Imam Kazhim a.s. adalah orang yang paling abid, zahid, faqih dan dermawan pada masa itu. Ketika dua pertiga malam tiba, ia mulai melakukan shalat sunnah dan melanjutkan shalatnya hingga fajar menyingsing. Setelah melaksanakan shalat Shubuh, ia mengangkat tangan untuk berdoa dan mulai tenggelam dalam tangisan hingga seluruh jenggotnya basah dengan air mata. Ketika ia membaca Al Quran, orang-orang berdatangan dan berkumpul di sekelilingnya untuk menikmati suaranya yang merdu.

Ia dikenal dengan julukan hamba saleh, dan karena kemampuannya menahan amarah, ia dijuluki dengan al-kazhim. Julukannya yang lain adalah shabir (penyabar) dan amin (terpercaya).

Salah satu dari keturunan Umar bin Khattab sering mengganggunya dan menjelek-jelekkan Imam Ali a.s. Sebagian orang yang bersamanya berkata: “Izinkanlah kami membunuhnya”. Imam a.s. dengan tegas mencegah mereka untuk melakukan hal itu. Pada suatu hari, Imam mencari orang tersebut. Mereka menjawab: “Ia sibuk berkebun di pinggiran Madinah”.

Dengan menunggangi keledainya Imam masuk ke kebun orang tersebut. “Jangan kau rusak tanamanku”, teriaknya nyaring. Akan tetapi, Imam a.s. tidak menghiraukan teriakannya. Ia terus masuk ke kebunnya dengan menunggangi keledai hingga ia sampai di hadapannya. Imam turun dari keledai dan langsung bersenda-gurau dengannya.

Setelah itu Imam a.s. bertanya: “Berapa kerugian yang kau taksir akibat kerusakan kebunmu ini?”

“100 Dinar!”, jawabnya tegas.

“Sekarang berapa kerugian yang harus kuganti?”, tanya Imam kembali.

“Aku tidak memiliki ilmu ghaib (baca : aku tidak tahu–pen.)”, jawabnya.

“Aku bertanya berapa yang harus kubayar?”, tanya Imam memaksa.

“200 Dinar”, jawabnya.

Imam Kazhim a.s. memberikan 300 Dinar kepadanya seraya berkata: “Kebunmu tetap menjadi milikmu”. Lelaki itu bangun dari duduknya seraya mencium kening Imam a.s. dan hengkang dari tempat itu.

Imam Musa Kazhim a.s. pergi ke masjid dan melihat lelaki itu duduk di dalam masjid. Ketika ia melihat Imam masuk, ia berkata: “Allah lebih tahu di mana Ia harus meletakkan risalah-Nya”.

Para pengikut Imam a.s. mengerumuni lelaki tersebut dan bertanya kepadanya: “Apa gerangan yang terjadi? Selama ini engkau selalu memusuhinya?” Ia akhirnya mulai mengumpat mereka dan berdoa untuk keselamatan Imam Kazhim a.s.

Setelah itu Imam Kazhim a.s. berkata kepada para pengikutnya: “Apakah perlakuan yang ingin kalian lakukan terhadapnya lebih baik atau perlakuanku terhadapnya dengan memberikan uang 300 Dinar kepadanya?”

Sangat banyak riwayat yang menceritakan akhlak Imam Kazhim a.s. yang sangat tinggi, kesabarannya dalam menghadapi segala kesulitan dan ketidakpeduliannya terhadap harta dunia. Hal ini mengindikasikan kesempurnaan jiwa dan sifat kepemaafannya yang sangat luhur.

Mantiq (logika)

 

Mantiq adalah alat atau dasar yang penggunaannya akan menjaga kesalahan dalam berpikir.
Lebih jelasnya, Mantiq adalah sebuah ilmu yang membahas tentang alat dan formula berpikir, sehingga seseorang yang menggunakannya akan selamat dari cara berpikir salah. Manusia sebagai makhluk yang berpikir tidak akan lepas dari berpikir. Namun, saat berpikir, manusia seringkali dipengaruhi oleh berbagai tendensi, emosi, subyektifitas dan lainnya sehingga ia tidak dapat berpikir jernih, logis dan obyektif. Mantiq merupakan upaya agar seseorang dapat berpikir dengan cara yang benar, tidak keliru.
Sebelum kita pelajari masalah-masalah mantiq, ada baiknya kita mengetahui apa yang dimaksud dengan “berpikir”.
Berpikir adalah proses pengungkapan sesuatu yang misteri (majhul atau belum diketahui) dengan mengolah pengetahuan-pengetahuan yang telah ada dalam benak kita (dzihn) sehingga yang majhul itu menjadi ma’lûm (diketahui).

Faktor-Faktor Kesalahan Berpikir

1. Hal-hal yang dijadikan dasar (premis) tidak benar.
2. Susunan atau form yang menyusun premis tidak sesuai dengan kaidah mantiq yang benar.
Argumentasi (proses berpikir) dalam alam pikiran manusia bagaikan sebuah bangunan. Suatu bangunan akan terbentuk sempurna jika tersusun dari bahan-bahan dan konstruksi bangunan yang sesuai dengan teori-teori yang benar. Apabila salah satu dari dua unsur itu tidak terpenuhi, maka bangunan tersebut tidak akan terbentuk dengan baik dan sempurna.
Sebagai misal, “[1] Socrates adalah manusia; dan [2] setiap manusia bertindak zalim; maka [3] Socrates bertindak zalim”. Argumentasi semacam ini benar dari segi susunan dan formnya. Tetapi, salah satu premisnya salah yaitu premis yang berbunyi “Setiap manusia bertindak zalim”, maka konklusinya tidak tepat. Atau misal, “[1] Socrates adalah manusia; dan [2] Socrates adalah seorang ilmuwan”, maka “[3] manusia adalah ilmuwan”. Dua premis ini benar tetapi susunan atau formnya tidak benar, maka konklusinya tidak benar. (Dalam pembahasan qiyas nanti akan dijelaskan susunan argumentasi yang benar, pen).

Ilmu dan Idrak
Dua kata di atas, Ilmu dan Idrak, mempunyai makna yang sama (sinonim). Dalam ilmu mantiq, kedua kata ini menjadi bahasan yang paling penting karena membahas aspek terpenting dalam pikiran manusia, yakni ilmu. Oleh karena itu, makna ilmu sendiri perlu diperjelas. Para ahli mantiq (mantiqiyyin) mendefinisikan ilmu sebagai berikut:
Ilmu adalah gambaran tentang sesuatu yang ada dalam benak (akal).
Benak atau pikiran kita tidak lepas dari dua kondisi yang kontradiktif, yaitu ilmu dan jahil (ketidak tahuan). Pada saat keluar rumah, kita menyaksikan sebuah bangunan yang megah dan indah, dan pada saat yang sama pula tertanam dalam benak gambaran bangunan itu. Kondisi ini disebut “ilmu”. Sebaliknya, sebelum menyaksikan bangunan tersebut, dalam benak kita tidak ada gambaran itu. Kondisi ini disebut “jahil”.
Pada kondisi ilmu, benak atau akal kita terkadang hanya [1] menghimpun gambaran dari sesuatu saja (bangunan, dalam misal). Terkadang kita tidak hanya menghimpun tetapi juga [2] memberikan penilaian atau hukum (judgement). (Misalnya, bangunan itu indah dan megah). Kondisi ilmu yang pertama disebut tashawwur dan yang kedua disebut tashdiq.
Jadi tashawwur hanya gambaran akan sesuatu dalam benak. Sedangkan tashdiq adalah penilaian atau penetapan dengan dua ketetapan: “ya” atau “tidak/bukan”. Misalnya, “air itu dingin”, atau “air itu tidak dingin”; “manusia itu berakal”, atau “manusia itu bukan binatang” dan lain sebagainya.
Kesimpulan, ilmu dibagi menjadi dua; tashawwuri dan tashdiqi.

Dharuri dan Nadzari
Ilmu tashawwuri dan ilmu tashdiqi mempunyai dua macam: dharuri dan nadzari. Dharuri adalah ilmu yang tidak membutuhkan pemikiran lagi (aksiomatis). Nadzari adalah ilmu yang membutuhkan pemikiran.
Lebih jelasnya, dharuri (sering juga disebut badihi) adalah ilmu dan pengetahuan yang dengan sendirinya bisa diketahui tanpa membutuhkan pengetahuan dan perantaraan ilmu yang lain. Jadi Ilmu tashawwuri dharuri adalah gambaran dalam benak yang dipahami tanpa sebuah proses pemikiran. Contoh: 2 x 2 = 4; 15 x 15 = 225 atau berkumpulnya dua hal yang kontradiktif adalah mustahil (tidak mungkin terjadi) adalah hal yang dharuri. Sedangkan nadzari dapat diketahui melalui sebuah proses pemikiran atau melalui pengetahuan yang sudah diketahui sebelumnya. (Lihat kembali definisi berpikir). Jadi ilmu tashawwuri nadzari adalah gambaran yang ada dalam benak yang dipahami melalui proses pemikiran. Contoh: bumi itu bulat adalah hal yang nadzari.

Kulli dan Juz’i
Pembahasan tentang kulli (general) dan juz’i (parsial) secara esensial sangat erat kaitannya dengan tashawwur dan juga secara aksidental berkaitan dengan tashdiq.

Kulli adalah tashawwur (gambaran benak) yang dapat diterapkan (berlaku) pada beberapa benda di luar.
Misalnya: gambaran tentang manusia dapat diterapkan (berlaku) pada banyak orang; Budi, Novel, Yani dan lainnya.

Juz’i adalah tashawwur yang dapat diterapkan (berlaku) hanya pada satu benda saja.
Misalnya: gambaran tentang Budi hanya untuk seorang yang bernama Budi saja.
Manusia dalam berkomunikasi tentang kehidupan sehari-hari menggunakan tashawwur-thasawwur yang juz’i. Misalnya: Saya kemarin ke Jakarta; Adik saya sudah mulai masuk sekolah; Bapak saya sudah pensiun dan sebagainya. Namun, yang dipakai oleh manusia dalam kajian-kajian keilmuan adalah tashawwur-thasawwur kulli, yang sifatnya universal. Seperti: 2 x 2 = 4; Orang yang beriman adalah orang bertanggung jawab atas segala perbuatannya; Setiap akibat pasti mempunyai sebab dan lain sebagainya.
Dalam ilmu mantiq kita akan sering menggunakan kulli (gambaran-gambaran yang universal), dan jarang bersangkutan dengan juz’i.

Nisab Arba’ah
Dalam benak kita terdapat banyak tashawwur yang bersifat kulli dan setiap yang kulli mempunyai realita (afrad) lebih dari satu. (Lihat definisi kulli ). Kemudian antara tashawwur kulli yang satu dengan yang lain mempunyai hubungan (relasi). Ahli mantiq menyebut bentuk hubungan itu sebagai “Nisab Arba’ah”. Mereka menyebutkan bahwa ada empat kategori relasi: [1] Tabâyun (diferensi), [2] Tasâwi (ekuivalensi), [3] Umum wa khusus Mutlaq (implikasi) dan [4] Umum wa Khusus Minwajhin (asosiasi).

1. Tabâyunadalah dua tashawwur kulli yang masing-masing dari keduanya tidak bisa diterapkan pada seluruh afrad tashawwur kulli yang lain. Dengan kata lain, afrad kulli yang satu tidak mungkin sama dan bersatu dengan afrad kulli yang lain. Misal: tashawwur manusia dan tashawwur batu. Kedua tashawwur ini sangatlah berbeda dan afradnya tidak mungkin sama. Setiap manusia pasti bukan batu dan setiap batu pasti bukan manusia.

 

alah alat atau dasar yang penggunaannya akan menjaga kesalahan dalam berpikir.
Lebih jelasnya, Mantiq adalah sebuah ilmu yang membahas tentang alat dan formula berpikir, sehingga seseorang yang menggunakannya akan selamat dari cara berpikir salah. Manusia sebagai makhluk yang berpikir tidak akan lepas dari berpikir. Namun, saat berpikir, manusia seringkali dipengaruhi oleh berbagai tendensi, emosi, subyektifitas dan lainnya sehingga ia tidak dapat berpikir jernih, logis dan obyektif. Mantiq merupakan upaya agar seseorang dapat berpikir dengan cara yang benar, tidak keliru.
Sebelum kita pelajari masalah-masalah mantiq, ada baiknya kita mengetahui apa yang dimaksud dengan “berpikir”.
Berpikir adalah proses pengungkapan sesuatu yang misteri (majhul atau belum diketahui) dengan mengolah pengetahuan-pengetahuan yang telah ada dalam benak kita (dzihn) sehingga yang majhul itu menjadi ma’lûm (diketahui).

Faktor-Faktor Kesalahan Berpikir

1.            Hal-hal yang dijadikan dasar (premis) tidak benar.

2.            Susunan atau form yang menyusun premis tidak sesuai dengan kaidah mantiq yang benar.

Argumentasi (proses berpikir) dalam alam pikiran manusia bagaikan sebuah bangunan. Suatu bangunan akan terbentuk sempurna jika tersusun dari bahan-bahan dan konstruksi bangunan yang sesuai dengan teori-teori yang benar. Apabila salah satu dari dua unsur itu tidak terpenuhi, maka bangunan tersebut tidak akan terbentuk dengan baik dan sempurna.
Sebagai misal, “[1] Socrates adalah manusia; dan [2] setiap manusia bertindak zalim; maka [3] Socrates bertindak zalim”. Argumentasi semacam ini benar dari segi susunan dan formnya. Tetapi, salah satu premisnya salah yaitu premis yang berbunyi “Setiap manusia bertindak zalim”, maka konklusinya tidak tepat. Atau misal, “[1] Socrates adalah manusia; dan [2] Socrates adalah seorang ilmuwan”, maka “[3] manusia adalah ilmuwan”. Dua premis ini benar tetapi susunan atau formnya tidak benar, maka konklusinya tidak benar. (Dalam pembahasan qiyas nanti akan dijelaskan susunan argumentasi yang benar, pen).

Ilmu dan Idrak
Dua kata di atas, Ilmu dan Idrak, mempunyai makna yang sama (sinonim). Dalam ilmu mantiq, kedua kata ini menjadi bahasan yang paling penting karena membahas aspek terpenting dalam pikiran manusia, yakni ilmu. Oleh karena itu, makna ilmu sendiri perlu diperjelas. Para ahli mantiq (mantiqiyyin) mendefinisikan ilmu sebagai berikut:
Ilmu adalah gambaran tentang sesuatu yang ada dalam benak (akal).
Benak atau pikiran kita tidak lepas dari dua kondisi yang kontradiktif, yaitu ilmu dan jahil(ketidak tahuan). Pada saat keluar rumah, kita menyaksikan sebuah bangunan yang megah dan indah, dan pada saat yang sama pula tertanam dalam benak gambaran bangunan itu. Kondisi ini disebut “ilmu”. Sebaliknya, sebelum menyaksikan bangunan tersebut, dalam benak kita tidak ada gambaran itu. Kondisi ini disebut “jahil”.
Pada kondisi ilmu, benak atau akal kita terkadang hanya [1] menghimpun gambaran dari sesuatu saja (bangunan, dalam misal). Terkadang kita tidak hanya menghimpun tetapi juga [2] memberikan penilaian atau hukum (judgement). (Misalnya, bangunan itu indah dan megah). Kondisi ilmu yang pertama disebut tashawwur dan yang kedua disebuttashdiq.
Jadi tashawwur hanya gambaran akan sesuatu dalam benak. Sedangkan tashdiq adalah penilaian atau penetapan dengan dua ketetapan: “ya” atau “tidak/bukan”. Misalnya, “air itu dingin”, atau “air itu tidak dingin”; “manusia itu berakal”, atau “manusia itu bukan binatang” dan lain sebagainya.
Kesimpulan, ilmu dibagi menjadi dua; tashawwuri dan tashdiqi.

Dharuri dan Nadzari
Ilmu tashawwuri dan ilmu tashdiqi mempunyai dua macam: dharuri dan nadzariDharuriadalah ilmu yang tidak membutuhkan pemikiran lagi (aksiomatis). Nadzari adalah ilmu yang membutuhkan pemikiran.
Lebih jelasnya, dharuri (sering juga disebut badihi) adalah ilmu dan pengetahuan yang dengan sendirinya bisa diketahui tanpa membutuhkan pengetahuan dan perantaraan ilmu yang lain. Jadi Ilmu tashawwuri dharuri adalah gambaran dalam benak yang dipahami tanpa sebuah proses pemikiran. Contoh: 2 x 2 = 4; 15 x 15 = 225 atau berkumpulnya dua hal yang kontradiktif adalah mustahil (tidak mungkin terjadi) adalah hal yang dharuri. Sedangkan nadzari dapat diketahui melalui sebuah proses pemikiran atau melalui pengetahuan yang sudah diketahui sebelumnya. (Lihat kembali definisi berpikir). Jadiilmu tashawwuri nadzari adalah gambaran yang ada dalam benak yang dipahami melalui proses pemikiran. Contoh: bumi itu bulat adalah hal yang nadzari.

Kulli dan Juz’i
Pembahasan tentang kulli (general) dan juz’i (parsial) secara esensial sangat erat kaitannya dengan tashawwur dan juga secara aksidental berkaitan dengan tashdiq.

Kulli adalah tashawwur (gambaran benak) yang dapat diterapkan (berlaku) pada beberapa benda di luar.
Misalnya: gambaran tentang manusia dapat diterapkan (berlaku) pada banyak orang; Budi, Novel, Yani dan lainnya.

Juz’i adalah tashawwur yang dapat diterapkan (berlaku) hanya pada satu benda saja.
Misalnya: gambaran tentang Budi hanya untuk seorang yang bernama Budi saja.
Manusia dalam berkomunikasi tentang kehidupan sehari-hari menggunakantashawwurthasawwur yang juz’i. Misalnya: Saya kemarin ke Jakarta; Adik saya sudah mulai masuk sekolah; Bapak saya sudah pensiun dan sebagainya. Namun, yang dipakai oleh manusia dalam kajian-kajian keilmuan adalah tashawwur-thasawwur kulli, yang sifatnya universal. Seperti: 2 x 2 = 4; Orang yang beriman adalah orang bertanggung jawab atas segala perbuatannya; Setiap akibat pasti mempunyai sebab dan lain sebagainya.
Dalam ilmu mantiq kita akan sering menggunakan kulli (gambaran-gambaran yang universal), dan jarang bersangkutan dengan juz’i.

Nisab Arba’ah
Dalam benak kita terdapat banyak tashawwur yang bersifat kulli dan setiap yang kullimempunyai realita (afrad) lebih dari satu. (Lihat definisi kulli ). Kemudian antaratashawwur kulli yang satu dengan yang lain mempunyai hubungan (relasi). Ahli mantiq menyebut bentuk hubungan itu sebagai “Nisab Arba’ah”. Mereka menyebutkan bahwa ada empat kategori relasi: [1] Tabâyun (diferensi), [2] Tasâwi (ekuivalensi), [3] Umum wa khusus Mutlaq (implikasi) dan [4] Umum wa Khusus Minwajhin (asosiasi).

1.            Tabâyunadalah dua tashawwur kulli yang masing-masing dari keduanya tidak bisa diterapkan pada seluruh afrad tashawwur kulli yang lain. Dengan kata lain,afrad kulli yang satu tidak mungkin sama dan bersatu dengan afrad kulli yang lain. Misal:tashawwur manusia dan tashawwur batu. Kedua tashawwur ini sangatlah berbeda danafradnya tidak mungkin sama. Setiap manusia pasti bukan batu dan setiap batu pasti bukan manusia.

pikir.
Lebih jelasnya, Mantiq adalah sebuah ilmu yang membahas tentang alat dan formula berpikir, sehingga seseorang yang menggunakannya akan selamat dari cara berpikir salah. Manusia sebagai makhluk yang berpikir tidak akan lepas dari berpikir. Namun, saat berpikir, manusia seringkali dipengaruhi oleh berbagai tendensi, emosi, subyektifitas dan lainnya sehingga ia tidak dapat berpikir jernih, logis dan obyektif. Mantiq merupakan upaya agar seseorang dapat berpikir dengan cara yang benar, tidak keliru.
Sebelum kita pelajari masalah-masalah mantiq, ada baiknya kita mengetahui apa yang dimaksud dengan “berpikir”.
Berpikir adalah proses pengungkapan sesuatu yang misteri (majhul atau belum diketahui) dengan mengolah pengetahuan-pengetahuan yang telah ada dalam benak kita (dzihn) sehingga yang majhul itu menjadi ma’lûm (diketahui).

Faktor-Faktor Kesalahan Berpikir

1.            Hal-hal yang dijadikan dasar (premis) tidak benar.

2.            Susunan atau form yang menyusun premis tidak sesuai dengan kaidah mantiq yang benar.

Argumentasi (proses berpikir) dalam alam pikiran manusia bagaikan sebuah bangunan. Suatu bangunan akan terbentuk sempurna jika tersusun dari bahan-bahan dan konstruksi bangunan yang sesuai dengan teori-teori yang benar. Apabila salah satu dari dua unsur itu tidak terpenuhi, maka bangunan tersebut tidak akan terbentuk dengan baik dan sempurna.
Sebagai misal, “[1] Socrates adalah manusia; dan [2] setiap manusia bertindak zalim; maka [3] Socrates bertindak zalim”. Argumentasi semacam ini benar dari segi susunan dan formnya. Tetapi, salah satu premisnya salah yaitu premis yang berbunyi “Setiap manusia bertindak zalim”, maka konklusinya tidak tepat. Atau misal, “[1] Socrates adalah manusia; dan [2] Socrates adalah seorang ilmuwan”, maka “[3] manusia adalah ilmuwan”. Dua premis ini benar tetapi susunan atau formnya tidak benar, maka konklusinya tidak benar. (Dalam pembahasan qiyas nanti akan dijelaskan susunan argumentasi yang benar, pen).

Ilmu dan Idrak
Dua kata di atas, Ilmu dan Idrak, mempunyai makna yang sama (sinonim). Dalam ilmu mantiq, kedua kata ini menjadi bahasan yang paling penting karena membahas aspek terpenting dalam pikiran manusia, yakni ilmu. Oleh karena itu, makna ilmu sendiri perlu diperjelas. Para ahli mantiq (mantiqiyyin) mendefinisikan ilmu sebagai berikut:
Ilmu adalah gambaran tentang sesuatu yang ada dalam benak (akal).
Benak atau pikiran kita tidak lepas dari dua kondisi yang kontradiktif, yaitu ilmu dan jahil(ketidak tahuan). Pada saat keluar rumah, kita menyaksikan sebuah bangunan yang megah dan indah, dan pada saat yang sama pula tertanam dalam benak gambaran bangunan itu. Kondisi ini disebut “ilmu”. Sebaliknya, sebelum menyaksikan bangunan tersebut, dalam benak kita tidak ada gambaran itu. Kondisi ini disebut “jahil”.
Pada kondisi ilmu, benak atau akal kita terkadang hanya [1] menghimpun gambaran dari sesuatu saja (bangunan, dalam misal). Terkadang kita tidak hanya menghimpun tetapi juga [2] memberikan penilaian atau hukum (judgement). (Misalnya, bangunan itu indah dan megah). Kondisi ilmu yang pertama disebut tashawwur dan yang kedua disebuttashdiq.
Jadi tashawwur hanya gambaran akan sesuatu dalam benak. Sedangkan tashdiq adalah penilaian atau penetapan dengan dua ketetapan: “ya” atau “tidak/bukan”. Misalnya, “air itu dingin”, atau “air itu tidak dingin”; “manusia itu berakal”, atau “manusia itu bukan binatang” dan lain sebagainya.
Kesimpulan, ilmu dibagi menjadi dua; tashawwuri dan tashdiqi.

Dharuri dan Nadzari
Ilmu tashawwuri dan ilmu tashdiqi mempunyai dua macam: dharuri dan nadzariDharuriadalah ilmu yang tidak membutuhkan pemikiran lagi (aksiomatis). Nadzari adalah ilmu yang membutuhkan pemikiran.
Lebih jelasnya, dharuri (sering juga disebut badihi) adalah ilmu dan pengetahuan yang dengan sendirinya bisa diketahui tanpa membutuhkan pengetahuan dan perantaraan ilmu yang lain. Jadi Ilmu tashawwuri dharuri adalah gambaran dalam benak yang dipahami tanpa sebuah proses pemikiran. Contoh: 2 x 2 = 4; 15 x 15 = 225 atau berkumpulnya dua hal yang kontradiktif adalah mustahil (tidak mungkin terjadi) adalah hal yang dharuri. Sedangkan nadzari dapat diketahui melalui sebuah proses pemikiran atau melalui pengetahuan yang sudah diketahui sebelumnya. (Lihat kembali definisi berpikir). Jadiilmu tashawwuri nadzari adalah gambaran yang ada dalam benak yang dipahami melalui proses pemikiran. Contoh: bumi itu bulat adalah hal yang nadzari.

Kulli dan Juz’i
Pembahasan tentang kulli (general) dan juz’i (parsial) secara esensial sangat erat kaitannya dengan tashawwur dan juga secara aksidental berkaitan dengan tashdiq.

Kulli adalah tashawwur (gambaran benak) yang dapat diterapkan (berlaku) pada beberapa benda di luar.
Misalnya: gambaran tentang manusia dapat diterapkan (berlaku) pada banyak orang; Budi, Novel, Yani dan lainnya.

Juz’i adalah tashawwur yang dapat diterapkan (berlaku) hanya pada satu benda saja.
Misalnya: gambaran tentang Budi hanya untuk seorang yang bernama Budi saja.
Manusia dalam berkomunikasi tentang kehidupan sehari-hari menggunakantashawwurthasawwur yang juz’i. Misalnya: Saya kemarin ke Jakarta; Adik saya sudah mulai masuk sekolah; Bapak saya sudah pensiun dan sebagainya. Namun, yang dipakai oleh manusia dalam kajian-kajian keilmuan adalah tashawwur-thasawwur kulli, yang sifatnya universal. Seperti: 2 x 2 = 4; Orang yang beriman adalah orang bertanggung jawab atas segala perbuatannya; Setiap akibat pasti mempunyai sebab dan lain sebagainya.
Dalam ilmu mantiq kita akan sering menggunakan kulli (gambaran-gambaran yang universal), dan jarang bersangkutan dengan juz’i.

Nisab Arba’ah
Dalam benak kita terdapat banyak tashawwur yang bersifat kulli dan setiap yang kullimempunyai realita (afrad) lebih dari satu. (Lihat definisi kulli ). Kemudian antaratashawwur kulli yang satu dengan yang lain mempunyai hubungan (relasi). Ahli mantiq menyebut bentuk hubungan itu sebagai “Nisab Arba’ah”. Mereka menyebutkan bahwa ada empat kategori relasi: [1] Tabâyun (diferensi), [2] Tasâwi (ekuivalensi), [3] Umum wa khusus Mutlaq (implikasi) dan [4] Umum wa Khusus Minwajhin (asosiasi).

1.            Tabâyunadalah dua tashawwur kulli yang masing-masing dari keduanya tidak bisa diterapkan pada seluruh afrad tashawwur kulli yang lain. Dengan kata lain,afrad kulli yang satu tidak mungkin sama dan bersatu dengan afrad kulli yang lain. Misal:tashawwur manusia dan tashawwur batu. Kedua tashawwur ini sangatlah berbeda danafradnya tidak mungkin sama. Setiap manusia pasti bukan batu dan setiap batu pasti bukan manusia.

apa yg bisa antum simpulkan ?

Al Baqarah ayat 30

﴿ وَ إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوْا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَن يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَ نَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَ نُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّيْ أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُوْنَ ﴾

30. Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku ingin menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau akan menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Tragedi hari kamis

~Tragedi Hari Kamis~
 
::<>::<>::<>:: 

Pulang dari Baqi’, Nabi SAW jatuh sakit lagi. 
Ia menderita demam dan sakit kepala. 
Para pelayat bergantian menemui Nabi SAW. 
Tidak seorangpun berbicara keras dihadapannya. 
Semua mata memandang wajah putih bersih. 
Nabi menarik napas perlahan-lahan, seakan-akan mengikuti detak jantung para pelayatnya. 
Tiba-tiba, bibir yang suci itu terbuka: 
“Ambillah kitab dan tita supaya ku tinggalkan pesan untuk kalian, tulisan yang tidak akan sesat sepeninggalku.” 
Suara itu disusul dengan suara gemuruh. 
Seorang pelayat berteriak: 
“Biarkan! Nabi sedang mengigau. 
Nabi diserang penyakit panas, cukuplah bagi Kitab ALLAH.” 
Perempuan-perempuan berteriak, 
“Tidakkah kalian mendengar sabda Rosul ALLAH?” 
Kita dengar suara keras menghardik ibu-ibu kaum mukminin. 
Kita dengar suara keras itu menghardik ummahaatul mu’minin. 
“Ah, kalian sama saja dengan perempuan-perempuan sahabat Yusuf. 
Jika ia sakit, kalian berduka cita. 
Jika ia sembuh, kalian bertengger di lehernya.” 
Dengarlah, Nabi SAW bersabda: 
“Biarkan perempuan-perempuan itu. 
Mereka lebih baik darimu. 
Enyahlah kalian dari sini!” 
Yaa Nabiyar Rohmah, inikah fitnah besar itu? 
Di depan manusia 
“yang tidak berbicara dari hawa nafsunya tetapi selalu berdasarkan wahyu yang diterimanya” 
::QS An Najm 3-4:: 
ada orang yang berani menyebut bahwa Nabi meracau karena sakit panas. 
Di depan orang yang sakit, apalagi yang sakit itu manusia mulia junjungan alam, orang-orang bersuara keras. 
“Ya Rosulullah, inikah fitnah besar itu?” 

Lihatlah, Ibn Abbas menyebut peristiwa itu sebagai 
“Tragedi Hari Kamis”. 
Setiap kali mengenang hari itu, ia menangis. 
Kita juga ingin menangis. 
Kita tidak tahu apa gerangan yang ingin diwasiatkan Nabi SAW. 
Kita tidak ingin tersesat sepeninggal beliau. 
Kita ingin memeluk agama Islam yang sebenarnya. 
Kita ingin mendengar dan membaca wasiat Nabi SAW yang terakhir. 
Hampir saja Rosulullah memberikan anugerah besar yang akan menjadi pedoman kita sesudah sepeninggalnya. 

Mengapa orang-orang itu mengabaikan permintaan Nabi yang mulia? 
Padahal, penjahat yang akan dihukum mati pun dipenuhi permintaan terakhirnya. 
Mengapa tidak kita penuhi permintaan seorang manusia yang suci dan agung? 

Maafkan kami, ya Rosulullah. 
Kami umat yang tidak tahu berterima kasih. 
Kami ini umat yang tidak beradab di hadapan NabiNYA. 
Ampuni kami 
Yaa Abal Qoosim.. 
Yaa Nabiyar Rohmah.. 

~~§~~

Tulisan pertamaku

Tentang Kepemimpinan :

setidaknya ada 3 macam kepemimpinan yakni

1. Monarki/kerajaan/kekaisaran

2. Demokrasi 

3. Teokrasi

mari kita coba bandingkan atau paparkan kelebihan dan kekurangannya dari beberapa sudut pandang

# Ketua / Pemimpin

– Monarki

  biasa dipanggil Raja atau Kaesar

  dipilih melalui keturunan alias anak lelaki yg dipilih oleh sang Raja atau bapaknya sebagai putra mahkota

  juga kadang-kadang melalui kudeta sang panglima

  kehidupan mereka para pemimpin selalu mewah dan semuanya milik rakyat yg dia kelola

  istrinya disebut permayasuri atau ratu

  selirnya banyak

– Demokrasi

  ada 2 nama yakni presiden atau perdana menteri

  dipilih berdasarkan jumlah suara terbanyak terbanyak dalam suatu acara yg diberi nama pemilu

  kehidupannya sangat tergantung wataknya umumnya juga hidup mewah kadang-kadang memang latar

  belakangnya pengusaha sukses tapi juga gajinya banyak sebagai presiden/perdana menteri

  istrinya ikut berpolitik biasa di panggil ibu presiden/ ibu negara

  kalau dia mau selirnya bisa diatur saat kunjungan ke luar ibukota 

-Teokrasi

 dikenal sebagai Nabi/Rasul/Imam

 dipilih oleh Tuhan melalui wahyu kepada Nabi/Rasul tentang siapa Imam pengganti mereka

 kehidupannya wajib seperti orang paling miskin yg dia pimpin, sangat sederhana dan ramah tugasnya  

 menampilkan keagungan Tuhan pada umat

  istrinya cenderung disembunyikan dari publik alias berperan dibalik tirai dan dibatasi 4 saja yg permanen 

  sedangkan jika dia mau nikah sementara tidak dibatasi alias di idzinkan Tuhan tergantung situasi zaman

 

 

Tazâhum: Solusi untuk Aborsi

Tazâhum: Solusi untuk Aborsi
Jalaluddin Rakhmat

Malam itu, dengan berurai airmata, seorang gadis -sebut saja Belia- melaporkan kehamilan kepada kedua orang-tuanya. Mereka terkejut, marah, dan bingung. Mereka lebih bingung lagi ketika tahu anaknya diperkosa kemanakannya yang disuruh menjaga gadis itu. Dapatkah Anda memberikan nasehat praktis bagi orang tua yang malang itu? Nasehat praktis, bukan khotbah panjang tentang akibat dekadensi moral dan globalisasi?

Di tempat yang lain, seorang gadis -sebut saja Dara- ditemukan secara tidak sengaja sudah hamil lebih dari tiga bulan. Ia masih murid sekolah menengah. Ia mengaku terus-terang bahwa semuanya terjadi karena pergaulan bebas. Ia tidak tahu siapa yang menghamilinya. Mestikah ia meneruskan kehamilan itu dan meninggalkan sekolahnya? Mestikah ia memilih salah satu “partner” dan menikah dengannya? Jika ia menjawab “ya” untuk kedua pertanyaan itu, sudah siapkah mereka memikul tanggung-jawab keluarga?

Kedua kasus ini terjadi dalam dunia nyata di sekitar kita. Inilah peristiwa “children having children”, anak-anak yang sudah mengandung anak-anak. Untuk kasus pertama kita turunkan penjelasan Dr A.F Mohsen Ebrahim, dosen studi Islam di Universitas Durban Westville, Afrika Selatan (Aborsi Kontrasepsi dan Mengatasi Kemandulan, Mizan, 1997)

“Tetapi bagaimana jika seorang gadis berusia 14 tahun hamil, diperkosa, katakanlah dengan tetangganya yang berusia 16 tahun? Haruskah ia diasingkan sampai dia melahirkan? Karena jelas, Islam tidak mendukung adopsi. Dia tidak dapat menjadikan adopsi sebagai pilihan setelah anaknya lahir. Apakah tidak lebih praktis bila dia menjalani aborsi sehingga memungkinkannya untuk menjalani rutinitas masa kanak-kanaknya?

Hal ini tentu saja akan menyelamatkannya dari kemungkinan menjadi orangtua sebelum waktunya dan memberikan kesempatan nantinya kepada gadis ini untuk menikah dengan seseorang dan memulai kehidupan berkeluarga. Tetapi kemudian akan timbul persoalan baru, apakah secara moral benar baginya untuk merahasiakan perkosaan dan aborsi dari suaminya yang sekarang?

Semua ini adalah persoalan-persoalan nyata dan penulis tidak mungkin memberikan jawaban pasti. Penulis cenderung untuk mengusulkan bahwa gadis berusia 14 tahun ini dibiarkan untuk melakukan aborsi pada tahap awal kehamilan. Hal ini akan menjamin masa depan yang lebih baik baginya agar nanti dapat memasuki lembaga pernikahan yang suci kalau saat ia dewasa. Tetapi tidakkah aturan ini memberikan contoh yang akhirnya dapat disalahgunakan?”

Walaupun Ebrahem menyarankan aborsi, ia mengaku tidak dapat memberikan jawaban pasti. Ia memberikan satu pemecahan dan menimbulkan banyak persoalan baru. Aborsi memecahkan masalah kehamilan yang tidak dikehendaki. Tetapi pembolehan aborsi dikuatirkan akan disalahgunakan. Ia juga meragukan pembenaran moral bagi perahasiaan aborsi itu di kemudian hari.

Lalu, bagaimana dengan kasus kedua? Dr Azrul Anwar, ketua IDI sekarang, tampaknya juga menyarankan aborsi. Ia berargumentasi, “Lebih bermoral mana: membiarkan seseorang yang tidak tahu tentang siapa bapaknya dan akhirnya si anak terlantar dengan masa depan hancur, atau dengan memberikan pertolongan (aborsi) yang hanya setengah jam? Aborsi itu pintu terakhir ketika konseling dan lainnya tidak berhasil.”

Dr Kartono Muhammad, ketua IDI dulu, sepakat dengan Anwar. Ia mengajak kita bukan hanya memperdebatkan aspek moral, tetapi juga memikirkan nasib perempuan yang “menderita” kehamilan tidak dikehendaki: “Tak ada yang mencoba memikirkan, siapa yang harus menolong kaum perempuan yang kebingungan karena mengalami kehamilan yang tidak diinginkan itu. Juga tidak ada yang membantu mencarikan jalan keluar, kecuali mengutuk ketika perempuan itu terpaksa mencari penggugur kandungan. Dan, toh, kita mengatakan bahwa dengan mengutuk itu kita lebih bermoral daripada membantu mencarikan jalan keluar bagi mereka.” (Ummat, 8 Desember 1997).

Ebrahim, Anwar, dan Muhammad -dan kita semua- sepakat bahwa aborsi itu perbuatan buruk. Tetapi dalam dunia nyata, tidak melakukan aborsi dapat menyebabkan perbuatan buruk yang lain. Dua-duanya buruk. Dan kita hanya punya satu pilihan. Dalam ushul fiqih, pertentangan di antara dua pilihan yang mempunyai dalil syarak yang sama kuatnya disebut sebagai tazâhum.

Bila terjadi tazâhum, para ulama memberikan kepada kita petunjuk berikut. Pertama, dahulukan hukum yang menyempitkan di atas hukum yang memberikan keluasan. Anda harus menolong orang yang kecelakaan atau melakukan salat pada awal waktunya pada waktu yang bersamaan. Dahulukan yang pertama karena waktunya sempit. Salat dapat dilakukan pada waktu yang lain.

Kedua, dahulukan yang ada penggantinya di atas yang tidak ada penggantinya. Anda punya air sedikit. Air itu dapat digunakan untuk berwudhu atau untuk minum orang yang hampir mati kehausan. Gunakan air itu untuk minum, karena untuk itu air tidak dapat digantikan dengan tanah. Wudhu dapat diganti dengan tayammum.

Ketiga, utamakan sesuatu yang sudah ditentukan di atas yang sesuatu yang memberikan pilihan. Para ulama memberikan contoh klasik. Anda hanya mempunyai seorang budak. Anda telah bernazar untuk membebaskan seorang budak. Anda juga harus melakukan kifarat karena menyegaja membatalkan puasa. Bebaskan budak untuk memenuhi nazar. Karena untuk kifarat puasa, Anda mempunyai tiga pilihan: membebaskan budak, puasa dua bulan, dan memberi makan enam puluh orang miskin.

Keempat, dahulukan yang lebih penting di atas yang penting. Dengan kalimat lain, dahulukan yang pokok (ushul) di atas yang cabang (furu’). Memelihara kehidupan bayi penting, tetapi memelihara kehidupan ibu lebih penting lagi. Pada usia remaja, menikah penting tetapi mencari ilmu lebih penting lagi. Mungkin termasuk ke sini adalah butir berikut.

Kelima, dahulukan yang berbahaya di atas yang lebih berbahaya. Inilah pilihan akhaffu al-dhararain, yang paling ringan di antara dua bahaya. Anda tidak punya pekerjaan untuk menghidupi keluarga Anda. Anda ditawari pekerjaan, tetapi Anda harus meninggalkan keluarga Anda. Tidak bekerja atau meninggalkan keluarga?. Pilihlah yang paling ringan bahayanya bagi Anda.

Walaupun pedoman itu sudah cukup jelas, dalam praktek -terutama untuk keempat dan kelima- konteks (situasi-kondisi) akan menyebabkan tingkat pentingnya dan tingkat bahayanya sesuatu itu menjadi sangat relatif. Tetapi di sinilah terletak fleksibilitas hukum-hukum Islam.

Marilah kita kembali kepada aborsi. Jika Anda adalah orang tua dari Belia. Anda dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, Anda memelihara kehamilan Belia. Dengan begitu, Anda menyebabkan Belia menderita sepanjang hidupnya karena pengalaman traumatisnya. Menurut Dr Ebrahim, Anda juga menghancurkan masa depannya, menyengsarakan kehidupan anaknya, di samping menutup kemungkinan baginya untuk membina kehidupan keluarga. Menyebabkan menderita berarti berbuat zalim. Kezaliman pasti perbuatan munkar. Kedua, Anda membantu Belia untuk melakukan aborsi. Aborsi sudah jelas diharamkan syarak. Tidak perlu penjelasan tambahan.

Gunakan pedoman tentang tazâhum. Memelihara kehamilan atau mempunyai anak mempunyai peluang yang lebih banyak. Kalau kehamilan itu sekarang diakhiri, Belia masih mungkin untuk mempunyai anak lagi pada waktu yang akan datang. Berdasarkan pedoman yang pertama, lakukan aborsi. Aborsi itu harus dilakukan untuk mengembalikan anak-anak itu kepada kehidupan normalnya lagi. Kehidupan yang normal itu tidak bisa digantikan dengan yang lain. Jadi, aborsi juga pilihan yang harus diambil berdasarkan pedoman kedua.

Pada kasus Belia, Anda harus memilih antara keselamatan janin atau keselamatan ibunya. Ibu disebut pokok, dan janin itu lahir dari pokok. Berdasarkan pedoman keempat, Anda harus mendahulukan kehidupan ibunya di atas kehidupan anak. Ibu masih mungkin melahirkan anak-anaknya. Ibu tidak bisa digantikan. Anak bisa digantikan. Berdasarkan kaidah kelima, kita dapat menjawab pertanyaan Dr Azwar: Apakah kita akan menelantarkan kehidupan ibu dan anaknya selama bertahun-tahun atau menolongnya dengan melakukan aborsi selama setengah jam.

Kita juga berusaha untuk memenuhi ajakan Dr Kartono Muhammad: Perhatikan juga nasib ibu yang malang itu. Mana yang lebih ringan bahayanya: Menghancurkan kehidupan ibu dan anak selama bertahun-tahun atau menghancurkan kehidupan hanya seorang anak saja.

Marilah kita berlatih menggunakan pedoman yang sama untuk kasus Dara. Untuk itu, kita harus menggunakan nalar dan bukan hanya semata-mata emosi. Siapakah yang tidak tersentuh melihat bayi-bayi yang dicabut hak hidupnya karena “kecelakaan” yang dialami orangtuanya? Siapakah yang tidak marah melihat perbuatan tercela yang dilakukan anak-anak remaja -baik dengan sukarela atau terpaksa?

Kita dapat menetapkan hukum yang lebih keras untuk mencegah terjadinya akar dari semua masalah itu. Islam datang membawa Al-Quran, timbangan, dan hukum besi. Kita bisa memenuhi mimbar dengan kutukan pada para pelaku kejahatan dengan menyebut-nyebut ayat Al-Quran, hadis, atau hukum Islam.

Kita mengutip lagi Dr Ebrahim: “Solusi yang diberikan dengan tujuan untuk mencegah seks bebas memang hartus dipertahankan tetapi solusi ini tidak memberikan jawaban tentang apa yang harus dilakukan bila kehamilan terjadi sebagai akibat hubungan seks bebas… Pemecahan secara Islami terhadap kasus perkosaan adalah mengakhiri segala bentuk pengeksposan tubuh di depan publik; melarang film-film, buku dan nyanyian pornografis; membatasi pergaulan bebas antar pria dan wanita; dan tidak menggunakan wanita sebagai daya tarik iklan untuk menjual segala macam produk atau barang. Di atas segalanya, orang yang bersalah melakukan perkosaan harus dihukum di depan publik. Tetapi bila langkah-langkah pencegahan telah diambil tetapi perkosaan tetap terjadi, maka Islam menganjurkan agar korban segera mendapat pertolongan medis untuk mencegah segala kemungkinan terjadinya kehamilan.”

Seperti di atas, kita juga harus mencegah terjadinya pergaulan bebas supaya tidak terjadi kehamilan yang tidak dikehendaki. Tetapi bila pencegahan yang dilakukan itu gagal, kita harus memberikan pertolongan medis kepada para korban pergaulan bebas. Menunjukkan integritas moral kita dengan meneriakkan hukum yang keras kepada para korban membuat kita berbuat tidak adil.

Ibn Sina menulis dalam Al-Qanun, salah satu kitab kedokteran Islam yang tertua: “Ada saat-saat ketika aborsi perlu dilakukan; yaitu, bila wanita terlalu muda dan kecil untuk hamil atau terancam mati saat melahirkan, atau bila dia menderita karena kecilnya rahim atau bila perumbuhan daging dalam rahim menyulitkan janin untuk keluar. Juga bila janin meninggal dalam rahim wanita.” Empat ratus tahun setelah Ibn Sina wafat, kita melarang aborsi untuk alasan apa pun; apalagi karena alasan usia wanita hamil yang terlalu muda. Kita lebih emosional dari Ibn Sina. Perkembangan sains dan teknologi ternya masih menempatkan kita jauh di belakang Ibn Sina.

DUHAI IBU

DUHAI IBU
(Oleh : Ust. Abdullah Assegaf)

DALAM al-Quran, Allah Swt menjelaskan soal kedudukan orang tua dan hak-hak yang harus diberikan kepada mereka.
Allah Swt berfirman: Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.(Luqman: 14)
Dalam firmannya, Allah Swt menyebutkan tentang hak perlakuan bagi kedua orang tua. Namun, dalam memberikan contoh terhadap orang tua yang berhak memiliki penghormatan besar, Allah mewajibkan bersyukur kepada mereka dan disandingkan dengan syukur kepada Allah. Allah Swt hanya membawa contoh tentang jasa seorang ibu yang mengandung dan menyusui anaknya hingga dua tahun. Sehingga kita dapat memahami bahwa penekanan penghormatan kepada kaum ibu jauh lebih besar dibandingkan penghormatan terhadap kaum bapak. Banyak riwayat yang menceritakan tentang kedudukan ibu yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kedudukan seorang ayah.
Pernah seseorang datang kepada Rasulullah saww dan bertanya tentang siapa yang harus dimuliakan setelah Allah dan rasul-Nya. Rasul saww bersabda, “Ibumu!” Kembali orang itu bertanya, “Setelah itu siapa, ya Rasulullah?” . Rasul menjawab, “Ibumu!” Sampai tiga kali Rasul tetap menjawab, “Ibumu.”. Setelah keempat kalinya, barulah Rasulullah saww menjawab, “Ayahmu!”
Dalam riwayat lain, seseorang datang kepada Rasul saww untuk ikut berjihad bersama Rasulullah saww. Rasul bertanya, “Adakah ibumu masih hidup?” Orang itu menjawab, “masih.” Rasul saww pun bersabda, “Pulanglah dan berbaktilah kepada ibumu.” Rasul saww juga bersabda, “Bahwa surga ada di bawah telapak kaki para ibu.”
Alangkah tingginya Islam dalam memposisikan kaum ibu, sehingga (dalam kondisi tertentu) Rasul saww menggantikan kewajiban berjihad dengan berbakti kepada seorang ibu. Bangsa Arab sebelum Islam amat merendahkan posisi kaum ibu. Dalam pernikahan, mereka hanya dijadikan alat kaum bapak untuk menjaga dan melanjutkan keturunan. Dan, setelah sang anak lahir, otomatis hilanglah hak-hak ibu atas diri anaknya itu.
Lebih buruk lagi, para ibu adakalanya dijadikan barang warisan seorang ayah bagi anak-anaknya. Sedemikian buruknya posisi kaum wanita, sehingga sering terjadi pembunuhan terhadap bayi wanita pada awal kelahirannya. Sayang, dewasa ini, sebagian pihak yang melakukan pembelaan terhadap kaum wanita yang dimanfaatkan kaum lelaki justru menuding Islam sebagai agama yang merendahkan derajat kaum wanita. Mereka menuduh Islam telah memposisikan kaum wanita sebagai makhluk kedua (secondary creation) setelah kaum pria.
Tidak! Tuduhan mereka sama sekali tidak berdasar. Apabila Islam menganjurkan kaum wanita untuk tinggal di rumah bukan lantaran Islam hendak membatasi kaum wanita. Tetapi Islam melihat persoalan tersebut dari sudut pandang universal. Bahwa wanita dan pria pada dasarnya sama dan setara sebagai bagian dari suatu kesatuan masyarakat. Islam melihat bahwa tugas kaum wanita, juga kaum pria, diarahkan semata-mata untuk mendukung kesempurnaan suatu masyarakat. Wanita dan pria harus berjalan bersama mengisi kekosongan masing-masing demi mewujudkan sebuah konstruk masyarakat yang sempurna.
Keharusan kaum ibu tinggal di rumah dimaksudkan untuk memenuhi hasrat setiap anak yang terlahir dalam rumah tersebut. Tugas kaum ibu adalah menjadikan rumah sebagai surga bagi orang-orang yang tinggal di dalamnya. Sehingga setiap anak yang lahir dalam rumah tersebut akan tumbuh menjadi manusia yang memiliki talenta dan sangat cenderung terhadap kesempurnaan.
Allah Swt berfirman:
Siapa yang membunuh seseorang dengan selain (bayaran) jiwa (atas orang lain) atau karena selain membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa memberikan (pemeliharaan) hidup seorang manusia, maka seolah-olah ia telah memberikan (pemeliharaab) hidup manusia seluruhnya.(al-Mâ’idah: 32)
Memberikan (pemeliharaan) hidup kepada seseorang, menurut Imam Ja’far al-Shadiq, adalah menghantarkan seluruh kehidupan seseorang menuju kesempurnaan eksistensinya. Karenanya, menurut al-Quran, itu sama belaka dengan menghantarkan seluruh kehidupan umat manusia kepada kesempurnaan. Lewat perhatian dan kasih sayang seorang ibu, serta pendidikan yang benar, niscaya akan terlahir dan tercipta para pemimpin umat yang ideal.
Islam memiliki alasan yang apik dan purna perihal setiap aturan yang diturunkannya. Dan manusia yang terpedaya hawa nafsunya akan berputus asa dalam menemukan kelemahan atas segenap alasan yang tercantum di dalamnya. Jadinya, mereka pun meracau dan dengan brutal menuduh Islam begini dan begitu, berdasarkan prasangka-prasangka buruk yang tidak masuk akal. Wallâhua’lam bi al- shawab.[]

Memilih Istri Yang Tepat

Memilih Istri Tepat, Melahirkan Anak Pemberani: Abbas bin Ali

Qamar Bani Hasyim as.
Tidak dipungkiri bahwa untuk melahirkan anak yang shaleh sekaligus pemberani ada beberapa hal yang mempengaruhinya. Pertama, kepribadian ibu dan pendidikannya terhadap anak tersebut. Kedua, sebelum hal itu, pemilihan yang tepat terhadap calon istri juga diperlukan. Sebagai tambahan, pentingnya meminta bantuan kepada orang yang sudah pengalaman. Begitulah yang telah dilakukan oleh Sayyidina Ali bin Abi Thalib as.
Beberapa tahun setelah wafatnya Sayyidah Fatimah putri Nabi saw, Sayyidina Ali meminta bantuan kepada kakaknya, Aqil, untuk mencarikan calon istri dari keluarga yang pemberani dan kuat. Aqil pun mengusulkan nama Fatimah binti Hizam dari Bani Kilab. Imam setuju dan darinya Imam memiliki empat anak laki-laki, karenanya Fatimah mendapat julukan Ummul Banîn, ibu anak-anak lelaki.
Pilihan Imam tepat dan keberanian Ummul Banin terbukti. Beliau mengorbankan seluruh anak laki-lakinya untuk membela Sayyidina Husain di Karbala. Setelah mendengar kabar dari Karbala, Ummul Banin berkata, “Saya memiliki empat putra ‘singa kesayangan’. Saya korbankan mereka untuk membela Husain.” Semangat pengorbanan ini merupakan bukti ketaatan kepada kedudukan Sayyidina Ali as.
Rembulan Bani Hasyim
Madinah, 4 Syaban 26 H. Qanbar, pembantu Sayyidina Ali as, berlari ke Masjid Nabi untuk memberi kabar gembira kepada Imam tentang kelahiran putranya. Imam Ali tersenyum dan berkata, “Aku akan pulang ke rumah. Aku akan menamainya Abbas seperti nama pamanku.” Di rumah itulah Abbas bin Ali, yang dikenal dengan sebutan Abul Fadhl, tumbuh dengan cahaya Ahlul Bait bersama Imam Hasanain. Di kalangan bangsa Arab sudah menjadi tradisi untuk menyebut anak yang tampan dengan qamar atau bulan, dan Abbas yang mendapat julukan Qamar Bani Hasyim.
Ketika dunia disinari olehnya, Sayyidina Ali meminta Sayyidina Husain untuk membacakan adzan dan iqamat di telinga Abbas. Ketika Sayyidina Husain memeluknya, bayi itu tersenyum. Namun Imam Husain menangis. Beliau tahu bahwa bayi itu seperti hendak berkata, “Tuanku, saya telah datang dan dengan senang hati memberikan hidupku untukmu dan Islam.” Abbas dilahirkan untuk Imam Husain; lidah Imam Husain berada di mulut Abbas dan jiwa Abbas dikorbankan untuk Imam Husain.
Singa Abbas adalah Singa Ali
Pada malam sebelum syahidnya Sayyidina Ali, beliau mempercayakan anak-anaknya dalam penjagaan Sayyidina Hasan, kecuali Abbas. Melihat bahwa ayahnya mengecualikan dirinya, Abbas yang masih berumur 14 tahun tidak dapat menahan air matanya. Imam Ali mendengarnya menangis, kemudian memeluknya dan menaruh tangan Abbas ke tangan Imam Husain, kemudian berkata,
“Husain, anak ini aku percayakan kepadamu. Dia akan mewakilkan diriku pada hari pengorbananmu dan mempersembahkan jiwanya dalam melindungimu dan orang-orang kesayanganmu, sebagaimana aku melakukannya pada hari itu jika aku hidup…”
Pada Perang Shiffin melawan Muawiyah, Abbas masih berusia 8 tahun. Ketika Abbas melihat musuh mendekati Sayyidina Husain dari belakang, ia langsung mengambil pedang, berlari dan mengirim musuh ke neraka sambil berteriak, “Bagaimana mungkin orang berani menyerang pemimpinku selama aku masih hidup!” Muawiyah melihat hal itu dan bertanya, “Siapa anak itu?” Ketika diberitahu bahwa itu adalah Abbas bin Ali, Muawiyah berkata, “Demi Allah! Tidak ada anak muda yang bisa bertarung seperti itu kecuali putra Ali…!”
Penutup
Hari kelahiran Abbas bin Ali (4 Syaban bertepatan dengan artikel ini diposting) oleh bangsa Iran dijadikan sebagai Hari Cacat Perang Nasional. Rakyat Iran serta seluruh pengikut Ahlul Bait sedunia untuk selalu mengenang pengorbanan Al-Abbas untuk kemudian dijadikan teladan dalam pengorbanan demi kepentingan Islam dan kaum muslimin.
Beberapa Gelar Hadhrat Abbas
• Qamar Bani Hasyim (Rembulan Bani Hasyim). Ibnu Syahr Asyub dalam kitab Manaqib menulis, “Dia mendapat gelar Rembulan Bani Hasyim karena keutamaan rohani dan jasmaninya, karena cahaya kehambaan dan ikhlasnya terpancar dari wajahnya.”
• Saqqa` (Sang Pembawa Air). Julukan ini diberikan karena beliau bertugas untuk membawa air untuk kemah Imam Husain dan menghilangkan rasa haus Bani Hasyim di Karbala.
• Hamilul Lafa` (Sang Pembawa Bendera) dan Ra`îs Askar Al-Husain (Pemimpin Pasukan Imam Husain). Julukan ini diberikan karena beliau adalah orang yang memimpin dan membawa bendera pasukan Imam Husain as.
Sumber:
Gunokh Senosi
Jafariyanews.com
ZIARAT.org
Al-Hadj.com

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑