Di Balik Kematian Neda

Neda Agha Soltan adalah sosok kontroverasial karena kematiannya yang mengundang pertanyaan besar. Kematian Neda tiba-tiba menjadi santapan media-media Barat untuk menyudutkan Republik Islam Iran dalam kerusuhan beberapa hari terakhir ini. Kronologi kematian Neda, kemarin malam ditayangkan televisi nasional Iran yang melibatkan kesaksian seorang supir dan guru musik Neda.

Kronologi Kematian Neda;

Seorang sopir taksi yang mengangkut Neda di tempat kejadian, mengatakan, “Hari Sabtu, tepatnya pukul 19:20, saya tengah melewati jalan Salehi ke arah atas. Di depan gang Khasravi, saya dikejutkan pada kerumunan warga. Saat melewati kerumunan tersebut, saya melihat seorang perempuan terlentang di atas jalan. Dari mulutnya dan hidungnya keluar darah. Saat itu, tidak ada pilihan lain bagi saya, kecuali turun dari mobil dan menaikkan perempuan malang tersebut ke atas mobil. Saya segera mengarahkan mobil ke arah rumah sakit. Ternyata, gang setelahnya adalah gang buntu. Satu-satunya jalan yang harus di tempuh adalah menurunkan perempuan tersebut dan menaikkan mobil lain untuk lebih cepat menuju rumah sakit.

Saksi lain adalah Guru musik Neda. Jika memperhatikan rekaman video kematian Neda, anda menyaksikan di dalam rekaman video tersebut seorang tua yang rambutnya sudah putih. Dia adalah guru musik Neda. Dalam kesaksiannya, guru musik Neda mengatakan, “Saat kejadian, ada sebuah mobil peugeot yang kemudian mengangkat Neda. Setelah itu, saya baru mengetahui bahwa pemilik mobil peugeot bernama Pouya.”

Kematian Neda sangat disesalkan. Namun penyelidikan lebih jauh kasus ini mengundang kesangsian tersendiri atas kematian tersebut. Ada beberapa poin yang meragukan;

1. Rekaman video kematian Neda yang dipublikasikan media-media Barat menunjukkan bahwa Neda sudah disorot sejak lama. Sebab, rekaman video yang menayangkan Neda sebelum kematian adalah gambar 45 menit sebelum kejadian. Bisa jadi, hal itu bersifat kebetulan saja. Namun tempat kejadian yang jauh dari tempat kerusuhan yang saat itu terjadi di Jalan Azadi dan minimal adanya dua handycam yang merekam kejadian tersebut menunjukkan skenario di balik kejadian tersebut.
2. Tempat kematian Neda jauh dari tempat kerusuhan. Namun Basij dan polisi yang merupakan pihak tertuding dalam kasus kematian Neda, sudah semestinya ditempatkan di tempat kerusuhan, bukan wilayah yang jauh dari kerusuhan. Terkait hal ini, guru musik Neda sambil menunjuk tempat kejadian, mengatakan, “Ini adalah tempat warga berkerumun saat itu. Saat itu, tidak ada demonstrasi di sini. Kami menyeberang dari samping jalan untuk naik mobil. Ketika sampai di belokan jalan, terdengar suara tembakan…”
3. Berdasarkan laporan hasil forensik, peluru yang ditembakkan ke Neda sejenis kaliber kecil dari sebuah pistol, yang ditembakkan dari jarak dekat saat Neda berjalan kaki. Masalah ini tentunya menjadi perhatian tersendiri karena polisi dan Basij tidak menggunakan pistol dalam menghadapi para perusuh. Lebih lanjut guru musik Neda mengatakan, “Suara tembakan peluru yang dimuntahkan mirip suara petasan….” Lebih dari itu, sopir taksi juga memberikan kesaksian bahwa saat keajdian, pihaknya tak melihat basij dan polisi di sekitar. Guru musik Neda juga mengatakan, “Saat itu, tidak ada konflik senjata, yakni tidak ada aparat keamanan yang bersiaga di wilayah tersebut. Di sana hanya ada sejumlah warga saat suara peluru terdengar yang kemudian mengenai Neda.”

Mempertimbangkan poin-poin diatas, dapat disimpulkan bahwa kematian Neda adalah skenario yang sengaja dibuat untuk memperkeruh suasana di Iran.