Kalau Nona Berjalan, Rembulan pun Padam

Semasa berada di Iran, aku sering berkunjung ke rumah-kantor (rukan) abangku, Ahmad Muhajir. Letak rukan itu di daerah utara Teheran, tepatnya di Jalan Vali Asr, persis berhadap-hadapan dengan Taman Nasional (Park-e Mellat) yang keren mentereng.

Setiap musim semi, Taman Nasional ini banyak dikunjungi orang. Mereka umumnya berasal dari daerah sekitar, walaupun ada juga yang berasal dari kota-kota lain di seluruh Iran.

Mengunjungi Taman Nasional telah menjadi kebiasaanku setiap musim semi tiba. Pagi dan sore, sebentar-sebentar aku menikmati panorama indah di taman itu. Tak pernah bosan-bosannya aku mengagumi bunga-bunga yang bermekaran di taman itu. Bunga putih cerah, merah jingga, ungu kehitaman, lazuardi, coklat, lembayung, kuning, abu-abu, belang-belang, garis-garis dan semuanya menebarkan semerbak wangi yang berbeda-beda. Tak satu pun mengungguli yang lain.

Dalam taman itu juga ada sungai-sungai kecil yang mengalirkan lelehan salju dari Gunung Karaj. Gemericik airnya serasa mengiringi irama musik Iran yang dipancar-teruskan melalui pengeras suara yang bertengger di tiang-tiang yang lencir.

Tidak ketinggalan, Rumi, Hafizh, Sa’di, Firdausi, Khayyam, ‘Aththar, dan penyair-penyair Persia lain hadir di taman itu dalam bentuk patung-patung yang menawan. Mereka seperti menunggu orang-orang yang sedang bengong sendirian dan menyuguhkan seribu satu gagasan dan lamunan.

Sudah barang tentu, gambaran di atas sebatas yang dapat kuingat dan kuwadahi dalam kata-kata. Padahal, tak mungkin ingatan dan kata-kataku mampu menangkap pesona sekuntum bunga, apalagi pesona ratusan jenis bunga dan aroma yang ditebarnya?!

Yang jelas, sehabis dari taman itu tak jarang hati ini terbawa oleh warna-warna bunga: terang; jingga; lazuardi; lembayung; coklat; kuning; jambu; kelabu; dan lain-lain; ditambah keharuman masing-masing. Malah, pernah juga seisi taman itu terboyong sampai ke rumah, dan mengubah rumah kantor Abangku jadi taman impian. Aku pun sering jadi tukang mimpi yang senang sendiri.

Suatu sore, sendiri kupandangi taman lewat jendela depan rukan. Satu-dua jam aku duduk bersila di atas meja menatap ke arah taman. Kesunyian taman itu juga yang mengundangku untuk cepat-cepat mengunci segala pintu, menuruni tangga, menyeberang jalan, dan “menemaninya.”

Ya, doaku terkabul: taman luas nan mempesonakan itu jadi milikku sendiri! Tak ada orang seliweran sore itu. Cahaya matahari di ufuk barat yang kemuning mengubah semua warna jadi keemasan. Aku hanyut dalam lautan emas.

Tak henti-hentinya aku memuji Allah. “Ya Rabb! Tuhanku! Betapa indah ciptaan-Mu ini! Betapa tak mampu aku bersyukur pada-Mu!”

Sedang asyik-asyiknya mengagumi segala rupa pemandangan itu, mendadak seorang nona Persia duduk di depanku. Terbelalak mata ini menatapnya. Saking terkesimanya, tubuhku serasa terpental-pental.

Sungguh, Puspita Taman Impian! Segala keindahan sekeliling mendadak lenyap direngkuhnya seorang diri. Bunga, warna-warni yang menyejukkan mata, lautan emas, dan semua pesona masuk ke dalam makhluk itu berbarengan.

Gerangan makhluk apa ini?! Adakah dia muncul untuk mencaci-maki pemandangan indah taman ini? Entahlah.

Kedua bola matanya yang hijau kebiruan tenggelam dalam kebeningan, tak ubahnya sepasang pirus. Tak bakal kuat orang memandangnya telalu lama. Sepasang alis lebat melindungi kedua mata indah itu.

Buru-buru saja kupaksa mata berpaling ke arah lain. Tetapi, kemana? Semua keindahan sudah surut secepat kilat. Kini, tak lagi tampak apa-apa kecuali dia. Kucoba bangkit dari kursi marmer, tapi tak sanggup. Ai, ai, puspita apa ini?

Kalau nona taman itu berjalan, rembulan pun padam, malu menatapnya. Begitulah kira-kira ekspresi puitis para penyair jika harus berhadapan dengan nona Persia itu.

Tergeragap aku mendengar teriakan seorang bocah: “Mama, mama, mama!”

“Bale, Junam! (Ya, Sayang!)” sahut si Puspita.

“Bobo, kujas? (Papa, di mana?),” tanya si bocah lagi.

“Itu, di sana!” menuding ke arah penjual es krim di pintu selatan.

Petir pun takkan lebih mengagetkan daripada apa yang kulihat: seorang lelaki setengah baya yang pincang! Iya, pin-cang!

“Bagaimana mungkin?” tanyaku dalam hati.

“Tapi, apanya yang tidak mungkin?” jawabku sendiri. “Semua itu mungkin. Dan cinta yang memungkinkannya.”

Kutebar pandang ke segenap penjuru. Begitu menemui patung Rumi, mataku terpaku padanya. Kemudian, Rumi menyapaku dengan puisinya yang terkenal itu: Karena cinta, pahit jadi manis / Karena cinta, tembaga jadi emas / Karena cinta, ampas jadi saripati / Karena cinta, pedih jadi obat / Karena cinta, mati jadi hidup / Karena cinta, raja jadi hamba…

Selanjutnya, bersahutan Hafizh, Sa’di, Firdaus, Khayyam dan ‘Aththar menyenandungkan syair-syair cinta mereka masing-maisng. Dan diakhiri dengan Rumi lagi.

Iya, di mata si nona Persia itu, cacat suaminya bukan saja tak berarti cacat, tapi justru mungkin sumber keindahan jenis lain.

Setelah sejenak kuamati, sadarlah aku bahwa suaminya yang cacat itu adalah veteran perang, yang berarti bahwa cacatnya jelas hasil pencapaian, bukan semata-mata hasil bawaan yang tidak dikehedaki. Dan ini menambah keutamaannya, selain keutamaan-keutamaan lainnya.

Aku pun terpaksa mendekati dan memberi salam pada mereka. Tak sengaja hatiku berdoa agar keluarga itu terus berbahagia, karena mereka telah memberiku satu pelajaran kecil tentang cinta. Pelajaran yang terus kukenang untuk waktu yang lama.

Jikalau mungkin, rahmat dan cinta-Mu jua yang selalu kudamba, Tuhan!