Tidak ada wujud kecuali Tuhan

Manusia telah terbiasa dengan konsepsi “ada”. Bagi manusia, “ada” adalah sebuah kata yang given dan tak perlu lagi diperdebatkan (Kecuali orang-orang Posmo yang meragukan keberadaan diri mereka sendiri). “Ada” bagi sebagian orang adalah keadaan dimana wujud fisik mengejawantahkan dirinya melalui persepsi inderawi. Ia “ada” karena dapat dilihat, dicium, diraba, dicecap.

Well, tahukah Anda ironi terbesar dari alam “ada” ini? Bahwa ia sesungguhnya tiada…

Benda kayu (mis. meja) yang Anda pegang sebenarnya hanya perubahan dalam medan energi. Ia menjadi padat bukan karena ia benar-benar “padat”, tetapi karena elektron di tangan Anda mendapat tahanan dari elektron di atom-atom meja itu. Seberapa padat kah padat itu? Perhatikan berapa besar elektron dibanding diameter atom: elektron hanya se-perseratusribu atom, demikian juga inti atom. Perbandingan antara ukuran atom dengan ukuran inti atom adalah bagaikan sebutir pasir di dalam sebuah kamar ukuran 2×3×2 m. Selebihnya adalah ruang kosong. Ya…Kosong….Mutlak kosong.

Bagaimana dengan inti atom itu sendiri?

Tahukah Anda kalau inti atom pun merupakan kumpulan sub-partikel yang lebih kecil lagi? Fisikawan merancang akselerator ukuran raksasa yang bisa menghasilkan energi jutaan milyar ev untuk menguak rahasia di balik inti atom. Sejauh ini mereka mendapati kalau inti atom ternyata tidak terlalu berbeda dengan atom itu sendiri. Sebagian besar volume-nya di “isi” oleh kekosongan. Jadi benda yang Anda lihat pejal itu ternyata….kopong…penuh rongga….dan kosong….

Apakah “ada” itu?

Mengapa sesuatu yang “ada” ternyata didominasi oleh kekosong-an(99.9999999% void)?

Jika benar demikian, benarkah “ada” itu harus bisa dilihat, dicium, diraba? Bagaimana dengan sebagian besar alam raya yang diisi dengan ke-kosongan?