Beginilah Majikan Ideal…!

Salman al-Farisi (salah satu sahabat Rasulullah yang berasal dari Persia) berkata: “Saya telah menyaksikan Fathimah Zahra sedang menumbuk gandum. Kemudian saya menghampiri dan berkata kepadanya; “Wahai putri Rasulullah, kenapa merepotkan diri anda sendiri, sementara pembantumu Fidhah Hindi sedang berdiri di sampingmu? Kenapa tidak pembantumu saja yang mengerjakannya?”.

———————————————-

Beginilah Majikan Ideal…!

Memiliki seorang pembantu pada sebagian kelompok masyarakat kadang kala merupakan kebutuhan primer, yang tidak kalah pentingnya dengan keperluan lainnya terutama pada kalangan para wanita karier. Kesibukan yang telah menyita banyak waktunya, mengahruskan mereka untuk memiliki seorang pembantu sehingga dapat meringankan pekerjaan rumahnya. Ataupun mungkin pada kalangan menengah ke atas, memiliki seorang pembantu sudah merupakan sebuah kelayakan bagi mereka. Namun, yang perlu diketahui oleh para pemilik pembantu ialah bagaimana cara memperlakukan mereka. Apakah karena mereka telah dibayar lantas dapat diperlakukan semena-mena?

Lantas bagaimana pula dengan nasib para pembantu khususnya para TKW (Tenaga Kerja Wanita) yang telah diperlakukan semena-mena, padahal mereka bekerja di Negara-Negara Islam yang bernota bene islam dan tempat kelahirannya Islam? Apakah yang dilakukan mereka sesuai dengan islam? Ataukah kita harus membedakan antara Islam dan para oknum yang walaupun mereka berasal dari tempat kelahiran Islam. Mungkin karena keluguan kita saja yang menganggap segala produk Arab dan hal-hal yang berbau Arab adalah sesuai dengan Islam. Padahal antara keduanya tidaklah memiliki relasi keniscayaan, maksudnya pernyataan Islam adalah Arab dan Arab adalah Islam tidaklah dapat dibenarkan. Walaupun Arab merupakan tempat tumbuh berkembangnya agama Islam.

Sebenarnya saya tidak ingin membahasnya secara panjang lebar berkenaan dengan relasi antara Arab dan Islam, karena selain memerlukan pengulasan yang meluas juga memerlukan sebuah riset yang amat serius. Di sini kita hanya ingin mengetahui bagaimana seharusnya kita memperlakukan seorang pembantu? Dan bagaimanapula para pembesar dan tauladan kita memperlakukan mereka sehingga kita dapat mencontoh dan menauladaninya.

Tokoh yang akan kita ketengahkan ialah Sy. Fathimah Zahra putri Rasulullah, yang pada artikel-artikel sebelumnya telah kita singgung setetes keagungan di antara lautan keagungan yang beliau miliki.

Salman al-Farisi (salah satu sahabat dekat Rasulullah yang berasal dari Persia) berkata: “Saya telah menyaksikan Fathimah Zahra sedang menumbuk gandum. Kemudian saya menghampiri dan berkata kepadanya; “Wahai putri Rasulullah, kenapa merepotkan diri anda sendiri, sementara pembantumu Fidhah Hindi sedang berdiri di sampingmu? Kenapa tidak pembantumu saja yang mengerjakannya?”. Mendengar hal itu lantas Fathimah Zahra berkata: “Rasulullah telah memberikan pesan kepadaku agar bergantian dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Sehari ia bekerja, dan keesokannya giliranku. Kemarin adalah gilirannya, sedangkan sekarang merupakan giliranku”. [Ini terdapat dalam beberapa sumber diantaranya; Biharul-Anwar jil 43 hal 28, Dalailu al-Imamah hal 48, Musnad Ahmad jil 3 hal 150, Majmau-Zawaid jil 10 hal 316, Riyahin asy-Syari’ah jil 1 hal 126, Zahairu al-Uqba hal 51 dinukil dari Cesymeh dar Bastar hal 286 karya sayyid Pur Oghoi hal 285]

Dalam hadis di atas, berdasarkan pesan Rasulullah beliau bergantian dengan pembantunya dalam melakukan pekerjaan rumah. Namun terdapat dalam riwayat lainnya beliau melakukan hal itu tidak karena pesan Rasulullah. Mari kita perhatikan riwayat berikut ini:

Telah diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah menyaksikan pembantu putrinya sedang istirahat, sementara putrinya sedang sibuk melakukan pekerjaan rumah. Ketika Fathimah Zahra melihat ayahnya sementara beliau dalam kondisi seperti itu, lantas beliau berkata: “Wahai Rasulullah, saya telah membagi giliran waktu kerja, sehari saya yang mengerjakannya dan hari lainnya adalah dia”. Mendengar ucapan putrinya, Rasulullah menangis terharu seraya bersabda: “Allah Maha Mengetahui di rumah mana seharusnya risalah kenabian diturunkan”. [Ahqaqu al-Haq jil 10 hal 277 dinukil dari Cesymeh dar Bastar (analisa tentang berbagai segi kehidupan Sy. Fathimah Zahra as) hal 286 karya sayyid Pur Oghoi]

Point penting yang dapat kita ambil dari riwayat di atas, betapa beliau sangat memperhatikan nilai-nilai moral agama dan kemanusiaan. Jelas semua ini berasal dari sumber pancaran wahyu, karena beliau tumbuh berkembang di rumah yang dimulaikan Tuhan dan pendidiknya ialah makhluk tersempurna di seluruh alam yaitu Nabi Muhamad saww. Sedikit banyaknya telah memberikan pengaruh pada kepribadian dan keagungan beliau.

Kembali pada kita sebagai orang yang menauladani segala prilaku beliau, apakah sudah memperlakukan pembantu dengan sebaik-baiknya? Sy. Fathimah Zahra telah memberikan waktu untuk beristirahat dan untuk beribadah kepada pembantunya. Sebagaimana nampak dari kata ‘pembantu’ itu sendiri, tugasnya ialah sekedar membantu, bukan semua pekerjaan lantas dilimpahkan kepadanya tanpa memberikan waktu untuk beristirahat, ibadah dan mengerjakan kepentingan pribadi lainnya. Andaikan semua majikan seperti Sy. Fathimah Zahra, tidak akan pernah ada pembantu yang nasibnya naas seperti para TKW, ataupun para pembantu lainnya.
Hormatilah pembantu anda, karena iapun manusia seperti anda yang perlu terhadap penghormatan.
Perlakukan mereka dengan baik sebagaimana yang dapat kita simak dari riwayat di atas.
Berikan waktu untuk melakukan kepentingan pribadinya, sebagaimana pesan hadis di atas.
‘Pembantu’ artinya tugasnya hanyalah ‘membantu’. Ia memiliki keterbatasan dalam melakukan pekerjaan, maka tidak selayaknya melimpahkan pekerjaan yang di luar batas kemampuan dan tugasnya.
Menjadi majikan akan diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah, maka janganlah berlaku semena-mena.
Jagalah hak-hak mereka (pembantu). Jangan sampai menzaliminya. Ingat, Tuhan akan mengabulkan doa setiap orang yang terzalimi. [ED]