Senyuman

Sebuah tulisan yang patut dipajang di blog ini. Sila membacanya:

Negeri sedih kini bertambah sedih. Bencana alam kini kembali terjadi di negeri berpenduduk 200 juta lebih ini. Sebuah tanggul yang menahan aliran air jebol dan menghantam beberapa rumah penduduk. Puluhan jiwa meninggal dunia. Ada yang mengatakan bahwa peristiwa tersebut adalah tsunami kecil-kecilan seperti di Negara tetangga yaitu Indonesia.

Hebatnya, peristiwa itu terjadi pada saat negeri sedih mempersiapkan pesta demokrasi, yaitu ajang untuk memilih para pejabat negara yang akan mengurusi negeri sedih empat tahun ke depan. Bayangkan, betapa para calon pejabat itu dengan giat langsung mendatangi tempat kejadian agar dilihat penduduk yang ditimpa musibah dan dipilih pada saat pemilihan berlangsung dengan alasan sederhana, calon itu adalah yang telah menolongku ketika ditimpa bencana.

Ya, di negeri mimpi cara untuk merayu para masyarakat agar dirinya dipilih untuk menjadi pejabat negeri ini memang beragam. Mulai dari cara yang telah diceritakan diatas, yaitu dengan membantu masyarakat miskin, baik terang-terangan dengan terjun kelapangan, mendirikan stand-stand partai, memberikan bantuan sembako, pakaian, dan kata-kata bijak, sampai pada cara basi yaitu dengan memasang foto-foto mereka di tepi-tepi jalan, di tiang listrik, dipagar rumah tetangga, dan dimanapun yang memungkinkan, akan dipasang. Sampai-sampai, ada yang memasang di sepanjang kabel arus listrik. Perjuangan yang benar-benar hebat.

Pertanyaannya, apakah mereka kelak akan dipilih? Belum tentu, karena orang seperti itu jumlahnya bukan satu dua saja. Sebagaimana penerimaan calon pegawai negeri di negara tetangga Indonesia, pemilihan pejabat di negeri sedih jumlahnya berkali-kali lipat dari yang akan dipilih dan mendapatkan tempat. Jika yang terpilih hanya seratus orang, yang mendaftar untuk menjadi pejabat negeri sedih bisa mencapai lima ribu orang. Luar biasa bukan? Tapi itulah yang disebut pesta demokrasi, pesta kebebasan untuk menjabat, pesta ya benar-benar pesta.

Karena itulah, semua calon pejabat harus kreatif dalam memperkenalkan dirinya kepada masyarakat. Karena mereka tahu bahwa masyarakat telah termakan isu jangan membeli kucing didalam karung, mereka, yang merasa diibaratkan kucing tersebut, keluar untuk memperkenalkan dirinya. Tidak berdiam diri didalam karung sampai ada pembeli yang mau membelinya. Tidak. Mereka keluar memperkenalkan diri.

Ada yang door to door, seperti para sales sebuah barang elektronik yang sering mengganggu ketenangan orang lain. Saat jam-jam istirahat, biasanya setelah zuhur, para calon pejabat itu dengan ramah tamahnya, sembari diiringi dengan senyuman manis dan sapaan hangat, mereka mengetuk satu rumah dan perbindah kerumah yang lain. Alasan mereka juga klasik, bersilaturrahmi mempererat persaudaraan. Diakhir silaturrahmi, mereka menyisipkan satu atau beberapa stiker tempelan yang bergambarkan wajah mereka yang sedang senyum. “Mohon Do’a dan Dukungannya” begitulah kira-kira isi kata-kata yang tertera di stiker itu.

Respon masyarakatpun bermacam-macam. Ada masyarakat yang senangnya bukan main ketika didatangi oleh para calon pejabat tersebut. Mereka mengatakan bahwa calon pejabat yang mendatangi rumah warga negara sedih ini adalah calon pejabat yang bekerja keras, lain daripada yang lainnya. Mereka adalah calon-calon pejabat yang menyemangati warga negeri sedih untuk tidak bersedih lagi, ini dapat dibuktikan dengan foto-foto mereka yang tersenyum disamping sebuah semboyan klasik, “Pilih Saya”.

Tetapi, ada juga yang tidak senang bahkan muak dengan semua itu. Mereka mengatakan bahwa calon pejabat adalah manusia-manusia munafik yang mampu tersenyum ditengah-tengah kesedihan negeri sedih. Mereka berbuat baik bukan berdasarkan hati ataupu jiwa social yang ada dalam diri, tetapi agar terpilih menjadi pejabat negeri, mendapat gaji yang besar dengan fasilitas yang luar biasa mewah.

Terlepas dari itu semua, negeri sedih kini semakin sedih. Bencana terjadi dimana-mana

Hari ini, pesta demokrasi negeri sedih dilaksanakan. Hari ini pula hasilnya diumumkan. Para calon pejabat negeri sedih tak sabar menunggu hasil pilihan masyarakat. Terbayang dibenak para calon pejabat itu, gaji besar, rumah mewah lengkap dengan perlengkapan dan fasilitas kantor yang memanjakan. Begitu indah. Tidak heran jika banyak dari warga negeri miskin yang mencalonkan diri untuk menjadi pejabat negeri ini.

Tik… tik… tik…

Detik jam terus berlalu. Membawa perubahan. Pengumuman hasil pemilihan calon pejabat negeri. Hasilnya, tentulah ada yang dipilih dan ada yang tidak. Tetapi, semua calon pejabat itu tetap tersenyum, sebagaimana ketika pemilihan ini belum berlangsung. Seperti di stiker dan baliho-baliho besar yang berada di tepi-tepi jalan. Mereka tetap tersenyum

Masyarakat, dalam memahami senyum tersebut, terbagi dua. Masyarakat yang pertama mengartikan senyum bagi yang terpilih adalah senyum optimisme, senyum percaya pada diri sendiri untuk membangun negeri sedih ini agar tidak sedih lagi. Senyum kebahagiaan. Namun bagi mereka yang tidak terpilih, itu adalah kekuatan mental mereka sebagai calon pejabat. Mereka adalah orang-orang yang kuat, yang walaupun tidak terpilih, mereka tetap senyum, sebagaimana ketika bencana berlangsung, mereka tetap senyum saat masyarakat bersedih.

Masyarakat kedua, mengartikan senyum mereka yang dipilih adalah senyum menertawakan. Kenapa para masyarakan negeri sedih begitu bodoh mau memilih mereka seraya berniat untuk memperkaya diri dan mengambil keuntungan sebesar-besarnya. Mereka juga tersenyum, karena mampu mengalahkan lawan-lawan politik mereka yang mungkin lebih baik dari mereka. Mereka tersenyum, modal yang telah dikeluarkan untuk merayu masyarakat dalam waktu dekat akan kembali dengan ketenaran, fasilitas, dan gaji tinggi.

Bagi mereka yang tidak terpilih, senyum mereka bagai senyuman orang gila yang stress. Modal yang begitu banyak sia-sia dan berujung pada kekalahan. Stress, karena begitu banyaknya warga negeri sedih yang memilih para bajingan tengik negeri sedih sebagai pejabat.