Kedermawanan

Ditulis oleh HikmahIslam di/pada April 13, 2007

Pada zaman dahulu, ada seorang lelaki yang beriman tinggal bersama
dengan isteri dan anak-anaknya. Mereka tinggal dalam sebuah gubuk
sederhana. Meskipun mereka jauh dari kilauan dan gemerlap materi, hati mereka
dipenuhi dengan kasih sayang.

Pada suatu hari lelaki beriman itu berada dalam kesulitan,
sampai-sampai isterinya berkata kepada lelaki itu, “Kini simpanan kita tinggal satu
dirham saja.” Lelaki itu mengambil satu dirham tersebut dan pergi ke
pasar. Dengan uang itu dia akan membeli sedikit makanan. Dalam keadaan
bertawakal kepada Tuhan, dia tiba di pasar. Baru beberapa langkah dia
berjalan, tiba-tiba terdenagar suara gaduh. Seseorang berkata dengan
marah, “Engkau harus membayar utangmu. Jika tidak, aku tidak akan membiarkan
engkau pergi.”

Lelaki yang berdiri di hadapan orang itu menundukkan kepalanya karena
malu. Sang lelaki yang beriman itu mendekati kedua orang yang berselisih
itu dan dengan suara yang lembut bertanya, “Baiklah, katakanlah apa
yang menyebabkan kalian berselisih paham.”

Lelaki yang berhutang berkata, “Lelaki ini telah menjatuhkan harga
diriku hanya karena uang satu dirham padahal saat ini aku tidak mampu untuk
melunasi utang tersebut.”

Lelaki beriman itu berfikir sebentar dan kemudian, uang satu dirham
yang dimilikinya itu diberikannya kepada si penghutang. Akhirnya,
terjalinlah persahabatan antara orang itu tadi. Lelaki yang berutang itu
mendoakan keselamatan buat lelaki yang beriman itu serta mengucapkan
kesyukurannya.

Hati lelaki beriman itu dipenuhi rasa gembira karena berhasil menolong
orang lain. Lalu diapun pulang ke rumahnya. Di pertengahan jalan dia
terpikir, “Sekarang, bagaimana aku harus memberi jawaban kepada isteri
ku? Jika dia memprotes, aku akan membiarkannya karena itu haknya.”

Sesampainya di rumah, dia menceritakan apa yang telah terajdi.
Isterinya adalah juga seorang perempuan yang baik dan beriman. Dia tidak
memprotes suaminya, malah berkata, “Engkau telah melakukan sesuatu yang baik
hari ini dan engkau telah memelihara harga diri lelaki itu. Allah pasti
akan memberi balasan kepadamu. Ambillah tali yang ada di rumah kita ini
dan juallah di pasar. Mudah-mudahan, uang tersebut bisa engkau gunakan
untuk membeli makanan.

Lelaki beriman itu merasa sungguh gembira dengan sikap isterinya
tersebut. Dia kemudian mengambil tali itu dan membawanya ke pasar. Namun,
betapapun dia berusaha keras untuk menjual tali itu, tidak ada seorang pun
yang ingin membelinya. Dengan rasa putus asa, dia pulang ke rumahnya.
Di pertengahan jalan pulang, dia bertemu dengan nelayan penjual ikan
yang juga gagal menjual ikannya. Lelaki beriman itu menghampirinya dan
berkata, “Tidak ada orang yang ingin membeli ikanmu dan tidak juga taliku.
Bagaimana menurutmu bila kita berdua saling menukar barang ini?”

Si nelayan berpikir dan kemudian berkata, “Aku tidak mempunyai tempat
untuk menyimpan ikan ini di rumah. Lebih baik engkau ambillah ikan ini
dan sebagai gantinya aku akan menjadi pemilik talimu yang mungkin di
satu hari nanti berguna buatku.”

Akhirnya, lelaki beriman itu membawa pulang ikan ke rumahnya. Isterinya
dengan gembira segera memasak ikan tersebut. Ketika perut ikan dibelah,
dengan penuh takjub dia menemukan sebuah mutiara yang berharga di
dalamnya. Ya, suami istri mukmin dan baik hati itu memperoleh harta yang
banyak.

Lelaki itu membawa mutiara ke toko emas untuk dijual dan mutiara itu
terjual dengan harga seratus dirham. Lelaki itu dan isterinya bersyukur
kepada Tuhan yang telah memberikan mereka kekayaan. Mereka pun tidak
lupa untuk tetap berbuat baik dengan membagi-bagikan sebagian uang mereka
kepada orang-orang miskin lainnya. Lelaki beriman itu berkata kepada
isterinya: Tuhan telah mengaruniakan kepada kita nikmat, kesenangan dan
kemewahan. Kini sebagai tanda kesyukuran atas nikmat ini marilah kita
membagikan kekayaan yang ada kepada mereka yang memerlukan. Siapakah yang
lebih layak dari sang nelayan yang telah bersusah payah menangkap ikan
di laut itu?”

Lelaki beriman itu pergi ke pasar dan mencari si nelayan itu. Setelah
berusaha keras, akhirnya dia bertemu dengan sang nelayan dan dia pun
menceritakan pengalamannya. Dia berkata, “Aku ingin memberi sebagian dari
uang ini kepadamu.” Meskipun miskin, nelayan itu adalah seorang lelaki
yang baik hati. Dia berkata, “Wahai teman, apa yang engkau dapatkan di
dalam perut ikan itu disebabkan karena kebaikanmu dan aku tidak
bersedia mengambil apa-apa darimu.”

Lelaki beriman itu menjawab, ”Tuhan telah memberi ilham kepadamu
sehinggakan dengan niat baik engkau telah menukar ikan milikmu dengan taliku
agar aku dapat mengenyangkan perut isteri dan anak-anakku. Ketahuilah,
apa yang ingin aku berikan kepadamu ini adalah hadiah bagi niat baikmu
itu. Tuhan menginginkan agar engkaupun menikmati nikmat yang Dia
berikan.”

Akhirnya, nelayan tersebut menerima uang itu dan mengucapkan syukur
kepada Tuhan atas kebaikan dan karunia Tuhan. Dengan cara ini, Tuhan telah
memberi kemuliaan kepada lelaki beriman dan isterinya itu lewat
ujian-Nya. Dalam ketiadaan harta, mereka tetap bersabar dan dalam keadaan
berkecukupan, mereka mengucapkan bersyukur kepada Tuhan dan membagi nikmat
itu dengan orang lain.

Imam Ja’far Shadiq a.s. berkata: “Barang siapa yang
membantu meringankan kesulitan orang mukmin, Tuhan akan memberi kemudahan
kepadanya dunia dan akhirat.”