Tanggapan ke “Nikah Mut’ah Sama dengan Zina?”

mas agus

bagaimana dengan hadits shohih yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib ra ini:

“Dari Ali bin abi Thalib berkata: Sesungguhnya Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang nikah mut’ah dan memakan daging himar jinak pada perang khaibar” (HR. Bukhari 5115, Muslim 1407).

jika diperhatikan, hadits ini dengan sendirinya menggugurkan pernyataan Ali bin Abi thalib ra diatas yang berbunyi:
“jika mut’ah tidak dilarang oleh Umar niscaya tidak akan ada yang berzina kecuali orang yang benar-benar celaka saja”.

jika kita hanya melihat dua pernyataan diatas (sekali lagi hanya melihat dua pernyataan diatas), yang nota bene sama-sama sanadnya pada Ali bin Abi Thalib ra, maka terdapat keanehan dan kontradiksi. Tidak mungkin kedua pernyataan tersebut benar karena kontradiksi isinya, yang satu mengharamkan yang lain mendukung mut’ah.

jadi manakah yang benar? silahkan dinilai sendiri:
pernyataan pertama mempunyai derajat hadits shahih (Bukhari & Muslim) sedangkan pernyataan kedua bukan hadits.

mengenai Annisaa:24
kata “istamta’a bih” sama sekali tidak merujuk kepada kata “mut’ah”, karena kedua kata itu sangat berbeda arti:
istamta’a bih berarti menikmati, mendapat kesenangan dari …, (diambil dari Aqrab Al Mawrid)

kata mut’ah lebih diartikan sebagai pernikahan sementara.

sehingga terjemahan dari “istamta’a bih” tidak ada sangkut pautnya dengan kata “mut’ah”.

Wallahu ‘alam.

———————-
Jawab:

Anda benar bahwa ada beberapa hadis yang menyatakan hal itu dalam kitab Ahlusunah. Tetapi kita juga harus melihat bahwa ada hadis-hadis lain (dalam kitab yang sama-sama shohihnya yaitu yang diriwayatkan dari Ibn Abi Nadhrah yang dinukil oleh al-Muslim dalam kitab shahihnya jil:4 hal:130 bab:nikah mut’ah hadis ke:8) yang menyatakan bahwa Rasul hingga akhir hayat beliau tidak pernah mengharamkannya, bahkan khalifah kedualah yang mengharamkannya…dan terbukti bahwa para ulama Ahlusunah tidak ada kesepakatan pendapat tentang kapan mut’ah diharamkan, yang jelas, pendapat-pendapat mereka masing-masing memakai dalil hadis yang berbeda-beda…

Adapun mengenai surat an-Nisa tentang ayat mut’ah itu, kita tidak bisa mengarang-ngarang penafsirannya dan terbukti bahwa ayat itu turun untuk mut’ah. Silahkan anda melihat kembali beberapa kitab tafsir Ahlusunah sendiri -spt: Tafsir al-Kabir karya Fakhrur Razi, Durrul Mantsur karya as-Suyuthi, Fathul Qadir karya as-Syaukani, Ruhul Ma’ani karya al-Alusi, Tafsir al-Quranul Karim karya Ibnu Katsir…dsb- yang menyatakan bahwa ayat itu (an-Nisaa: 24) turun untuk nikah mut’ah, walaupun kembali mereka menyatakan bahwa ayat itu lantas dihapus (mansukh)…dihapus dengan apa? Itulah yang menjadi masalah…apakah mungkin hadis (yang tidak terjaga oleh Allah) akan dapat menghapus ayat al-Quran (yang dijaga oleh Allah)? apakah mungkin sebuah ayat akan dapat dihapus oleh statemen sahabat? Silahkan anda renungkan…!?

di/pada Mei 17, 2008 pada 5:03 pm
ihya

assalamualaykum saudara..

Saya adalah pembaca laman web saudara ini maka saya ingin bertanyakan soalan.

1. Memang benar akan keharusan mut’ah itu di masa zaman peperangan ( zaman Rasul s.a.w ),antara kebaikkannya adalah untuk menjaga nafsu. Memang di akui nafsu manusia tidak kira lelaki atau perempuan sama sahaja bahkan nafsu perempuan itu bahkan lebih lagi dari kita sebagai seorang lelaki. jadi keharusan mut’ah itu benar kerana nafsu tidak bermata dan tidak mengenal tempat walaupun di kawasan peperangan. Jadi hukumnya HALAL untuk ber mut’ah. Soalnya sekarang ini,kita tidak lagi di dalam zaman peperangan bersenjata ( walaupun negara muslim yang lain ber situasi perang ). Jadi bagi fikiran saya yang kurang ilmu ini,adalah tidak wajar sama sekali mut’ah ini diteruskan lagi bersamaan dengan ayat al-quran yang mengatakan kalau tidak silap “nikahilah oleh kamu 2,3 atau 4 perempuan,dan jika kamu tidak boleh berlaku adil maka cukupilah dengan seorang sahaja”. Maaf ya kalau ayat ini salah aturannya tapi saya yakin ayat ini wujud dalam al-quran.) Jadi saya suka sekali ingin mengambil contoh tentang pengharaman arak yaani minuman yang memabukkan. Saya percaya saudara tentu tahu sekali tentang pengharaman ayat ini. Mengapa arak di HARAMKAN? Mengapa pada zaman nabi s.a.w,minuman yang memabukkan ini di benarkan dan selepas turunnya wahyu Allah,ianya lantas di haramkan? Kita semua harus tahu bahawa semua benda yang di haramkan Allah dan Rasul adalah berkaitan dengan Nafsu juga pengharamannya adalah untuk kebaikan. Berbalik dengan kisah mut’ah tadi, saya berpendapat tiada kebaikkan mut’ah untuk di teruskan di waktu ini kerana kalian sendiri melihat jangan dikatakan hendak bermut’ah sehingga 10 orang isteri, cukup seorang sahaja isteri kita masih belum mampu untuk berlaku adil.
Rasulullah s.a.w sendiri menangis di setiap solat malamnya,antara tangisannya mengenai keadilan dalam beristeri lebih dari seorang!! Nah!, Jika Rasul s.a.w begitu,kenapa kita yang bukan Rasul,yang jauh dari kasih sayangnya amat berani bercerita dan berangan-angan ingin memiliki lebih dari 4 isteri dan sebagainya?? Cuba ya renungkan di malam hari ketika bersujud,mudah -mudahan Allah memberi taufik dan hidayah. JUga saya berharap dengan penuh kasih sayang sesama muslim,janganlah kita mempertikaikan 4 orang sahabat kesayangan Rasul s.a.w kerana dengan bantuan 4 sahabat serta ahlul bayt serta bantuan Allah,Islam tertegak di bumi Allah ini dan kita semua yang mengikuti setiap permasalahan di dalam situs ini bisa bernafas dengan udara yang di pinjamkan Allah s.wt atas perjuangan mereka.

Solla annabi..

——————————————————

Islam Syiah:
Pak, yang berhak menghalalkan dan mengharamkan itu Allah, bukan Rasul, apalagi manusia biasa seperti anda dan saya…itu hak mutlak Ilahi.
Dan kita juga harus tahu bahwa, sewaktu Allah menghalalkan atau mengharamkan itu berdasarkan ilmu Allah yang bersifat Absolut, bukan kira-kira seperti yang anda katakan itu.
Dalam kasus nikah Mut’ah, terbukti bahwa Allah tidak pernah menghapus (naskh) hukum itu, begitu juga dengan penjelasan Rasul atas syariat Ilahi…tetapi sahabat Umarlah yang mengharamkannya berdasarkan pendapat pribadinya…Apakah mungkin hukum Allah akan terhapus dengan pendapat pribadi? Siapapun tidak berhak mengganti hukum Allah, walaupun itu manusia termulia seperti Rasulullah, apalagi manusia biasa. Silahkan direnungkan!

di/pada Desember 29, 2008 pada 6:52 am
syiah tai anjing

syiah hanyalah sederaten tai anjing !!!

—————————————————-

Islam Syiah:
Silahkan kafirkan kami, tapi paling tidak anda juga harus melakukan sesuatu untuk saudara anda di Palestina yang sedang dibantai Zionis (manusia-manusia terkutuk)

di/pada Desember 29, 2008 pada 7:47 am
fachri

Islam Syiah:
Pak, yang berhak menghalalkan dan mengharamkan itu Allah, bukan Rasul, apalagi manusia biasa seperti anda dan saya…itu hak mutlak Ilahi.
Dan kita juga harus tahu bahwa, sewaktu Allah menghalalkan atau mengharamkan itu berdasarkan ilmu Allah yang bersifat Absolut, bukan kira-kira seperti yang anda katakan itu.
Dalam kasus nikah Mut’ah, terbukti bahwa Allah tidak pernah menghapus (naskh) hukum itu, begitu juga dengan penjelasan Rasul atas syariat Ilahi…tetapi sahabat Umarlah yang mengharamkannya berdasarkan pendapat pribadinya…Apakah mungkin hukum Allah akan terhapus dengan pendapat pribadi? Siapapun tidak berhak mengganti hukum Allah, walaupun itu manusia termulia seperti Rasulullah, apalagi manusia biasa. Silahkan direnungkan!

————————————————————————–

berarti kita ga perlu syahadat seperti yg diajarkan oleh rasulullah SAW, karena apa-apa yang diharamkan oleh Allah SWT maka diharamkan oleh rasul-Nya, dan apa-apa yang diharamkan oleh Rasul-Nya allah pun mengharamkannya…

—————————————–

Islam Syiah:
Kesimpulan (konklusi) yang tidak nyambung dengan premisnya. Anda tentu khan ttg fungsi ‘Syahadat’? Saran saya, belajarlah berargumen dengan baik dan logis.

di/pada Januari 4, 2009 pada 10:42 am
kesatria sughani

assalamu’alaikum wr. wb.

secara dalil, memang nikah mut’ah tidak bisa saya nafikan. tetapi banyak orang yang kemudian menyalahgunakan semua itu lantaran nafsu semata, atau bagi wanita adalah untuk mendapatkan uang seperti halnya pekerja seks komersial.

itu terbukti seperti di bandung, seorang wanita bercadar mendatangi seorang dokter kemudian divonis menderita sipilis. ketika ditanya, “anda mengikuti islam syiah ya? tinggalkanlah!” tetapi wanita itu justru marah-marah.

di daerah jakarta selatan, ada yang melakukan itu dan imagenya buruk dan tidak memuliakan wanitanya meski wanitanya jadi kaya.

lalu bagaimana kita memandang fakta itu? apakah kita akan menutup mata dengan kembali pada hukum mutah yang diyakini kebenarannya tanpa merujuk berdasarkan nilai moral?

————————————————

Islam Syiah:
Alaikumsalam Wr Wb
Pertama, saya pernah mengecek kebenaran kisah2 yang anda sebutkan itu, dan ternyata itu hanya bikinan dan tidak ada realitanya, sengaja dibikin untuk menjatuhkan Syiah.
Kalaulah benar, apakah sipilis itu mesti diidap oleh pengobral nafsu? Ternyata jawabannya tidak. Jika anda kencing sembarangan pun bisa teridap penyakit itu, karena loncatan virus. Ini telah terbukti secara medis. Begitu juga HIV yang penularannya bukan hanya karena hubungan seksual saja. Anda tahu itu bukan?

Kedua, penyimpangan yang mungkin saja terjadi dikarenakan pelaku tidak melakukannya sesuai prosedur yang telah ditentukan oleh Islam. Karena kita yakini, jika Islam membolehkan (baca: mensyariatkan) sesuatu maka disitu terdapat hikmah yang besar, selama dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan oleh Allah. Jika tidak maka bukan hanya membikin petaka di masyarakat, juga mengakibatkan murka Ilahi. Jadi harus dibedakan antara hukum dan prosedur Ilahi dengan penyimpangan oknum.

Ketiga, kalaulah ada penyimpangan, maka apakah itu lantas meniscayakan pengharaman, sebagaimana banyak dalam kasus nikah daim (nikah biasa) juga terdapat penyimpangan, seperti kawin-cerai sampai puluhan kali dalam jangka waktu setahun umpamanya? Begitu juga pada kasus2 hukum2 agama lainnya, seperti perceraian, pengumpulan zakat, poligami (spt menelantarkan istri tua), dst.

di/pada Januari 7, 2009 pada 5:18 pm
pahry

Islam Syiah:
“Dalam kasus nikah Mut’ah, terbukti bahwa Allah tidak pernah menghapus (naskh) hukum itu, begitu juga dengan penjelasan Rasul atas syariat Ilahi…”

bung, bisa nggak bantu saya, di nash qur’an yang mana tentang kebolehan nikah mut`ah…..?
please

————————————-

Islam Syiah:
Silahkan ditelaah kembali rujukan-rujukan yang ada dalam tulisan di atas, yang kesemuanya bersumber dari al-Quran maupu hadis dan riwayat dari kitab-kitab standart Ahlusunah sendiri.

di/pada Januari 7, 2009 pada 5:39 pm
pahry

maksud saya, kalimat mana yang dianggap memiliki makna nikah mut’ah dalam surat an-nisa’ ayat 24 itu…

——————————————

Islam Syiah:
1- Pengunaan kata istimta’ berkaitan dengan wanita-wanita itu.
2- Penggunaan ujrah yang berarti bayaran, bukan mahar sebagaimana kawin biasa.
3- Penafsiran banyak ahli tafsir (plus berdasarkan hadis dan riwayat para sahabat), sebagaimana yang tertulis dalam tulisan di atas.

di/pada Januari 7, 2009 pada 6:47 pm
pahry

sebab, jika yang dimaksud adalah kata istamta’a, maka pendapat mas agus, menurut saya lebih tepat.
sebagaimana dikatakannya:
kata “istamta’a bih” sama sekali tidak merujuk kepada kata “mut’ah”, karena kedua kata itu sangat berbeda arti:
istamta’a bih berarti menikmati, mendapat kesenangan dari …, (diambil dari Aqrab Al Mawrid)

kata mut’ah lebih diartikan sebagai pernikahan sementara.

sehingga terjemahan dari “istamta’a bih” tidak ada sangkut pautnya dengan kata “mut’ah”.

kenapa saya katakan pendapat mas agus lebih tepat…?
mau tau nggak…?

hehe…
kalau anda lebih teliti melihat ayatnya, maka anda akan mengetahuinya…
biarlah anda sendiri yang mencari kebenaran itu..

pesan terakhir utk hari ini adalah: nggak usahlah anda pakai kitab2 tafsir ahli sunnah, sebab bukankah anda tidak meyakini kebenarannya…

—————————————————

Islam Syiah:
Kalau kita hanya bertumpu pada kajian philologi maka kata istimta’, mut’ah atau tamattu’ berasal dari kata yang satu ma-ta-a’ yang berarti kesenangan atau kenikmatan. Istimta’ berarti mencari kesenangan, mut’ah berarti senang/nikmat dan tamattu’ berarti bersenang-senang. Itu dari segi bahasa.

Tapi penafsiran ayat al-Quran tidak dapat bertumpu pada sekedar kajian bahasa saja bukan? Kembali kepada penafsiran para ulama anda sendiri yang mengartikan ayat itu –dimana ada kata istimta’- sebagai nikah mut’ah, berdasarkan asabab nuzul (sebab-sebab turunnya ayat) dan penjelasan Rasul maupun banyak sahabat beliau. Di sini anda tidak akan mampu lari dari kenyataan bahwa ayat itu turun untuk nikah mut’ah. Adapun apakah telah diharamkan (dihapus validitas ayatnya) atau tidak maka silahkan baca lagi tulisan di atas dengan baik dan teliti…silahkan mencoba!?

Tidak meyakini kebenarannya? Hatta anda tidak meyakini kebenaran Injil umpamanya apakah sewaktu di Injil ada pelarangan berzina maka lantas tetap anda ingkari, padahal itu juga sesuai dengan ajaran Islam? Saya menggunakan dalil anda agar anda memahami bahwa ternyata kitab anda juga mengatakan sebagaimana apa yang diyakini Syiah, bahwa bukan Rasul yang mengharamkan nikah Mut’ah, tapi orang biasa seperti anda dan saya. Itu pengakuannya sendiri koq, gak percaya, silahkan cek rujukan yang sudah kami berikan. Itulah kitab anda yang berbicara! Kalau kami memakai kitab Syiah, pasti anda tidak akan menerimanya bukan?

di/pada Januari 8, 2009 pada 8:40 am
ya2n

Syiah……….syiah coba saudara mengunakan logika jangan terhayut dengan dokrin dokrin yang ada, karena logika salah satu nikmat Allah yang membedakan manusia dengan mahluk lainya (binatang)

——————————————

Islam Syiah:
Doktrin? Silahkan anda perhatikan kembali tulisan di atas, apakah berdasarkan doktrin tak berdalil ataukah sebaliknya, berdalil dengan kitab anda sendiri? Berbicara ttg logika, logikamana yang anda inginkan? Silahkan sebutkan mana argumen di atas yang tidak sesuai dengan kaedah-kaedah logika sepanjang yang anda ketahui?

di/pada Januari 12, 2009 pada 12:28 pm
iyan

assalam…
jika anda berpendapat: “Islam Syiah:
Pak, yang berhak menghalalkan dan mengharamkan itu Allah, bukan Rasul, apalagi manusia biasa seperti anda dan saya…itu hak mutlak Ilahi”

trus apa fungsinya Allah menurunkan para rasul dan nabi di muka bumi

mungkin kita harus meninjau kembali dihalalkannya nikah mut’ah waktu zaman nabi -yang kemudian diharamkan-

——————————————

Islam Syiah:
Allah mengutus para nabi/rasul hanya untuk penyampai syariat, bukan pembuat syariat. Ini sangat jelas sekali buat yang sering membaca al-Quran.

Semua ahli tafsir -bahkan ulama Islam secara umum- sepakat bahwa nikah mut’ah pernah dihalalkan. Lantas kapan dan siapa yang mengharamkan? Ini terjadiperbedaan pendapat. Yang mengatakan bahwa Rasul dan di zaman Rasul-lah diharamkan, ini akan terbentur dalam banyak kontradiksi dalam penetapan dan berargumennya. Sementara, banyak dalil yang menjelaskan bahwa sahabat Umar-lah yang mengharamkan, termasuk pengakuannya sendiri seperti yang telah dicantumkan dalam artikel di atas..

di/pada Januari 13, 2009 pada 3:43 pm
putri

Assalamualaikum wr.wb.
Saya masih awam ttg syiah tapi saya tertarik karena logis.
Bisakah saya konsultasi ttg nikah mut’ah? Bagaimana syari’ahnya?
Saya sedang menjalin hubungan dgn seorang pria dan seperti dijelaskan di atas, ada saat2 kami bicara/pergi berdua dalam rangka mengenal satu sama lain.
Saya tidak ingin melakukan hal2 yg diharamkan, jadi saya harus bagaimana?
Adakah perbedaan dalam pelaksanaan nikah mut’ah bagi gadis dan janda?
Betulkah Islam membolehkan poliandri?
Terima kasih ats jawaban2nya.

———————————————

Islam Syiah:
Waalaikumsalam Wr Wb
Silahkan pelajari semua mazhab dalam Islam, termasuk Syiah, karena semakin anda mengenal banyak agama dan mazhab maka anda akan semakin berpikir terbuka dan berwawasan luas. Hanya saja, saran saya, pelajarilah juga dari si pemilik agama dan mazhab secara langsung, baik langsung kontak person maupun karya2 mereka, jangan hanya cukup informasi dari pihak luar.

Silahkan jika anda ingin berkonsultasi. Terserah, mau di sini (blog) ataupun JAPRI via e-mail. Adapun tentang legalitasnya, anda bisa baca sendiri di sini, hingga saat ini tidak ada argument yang kuat dalam pengharamannya melalui lisan suci Rasul, secara konkrit. Adapun tata caranya, tidak jauh beda dengan nikah biasa, walupun terdapat perbedaan sedikit, termasuk adanya penentuan jangka waktu pada nikah mut’ah.

Dalam Islam, tidak ada istilah pacaran (perkenalan secara pribadi tanpa ikatan pernikahan) yang sering dipraktikkan oleh masyarakat. Namun di sisi lain, hampir mustahil nikah tanpa perkenalan sebelumnya, terkhusus berbicara dari ati ke hati yang hanya melibatkan dua orang saja. Dan Islam harus memberi solusinya. Nikah mut’ah adalah solusi terbaik dalam hal ini.

Dalam nikah mut’ah, pihak perempuan bisa memberi syarat -sewaktu akad nikah- kepada pihak lelaki untuk tdk melakukan hubungan selayaknya suami-istri, hanya sekedar ngobrol-ngobrol saja. Ini juga salah satu perbedaan antara nikah mut’ah dengan nikah biasa (da’im), adanya syarat untuk tidak berubungan intim. Jadi saran saya, untuk perkenalan dengan pasangan anda, lebih baik anda menikah dengan akad mut’ah, tetapi dengan syarat tanpa ada hubungan intim dengan bentuk apapun. Dengan begitu, anda bisa terbebas dari dosa pacaran yang tanpa ikatan, selain anda juga tetap terjaga dari ‘kemungkinan buruk’ pra nikah da’im.

Perbedaan bagi seorang gadis dan janda, antara nikah da’im dan mut’ah sama, yaitu untuk gadis HARUS dengan izin wali yang dalam mazhab Syiah adalah ayah, kakek dari ayah, buyut dari ayah dst. Namun jika status perempuan itu janda maka tidak disyaratkan untuk izin wali. Itu hukum aslinya (hukum primer). Namun perlu diingat bahwa, untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan -apalagi kita sebagai orang timur yang halus tata krama- dan jangan sampai berbenturan dengan adat istiadat setempat, maka tidak ada salahnya kita juga meminta izin ibu atau pribadi yang dekat lainnya.

Dalam Islam, dari mazhab manapun, tidak pernah mengizinkan seorang perempuan untuk berpraktik polyandri. Hanya oknum-oknum yang mengatasnamakan Islam akan tetapi mengusung bendera kebebasan ala Barat (Liberal) yang ingin membikin syariat sendiri saja yang berusaha melegalkannya.

Itu saja jawaban saya yang ringkasnya. Jika anda ingin lebih banyak berkonsultasi, terkhusus mengenai tata cara nikah mut’ah yang lebih praktis maka silahkan lontarkan di sini (tanpa perlu saya moderasi), dan akan saya jawab via e-mail ke e-mail anda.

di/pada Januari 19, 2009 pada 3:49 am
Abu Fatih

Assalamuaikum Wr. Wb.
Tingggalkan yang remang-remang alias nikah Mut’ah

———————————————

Islam Syiah:
Waalaikumsalam
Bagaimana anda menyarankan sesuatu yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasul? Bukankah itu yang namanya Bid’ah?
Saran saya; “Sarankanlah, janganlah kalian menyalahgunakan penghalalan Mut’ah, sebagaimana janganlah kalian menyalahgunakan legalitas Poligami!”

di/pada Januari 20, 2009 pada 6:08 am
kesatria sughani

Assalamu’alaikum
terima kasih.

namun jika ada dilema begini:

1. katakanlah orang yang menikah mut’ah di usia muda, kemudian berjanji untuk tidak melakukan aktifitas seksual dalam bentuk apapun, namun, kalau pada praktiknya, mereka tidak kuasa sehingga akhirnya melakukannya, apakah itu dihitung zina mengingat mereka tidak menepati janjinya?

2. di QS. Al-Mukminun Allah berfirman, “Yaitu mereka yang memelihara kemaluannya, kecuali kepada istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, barangsiapa yang mencari dibalik dari itu, maka mereka melampaui batas.”

dalam hal ini, saya berfikir bahwa ini juga mencangkup istri-istri mut’ah, lalu apakah yang dimaksud memelihara kemaluan itu sebatas hubungan seks mengingat di nikah mut’ah dapat menggunakan perjanjian untuk tidak melakukan ini?

Catatan: pertanyaan ini dalam rangka memahami.

————————————————–

Islam Syiah:
Waalaikumsalam
Pertanyaan yang bagus…
Jawaban dari keumgkinan-kemungkinan (postulat) itu sudah dijawab oleh para Marja’ Syiah Imamiah Istna Syariyah (Jakfary) di dalam buku-buku ‘Kumpulan Fatwa’ (risalah amaliyah) mereka. Di sini, saya akan menjawab sesuai dengan fatwa Imam Khumaini ra. Beliau dalam karyanya yang berjudul ‘Tahrir Wasilah’ pada kitab Nikah, dan pada kajian ttg ‘Syarat-syarat dalam nikah’ di masalah ketiga menyatakan bahwa; Jika terdapat syarat dalam nikah maka syarat tersebut harus dijalankan (selama tidak bertentangan dengan syariat, sebagaimana yang disinggung dalam masalah kedua). Namun, jika ditengah-tengan pernikahan terdapat kesepakatan antara kedua pasangan maka, diperbolehkan untuk membatalkan (meninggalkan) syarat tersebut. Dan tidak ada bedanya antara nikah Da’im ataupun nikah Mut’ah. Ini adalah kesimpulan dari fatwa beliau. Jadi, pada prinsipnya, pemberian syarat diperbolehkan. Namun melanggar syarat dalam nikah pun diperbolehkan selama ada kesepakatan untuk menghapusnya. Jika tidak ada kesepakatan maka hukumnya tetap, HARUS dijalankan.

Namun, jika nikah Mut’ah itu bertujuan untuk pengenalan (baca: pacaran) dan status perempuan adalah perawan (gadis) maka untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan negatif yang dapat merugikan pihak perempuan maka selayaknya pihak perempuan tidak memberi izin pihak lelaki untuk melanggar syarat tersebut. Sekali lagi, demi kemaslahatan perempuan.

Mengenai pertanyaan kedua. Jelas bahwa seorang muslim/mukmin harus menjaga kemaluannya dari yang diharamkan oleh Allah. Adapun maksud dari kata ‘maa malakat aimaan’ adalah budak yang dimilikinya. Sementara sekarang ini sistem perbudakan tidak lagi dapat diterapkan, karena syarat-syarat tertentu yang tidak terpenuhi, ini versi Syiah. Adapun masalah istri-istri dalam ayat itu, lebih umum dari istri Da’im. Karena hubungan antara lelaki dan perempuan dengan akad nikah Mut’ah pun tergolong perkawinan yang meniscayakan perempuan menjadi istrinya. Jadi, menjaga kamaluan dari yang diharamkan oleh Allah adalah hukumnya WAJIB, dan dihalalkan kepada budak dan istri-istri, baik dari nikah Da’im maupun Mut’ah. Jika tidak, dan jika penghalalan khusus pada nikah Da’im saja, maka pertama; berarti Mut’ah bukan nikah, dan ini bertentangan dengan argumen di artikel di atas. Kedua; pertama kali yang membolehkan dan melanggar ayat di atas adalah Rasuldan sahabat-sahabat mulia Rasul, karena mereka melakukan nikah Mut’ah dan berhubungan dengan istri-istri Mut’ahan mereka. Apakah mungkin Rasul beserta sahabat melanggar perintah al-Quran untuk menjaga kemaluan mereka, bahkan melakukan Zina? Naudzubillah min dzalik

Jadi ayat di atas tidak mungkin dipakai untuk dalil pengharaman nikah Mut’ah, dengan alasan menjaga kemaluaan. Karena nikah Mut’ah adalah nikah (bukan diluar nikah yang berhubungan dengan perempuan hasil mut’ah berarti zina) yang meniscayakan pelakunya memiliki hubungan suami-istri yang syah (legal secara syar’i). Apalagi kalau nikah Mut’ah itu dilakukan hanya untuk penghalalan sekedar ngobrol-ngobrol saja, tidak lebih….

di/pada Januari 23, 2009 pada 7:47 pm
abu tholib

assalamualaikum.wr.wb
syukron atas penjelasannya…
sekarang saya jadi tau apa itu nikah mu’tah
semasa kuliah hingga sekarang saya begitu anti dengan ni’kah mu’tah ini…
namun begitu saya membaca blog ini..
saya jadi paham.

di/pada Januari 29, 2009 pada 3:52 am
mr.dayson

ass. wr wb
dalam ayat 24 surat An Nisaa’ istilah ujrah itu diterjemahkan dengan mahar menurut terjemahan Dep. Agama. Sedangkan dalam segi bahasa ujrah itu artinya upah. Nah, pertama, yang saya tanyakan dalam segi bahasa apa bedanya mahar dan ujrah itu ?

yang kedua, apakah sama prosedur akad nikah mut’ah dengan nikah da’im

wassalam

—————————————–

Waalaikumsalam

1- Dalam memahami penafsiran ayat hukum, kita tidak boleh berpegangan kepada terjemahan versi DEPAG yang syarat dengan kesalahan penerjemahan, terkhusus berkaitan dengan penggunaan kata yang kurang tepat dan tidak sesuai dengan redaksi al-Quran. Jadi perlu kepada kamus “Mufradat al-Quran” (Pilologi kosa kata al-Quran), minimnya.

2- Tentu, disaat ada dua hal yang berbeda (seperti terdapat dua jenis nikah; Da
im dan Mut’ah) maka mesti meniscayakan perbedaan. Perbedaan yang prinsip adalah;
a- Terdapat penentuan jangka waktu.
b- Tidak ada kewajiban memberi nafkah, baik zahir maupun batin.
c- Tidak ada saling mewarisi antar pasangan.
Namun dari sisi-sisi yang lain, prosedur nikah ini adalah sama.

di/pada Februari 3, 2009 pada 9:25 am
The Four C

@ syiah tai anjing

Kalau memang anda dan mazhab anda kelimpungan dan bangkrut dalil manghadapi argumen blog ini, alangkah terpujnya bila anda santun. Sikap anda apakah mencerminkan watak mazhab anda? Bila begitu cara penyampaian anda, maka dapat kita yakini bahwa MAZHAB ANDA BUKAN BAGIAN DARI ISLAM. Kalau demikian alangkah indahnya mazhab Syiah dalam berargumen dan tentu dapat mewakili Islam secara kaffah.

di/pada Februari 3, 2009 pada 10:08 am
kesatria sughani

ada lagi,

1. saya pernah membaca buku yang ditulis Husein* al Musawi, terbitan Al-Kautsar, dia mengatakan pernah pergi bersama Imam Khomeini ke sebuah rumah seseorang dan ketika malam, Imam Khomeini tertarik kepada anak gadis pemilik rumah yang masih kecil karena kecantikannnya kemudian meminta mut’ah. maka akadpun dilaksanakan dan Husein al Musawi pada saat itu mendengar teriakan sakit dari si anak gadis itu sehingga pagi harinya ia menunjukkan ketidaksukaannya kepada Imam Khomeini. imam kemudian menangkap ketidaksukaan itu kemudian menjelaskan bahwa anak kecil itu boleh dimut’ah namun ‘hal itu’ tidak boleh dilakukan.

apakah kabar ini benar?

kalau memang benar, sisi baik dari mut’ah jenis ini apa?

*nama penulisnya agak lupa, sepertinya Husein, karena saya banyak mendapati nama yang berujung pada Musawi yang kemudian tidak setuju dengan beberapa pemikiran syiah.

2. saya membaca buku fiqh dewasa, buku syiah juga, penulisnya… sya lupa, di sana ada penjelasan bahwa Mut’ah tidak boleh dilakukan jika hal itu membuat istri daim kita terzalimi, atau tidak setuju, atau cenderung jadi menafikan kebenaran islam. itu artinya Mut’ah pada situasi tertentu dilarang? lalu menurut Islamsyiah, hal-hal apa saja yang menjadikan tidak bolehnya melakukan mut’ah?

3. Setujukah anda bahwa tidak semua orang diperbolehkan mut’ah?

di/pada Februari 4, 2009 pada 8:39 am
warna2cinta

Seandainya kita nikah mut’ah untuk 1 hari atau kurang dr itu boleh gk?Adakah batasan wktù nikah mùt’ah?

—————————————–

Islam Syiah:
Tidak ada, tergantung kesepakatan kedua belah pihak. Umpamanya, bagi seorang dokter yang ingin memeriksa bagian dalam wanita (tentu yang bukan bersuami) dan pemeriksaan itu tidak terlalu urgen (dharurat, meniscayakan boleh dalam syariat Islam) maka ia bisa mengakad mut’ah pasiennya hanya untuk 1/2 jam saja, atau bahkan kurang dari itu. Ini sekedar contoh kasus saja.

di/pada Februari 13, 2009 pada 1:04 pm
kesatria sughani

Mohon maaf, pertanyaan saya kok tdk dijawab?

alangkah mudah untuk mempercayai syariat, tetapi akan lebih sulit untuk dapat meyakininya. saya berharap benar-benar mendapat titik terang di mana sesuatu akan benar-benar tidak tersamar. penulis Intisari Islam (… Bahesyti) penerbit lentera, mengatakan bahwa pernikahan yang ideal adalah pernikahan monogami, namun karena kondisi-kondisi tertentu menuntut seseorang untuk melakukan poligami maka seorang muslim dapat melakukan poligami itu, dan tentang nikah mutah, beliau menjelaskan tentang nikah mut’ah ditinjau dari permasalahan remaja dan beliau tidak membahas nikah mut’ah jenis lain. hal ini jadi memunculkan pertanyaan kepada saya, apakah nikah mut’ah memiliki kebolehan pada kondisi yang tertentu atau dibolehkan selama ada akad antara pria dan wanita pelaku mutah (kalau masih gadis dengan orang tuanya)?

kalau memang pilihan kedua yang menjadi aturannya, mengapa syariat itu dimunculkan saat genting atau saat kondisi berdilema yaitu saat masa perang. sementara syariat nikah daim yaitu diturunkan saat di madinah dan dalam kondisi tidak segenting turunnya syariat mut’ah, saya jadi sempat berfikir bahwa syariat nikah mut’ah memang diberikan untuk masa-masa tertentu. mohon komentarnya.

———————————————————-

Islam Syiah:
Dari pertanyaan anda, terdapat dua pokok permasalahan;
1- Asal muasal penghalalan Mut’ah
2- Batas waktu penghalalan Mut’ah

Memang, asal pensyariatan suatu hukum seringnya -bukan selalunya- diawali dengan fenomena tertentu. Ini yang biasa disebut dengan asbabul wurud al-hukum (sebab kemunculan hukum). Namun, pada masalah yang kedua, sampai kapan hukum syariat itu diberlakukan. Ini kembali kepada kesepakatan para ulama Islam yang menyatakan: “penghalalan (syariat) Muhammad hingga akhir zaman, begitu pula dengan pengharamannya”. Mut’ah pun termasuk dalam bagian ini. Kita coba membaca kembali apakah Rasul pernah menghapus hukum nikah Mut’ah hingga akhir hayat beliau?

di/pada Februari 16, 2009 pada 12:33 pm
Yudith

Saya dari Mazhab Sunni,setelah saya baca artikel ini dan juga baca hadits bukhari maka saya katakan sebenarnya nikah mut’ah telah diharamkan bersamaan haramnya memakan daging keledai,jadi apabila syi’ah ingin memperselisihkannya silakan saja,karena seperti kita ketahui bersama Syiah tak bisa menerima Hadits dari Sunni maupun sebaliknya. Hal tersebut disebabkan Syiah tak mau menerima Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakr,Umar,dll selain Ali

——————————————

Islam Syiah:
Anda baca lagi di buku hadis muslim yang disinggung dalam tulisan di atas, bagaimana pendapat dan ungkapan beberapa sahabat tentang pelarangan Mutah?

Kita (Syiah) kadang berdalil dengan kitab anda sebagai bukti bahwa;
1- keyakinan kami ada dan disinggung juga dalam kitab-kitab anda.
2- ulama anda -disadari atau tidak- telah membenarkan keyakinan kami, yang mungkin dalam beberapa hal tidak sesuai dengan keyakinan mereka.
3- kitab-kitab anda (sunni) tidak serta merta kami tolak karena kesunnian anda. Sunni menurut Syiah bukan kafir sehingga dengan serta merta harus diisolir. Tolok ukur kebenaran hadis (baik dalam kitab Sunni ataupun Syiah) adalah Al-Quran, kitab suci yang tidak bakal terkena polusi dalam bentuk apapun.

di/pada Februari 16, 2009 pada 12:37 pm
Yudith

Dasar Agama Sunni dan Syi’ah sudah berbeda,jadi saya rasa Sunni-Syi’ah tak akan bisa bersatu

——————————————————-

Islam Syiah:
Jangan salah antara penggunaan kata ‘agama’ dan ‘keberagamaan’. Tidak ada dalam sejarah agama yang bernama agama Sunni ataupun agama Syiah. Yang ada adalah agama Islam dari mazhab Sunni atau mazhab Syiah.

Masalah persatuan. Jika yang anda maksud dari persatuan adalah ‘peleburan’ maka itu mustahil, sebagaimana antara mazhab-mazhab dalam tubuh Sunni sendiri peleburan juga mustahil. Namun jika yang dimaksud persatuan adalah saling tenggangrasa dan hidup rukun dan damai, kenapa tidak? Dengan pemeluk agama lain saja Rasul telah mengajarkan persatuan dalam arti tenggangrasa koq, kenapa dengan sesama muslim tidak bisa yang hanya berbeda mazhab saja?

di/pada Februari 19, 2009 pada 1:34 pm
kesatria sughani

assalamu’alaikum,

kalau tidak salah, sebelumnya ada pertanyaan saya… kok hilang? ada apa ini?

—————————————-

Islam Syiah:
Waalaikumsalam
Tidak hilang mas….karena belom dimoderasi. Perlu diketahui, kami akan memoderasi di saat akan memasukkan tulisan baru. Selain itu, setiap komentar yang ada akan terpending dengan sendirinya, karena kami tidak membuka internet setiap hari.

di/pada Februari 19, 2009 pada 1:35 pm
kesatria sughani

kalau dalam rangka modernisasi, saya tunggu yaa…

di/pada Februari 23, 2009 pada 3:02 am
anna

saya trtarik dengan pembahasan ini dan saya igin bertanya

1. Apa perbedaan antara nikah sirri dan mut’ah?
2. Ketika seseorang memutuskan untuk ber mut’ah dan ia ingin melanjutkan dengan nikah da’im bgmana hukumnya? dan bagaimana dengan sisa wkt yang masih ada dlm perjanjian mut’ahnya?
3. Bagaimana cara nikah mut’ah itu sendiri? apakah akadnya HARUS dan WAJIB dengan menggunakan bhs. Arab? atau boleh dengan menggunakan redaksi bhsnya sendiri?

sy sangt tertarik dengan pembahasan ini mengingat zaman yang seperti saat ini sangatlah rentan bagi siapa saja untuk dapat melakukan hal-hal yanng diharamkan oleh agama.
nah..dengan mengenal dan mengetahui ajaran yang ada dlm aga ini smg dpt menambah perbendaharaan ilmu sy dan dpt mempertebal iman sy shg tdk mudah terpengaruh oleh DUNIA.

—————————————————

Islam Syiah:
Sebagaimana namanya, nikah Sirri itu adalah nikah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Dalam arti, nikah yang dilakukan tanpa tercatat di KUA. Namun jenis akadnya biasanya sama seperti nikah daim (bikah permanen), bukan nikah mut’ah. Walaupun bisa saja nikah sirri tetapi akad nikahnya menggunakan akad nikah mut’ah, walaupun nikah mut’ah sendiri tidak akan diakui oleh KUA, maka dengan sendirinya nikah mut’ah itu sendiri sudah sirri. Adapun kenapa nikah mut’ah tidak diakui oleh KUA, tentu anda tau sendiri penyebabnya.

Bisa, perpindahan dari nikah mut’ah ke nikah daim secara langsung. Kalau jangka waktunya (nikah mut’ah) masih tersisa maka pihak lelaki bisa menghadiahkannya (hibah) ke pihak perempuan, sehingga dengan sendirinya terputus nikah mut’ahnya. Si lelaki hanya tinggal mengatakan: “Aku hibahkan waktu yang tersisa kepadamu”. Lantas si lelaki kembali berakad dengan akad nikah daim. Mungkin anda bertanya, bagaimana dengan masa iddah si perempuan seusai nikah mut’ah? Dalam fikih Ahlul Bait dinyatakan, jika pelakunya (dari nikah mut’ah ke nikah daim) adalah lelaki sama (bukan lelaki lain) maka tidak perlu iddah. Namun jika lelakinya lain maka perlu iddah, kalau sudah berhubungan badan. Namun jika tidak pernah berhubungan badan maka tidak perlu iddah, walaupun berlainan lelaki.

Perbedaan antara akad nikah mut’ah dan nikah daim adalah dari sisi penentuan jangka waktu saja. Kalau nikah mut’ah harus menyebutkan jangka waktu, sedang nikah daim tidak. Jika seseorang melakukan nikah mut’ah dan lupa atau sengaja tidak menyebut jangka waktu maka jatuhnya hukum nikah daim. Secara hukum aslinya, dalam fikih Ahlul Bait, penggunaan bahasa Arab diharuskan. Jika tidak bisa maka bisa menggunakan teks yang dibaca, tentu dengan dipahami terlebih dahulu maksudnya (dengan proses penerjemahan). Jika tidak bisa membaca huruf bahasa Arab, maka kalimat perkalimat bisa ditulis dengan tulisan latin. Jika tidak bisa membaca maka bisa dituntun. Jika itupun tidak bisa juga maka bisa diwakilkan. Jika tidak ada yang bisa diwakilkan maka baru bisa dengan bahasa sendiri, dengan tidak merubah kandungan akad nikah mut’ah.

Pada prinsipnya, kurang lebih arti dan kandngan akad nikah mut’ah sebagai berikut:
Pihak perempuan mengatakan: “Aku nikahkan diriku kepadamu dengan mahar …. dengan jangka waktu ….(bisa ditambahkan syarat di sini, seperti hanya untuk perkenalan (pacaran) saja, tidak lebih)”. Maka pihak lelaki menjawab: “Aku terima…..”.

di/pada Februari 28, 2009 pada 10:28 am
kesatria sughani

saya tidak mendapati kesepakatan ulama dalam hal kapan berlakunya dan siapa yang mengharamkan mut’ah.

satu sisi mengatakan dengan bangganya bahwa Umarlah yang mengharamkannya, namun pada redaksi hadits yang lain, dikatakan bahwa Nabilah yang mengharamkannya hingga hari kiamat. saya juga pernah membaca bahwa mereka memang tidak ada kesepakatan, ada yang bilang, bahwa dulu nikah jenis ini pernah diharamkan, dihalalkan kemudian diharamkan lagi hingga hari kiamat.

saya pernah membaca penjelasan dari ali Umar al Habsyi mengenai hal larangan nabi ini yang diriwayatkan oleh Ali bin Abuthalib, dan dia membenarkan bahwa Rasul tidak mengharamkannya, melainkan supaya para sahabat merelakan waktu yang tersisadan segera meninggalkan istri-istri itu. mungkin ini bisa sedikit membuat saya percaya. tetapi alangkah baiknya jika islamsyiah juga membahas hadits yang menguatkan pengharamkan nikah mut’ah.

lagipula, pembahasannya bukan dari segi itu. saya membaca pembahasan ini yang ditulis oleh M.T. Muddaresi dalam bukunya fikih dewasa, ia mencatat adanya suatu kondisi yang tidak memperbolehkan seseorang untuk melakukan mut’ah. kalau memang demikian, perlulah melalui diskusi ini atau melalui pembahasan yang lain mengenai batasan-batasan pelaksanaan mut’ah. kalau memang menurut islamsyiah tidak ada batasan yang dimaksud (artinya siapapun boleh bermut’ah yang penting melaksanakan akad dan disaksikan oleh saksi lantas bisa bergandengan tangan bahkan melakukan sesuai kesepakatan), maka saya jadi punya pertanyaan baru, di manakah sisi baik dari nikah jenis ini?