عَنْ جَابِرٍ عَنْ أَبِيْ جَعْفَرٍ (عليه السلام)، قَالَ: قَالَ لِيْ: “يَا جَابِرُ، أَيَكْتَفِيْ مَنْ يَنْتَحِلُ التَشَيُّعَ أَنْ يَقُوْلَ بِحُبِّنَا أَهْلَ الْبَيْتِ؟ فَوَاللهِ، مَا شِيْعَتُنَا إِلاَّ مَنِ اتَّقَى اللهَ و أَطَاعَهُ، وَ مَا كَانُوْا يُعْرَفُوْنَ، يَا جَابِرُ إِلاَّ بِالتَّوَاضُعِ وَ التَّخَشُّعِ وَ اْلأَمَانَةِ وَ كَثْرَةِ ذِكْرِ اللهِ وَ الصَّوْمِ وَ الصَّلاَةِ وَ الْبِرِّ بِالْوَالِدَيْنِ وَ التَّعَاهُدِ لِلْجِيْرَانِ مِنَ الْفُقَرَاءِ وَ أَهْلِ الْمَسْكَنَةِ وَ الْغَارِمِيْنَ وَ اْلأَيْتَامِ وَ صِدْقِ الْحَدِيْثِ وَ تِلاَوَةِ الْقُرْآنِ وَ كَفِّ اْلأَلْسُنِ عَنِ النَّاسِ مِنْ خَيْرٍ، وَ كَانُوْا أُمَنَاءَ عَشَائِرِهِمْ فِيْ اْلأَشْيَاءِ …”

Jabir bin Abdillah al-Anshari meriwayatkan sebuah hadis dari Imam Abu Ja’far (al-Bâqir) as bahwa beliau pernah berpesan kepadanya seraya berkata, “Apakah cukup bagi seseorang yang memeluk Syi’ah untuk mencintai kami Ahlulbait semata? Demi Allah, pengikut kami hanyalah orang yang takut kepada Allah dan menaati-Nya. Mereka hanya dikenal, wahai Jabir dengan kerendahan hati, kekhusyukan, menjaga amanat, selalu mengingat Allah, berpuasa, mengerjakan shalat, berbakti kepada kedua orang tua, menenggang rasa para tetangganya yang fakir-miskin, berutang dan yatim, berbicara jujur, membaca al-Qur’an, dan menyetop mulutnya dari membicarakan orang lain kecuali dalam kebaikan. Dan mereka adalah tempat kepercayaan keluarga dan familinya dalam segala sesuatu …”. (Al-Kâfî, jilid 2, hal.74)

Sudah menjadi satu hal yang lumrah bahwa setiap sekte, perkumpulan, organisasi, partai, badan-badan pemerintahan di dunia menentukan beberapa kriteria dan ketentuan khusus yang harus dimiliki dan ditaati oleh orang-orang yang berada di dalam semua bentuk badan resmi maupun tidak resmi itu. Jika tidak, mereka tidak dianggap sebagai orang yang layak menyandangkan nama organisasi atau sekte tertentu di dada. Misalnya, dalam badan kemiliteran, seseorang dapat dianggap sebagai anggota militer yang sejati jika ia menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa dan tanah air. Di luar itu, ia tidak dikatakan sebagai anggota militer sejati. NU memiliki persyaratan-persayaratan tertentu sehingga seseorang yang mematuhi dan memenuhi semua persyaratan tersebut, ia dapat dianggap sebagai anggota NU yang sejati. Begitu juga dengan Muhammadiyah.

Dalam hadis singkat di atas, Imam Muhammad al-Bâqir as telah menentukan beberapa kriteria dan karakter yang harus dimiliki oleh seorang yang mengatakan dirinya pengikut Ahlulbait as (Syi’ah). Kriteria dan karakter-karakter tersebut adalah:

a. Takut kepada Allah, menaati segala perintah dan mejauhi segala larangan-Nya.

b. Kerendahan hati (tawâdhu’).

c. Keskhusyukan (takhasysyu’).

d. Memegang amanat.

e. Selalu mengingat Allah.

f. Berpuasa.

g. Mengerjakan shalat.

h. Berbakti kepada kedua orang tua.

i. Menenggang rasa tetangga yang fakir-miskin, berutang dan yatim.

j. Berbicara benar.

k. Membaca al-Qur’an.

l. Menyetop mulutnya dari membicarakan orang lain kecuali dalam kebaikan.

m. Menjadi kepercayaan keluarga dan familinya dalam segala sesuatu.

Tentunya, semua kriteria dan karakter tersebut tidak mewakili seluruh kriteria yang harus dimiliki oleh seorang Syi’ah. Hal ini mengingat Imam Bâqir as berbicara sesuai dengan kemampuan pendengar dan kondisi yang memungkinkan saat itu. Meskipun demikian, karakter dan kriteria yang telah disebutkan di atas sudah mewakili untuk seseorang menjadi pengikut Ahlulbait as yang setia. Semoga Allah senantiasa membantu kita menjadi pengikut mereka yang setia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Amin!