Sa(la)pi

Saya pernah diundang seorang yang cukup terpandang di komunitasnya untuk menghadiri acara maulid di rumahnya. Hadirin umumnya memakai baju “koko” lengan panjang putih, kopiah putih dan sarung rapi fresh from the oven. Inilah pakaian kebesaran untuk acara maulid Nabi Muhammad. Tapi hari itu, saya datang dengan pakaian paling tidak formal, lengan pendek warna hijau dan kopiah hitam.

Seperti biasa, ritus pembacaan maulid dimulai. Ada yang membaca lancar dan cepat laksana pembaca berita teve, ada yang melantun seperti burung kenari dan ada yang tersendat-sendat seperti aliran sungai Ciliwung. Dalam ritus seperti ini, pembacaan bagian akhir yang berisi doa biasanya paling prestisius.

Entah karena alasan apa, panitia memberi saya giliran membaca bagian penuh “sensasi” ini. Semua mata memandang saya dengan penasaran. Untung saya tidak gugup atau tersendat. Maklum, teks ini sudah sering saya baca sejak masa kanak-kanak.

Rupanya penghormatan yang tidak layak saya terima itu mencederai hati seseorang. Saat hidangan makan tersaji, orang itu melontarkan pandangan mata penasarannya pada saya. Untuk menggertak, dia memakai bahasa Arab yang difasih-fasihkan. Saya jawab santai saja, juga dengan bahasa Arab yang, saya rasa, tidak kalah atau lebih fasih.

Dia terkejut saat saya dengan tenang menyatakan pernah belajar di Qom, Iran.

Merasa tidak mampu menekuk saya dengan jurus bahasa, dia mulai berbicara ke orang-orang yang selesai makan dengan suara keras. Saya heran kok ada orang belajar agama di negeri kaum Majusi (Zoroaster)!” Dan jelas sasarannya adalah saya. “Apa tidak ada tempat lain untuk belajar agama selain tempat para penyembah api? Mekkah, Madinah, Hadhramaut dan Mesir kan jauh lebih cocok,” katanya dengan nada menghina.

“Apalagi di sana mereka belajar Syiah yang mengkafirkan para sahabat.”

Pada saat ini, saya angkat bicara, “Itu tidak benar.”

“Saya ada bukti. Di kitab Al-Kafi ada hadis-hadis yang melaknat sahabat dan menyataan bahwa al-Qur’an berubah.”

“Semua hadis semacam itu tidak diterima oleh para ulama Syiah. Saya baca Al-Kafi, juga kitab-kitab hadis Ahlul Sunah. Ada banyak hadis yang bernada serupa di semua kitab hadis, tapi semua kalangan menolak menafsirkannya secara harfiah. Dalam kitab-kitab hadis non-Syiah, hadis-hadis serupa berjumlah lebih banyak. Sebaiknya Ente jangan melontarkan tuduhan yang justru bisa mengena pada diri sendiri.”

“Syiah itu kan mazhab Islam yang tercampuri Majusi…”

“Mazhab Syiah itu ada di mana-mana. Mayoritas penduduk Bahrain, Irak, Kuwait, Lebanon, Azerbaijan dan negeri-negeri lain di sekitarnya adalah Syiah. Di banyak negara Muslim lain seperti Afganistan, India, Pakistan, Arab Saudi, Emirat, Qatar, Suriah, Oman dan sebagainya, penganut Syiah itu berjumlah 20 sampai 15 %. Malah, secara historis, banyak ulama besar Ahlus Sunah adalah keturunan Persia. Dan mereka lebih dulu berkembang di Persia ketimbang Syiah. Kalau tuduhan ente ini dipakai orang Syiah, mereka bisa bilang bahwa Ahlus Sunah itu lebih tercampur lagi dengan Majusi, karena Ahlus Sunah telah ada di Persia sebelum Syiah. Syiah justru berkembang di Irak terlebih dahulu sebelum masuk ke Persia.”

“Khomeini mengkafirkan para sahabat Nabi. Dia mengaku-aku turunan Nabi. Orang-orang Syiah mati dalam keadaan keluar dari ajaran salaf (leluhur). Meski mereka ingin wafat di tanah Hadhramaut tapi tanah Hadhramaut yang suci tidak mau menerimanya, sehingga mereka mati di tanah Jawa.”

“Lha, Nabi Muhammad tidak wafat di Hadhramaut. Beliau dikubur di Madinah, demikian pula dengan Sayidah Khadijah, Imam Ali, Sayidina Hamzah, dan sebagainya tidak wafat di Hadhramaut.”

Lalu orang-orang mulai angkat suara. Mereka mencela perilaku kasar si sa(la)fi atau menurut ejaan yang disempurnakan sa(la)pi tersebut.

Satu hal yang tidak habis saya pikir adalah keberanian berbicara di tengah banyak orang tentang hal-hal yang sama sekali tidak dia ketahui. Jika itu adalah cara yang mereka pakai, apa mereka pikir dunia ini sepenuhnya berisi orang bodoh ya ??

You can fool some people sometime, but you cannot fool all people all the time!!!