<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Arial;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:Arial;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:35.4pt; mso-footer-margin:35.4pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:Arial;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Sungguh berat bayanganmu wahai Imam

Kemanakah perginya kedua matamu

Gang ini sudah lama menanti pijakan kakimu

Sungguh berat bayangan mu wahai Imam

Kami tak punya keluhan apa-apa

Di manapun kami berada

Kami letakkan dirimu di depan mata kami

Sungguh berat bayangan mu wahai Imam

Karena sedih menanti suaramu

Tataplah kami yang ada di bawah kakimu,

Wahai Imam, walau sekali saja

Kalau kau tak suka pada kami

Cukup beri satu isyarat

Katakanlah pada hati ini

Apakah ia harus mati atau tetap hidup

Kami akan mematuhi apa saja yang Engkau katakan

Katakan : apakah suara ini layak berlantun atau tidak

Diri ini telah kami wakafkan padamu

Karena hati kami tak dapat melupakanmu

Selama Engkau adalah kebahagiaan kami

Menjadi budak adalah suatu kebanggaan

Ketika kedua matamu memancarkan cahaya

Cahaya bintang hanyalah fatamorgana

Kamilah pemandangan buruk bagi matamu

Karena kami adalah bejana arak

Selama kami menjadi penanti kedatanganmu

Tak ada kesedihan di hari Jum’at kami

Jum’at adalah hari cinta yang baik

Bukanlah hari libur di hati

Kapankah kau akan datang, wahai kiblat alam semesta

Supaya hati kami gembira

Kapankah kau akan datang wahai Yusufnya Zahra

Karena aku senang dengan bau harumnya bajumu

Di atas Arsykah dirimu berada? Ataukah di tempat-tempat yang tinggi?

Biarlah Engkau sendiri yang mengatakannya

Pada malam-malam seperti saat ini

Di Najafkah dirimu berada atau di Karbala?

Tanpa dirimu, dada sang pecinta kurang berdetak

Tanpa dirimu bintang tak lagi bersinar

Lebih dari seribu ratus tahun

Tempatmu di sini kosong

Demi Allah, tanpa kehadiranmu di sini

Kehidupan terasa tak bermakna

Wahai bungaku, wahai keindahanku…

Biarlah budak hitam ini menjadi tebusanmu

Ilahi, biarlah musuh-Mu menjadi pembunuh pengemis-Mu ini