Neda Korban Konspirasi

Beberapa hari belakangan ini saya kebanjiran email atau offline message dari saudara, teman dan sahabat dari tanah air atau dari luar negeri. Umumnya isi email atau offline message tersebut berupa pertanyaan dan pernyataan tentang kerisauan mereka terkait kondisi terkini yang berkembang di Iran.

Kerisauan mereka dapat segera dipahami kalau kita melihat pelbagai pemberitaan penuh bias, manipulatif dan menyimpang terkait demonstrasi yang berujung pada jatuhnya beberapa korban jiwa di negeri itu buntut dari hasil pemilu yang dimenangkan oleh Ahmadinejad untuk kedua kalinya sebagai presiden Iran ke-10.

Umumnya berita-berita yang diturunkan oleh media-media tanah air adalah relay atau terjemahan dari pelbagai media raksasa internasional seperti CNN, Fox News, BBC, VOA dan al-Arabiya yang secara garis ideologis, politis dan policy menentang segala yang dilakukan oleh Iran yang merugikan kepentingan mereka atau kepentingan Zionis.

Saya teringat kunjungan Ibu Mega ke Teheran, beberapa tahun lalu, ketika menjabat sebagai presiden untuk mengikuti konferensi para pemimpin D8. Lawatan Ibu Mega, kala itu, nyaris bersamaan dengan penyelenggaraan pemilihan anggota parlemen Iran. Ibu Mega datang disertai oleh wartawan TV, Majalah dan Surat kabar tanah air. Iseng-iseng saya bertanya ke salah seorang wartawan, “Mas hampir 123 wartawan dari pelbagai negara datang untuk meliput penyelenggaraan pemilihan anggota parlemen di Iran. Tidak berminat untuk ikut serta?” Jawabannya seperti yang diduga, “Mas, saya ambil aja dari CNN atau BBC sudah cukup.”

Kalau upaya untuk mendapatkan first hand information dan menerapkan asas pemberitaan cover both sides, tidak dipandang penting dan cenderung diabaikan, dengan kondisi seperti ini, obyekfitifas dan kebenaran berita apa yang dapat diharapkan dari pemberitaan semacam ini kecuali pemberitaan bias dan manipulatif.

Untuk menyebutkan contoh atas pengelabuan dan bias berita, di sini saya cukupkan dengan beberapa berita terakhir yang dimuat. Misalnya, Fox News (24/6) menurunkan berita bahwa passport sebagian pemain sepakbola Iran ditahan dan buntutnya mereka tidak dapat ke luar negeri menyusul tindakan mereka yang memasang pita hijau sebagai dukungan terhadap CAPRES kalah, Mosavi. Hal itu dibantah oleh ketua PSSI Iran, Kavasiyan, bahwa orang-orang yang menggunakan pita hijauh itu sekarang berada di tim-tim mereka di Eropa. Atau Al-Arabiya (24/6) yang memberitakan bahwa salah seorang panglima Pasukan Garda, Jenderal Safai, mengundurkan diri sebagai ungkapan kekecewaan terhadap pihak keamanan yang memperlakukan para demonstran secara tidak terhormat. Berita manipulatif ini langsung disanggah oleh panglima tersebut bahwa hal itu tidak benar. Atau belakangan warta terkait dengan penangkapan 70 dosen sehabis pertemuan mereka dengan Mosavi. Sementara pertemuan 70 dosen tersebut adalah untuk mengajak supaya Mosavi mengikuti jalur hukum dalam menyampaikan protesnya, tidak turun ke jalan atau berdemonstrasi di jalan yang bisa bermuara pada kerusuhan dan penyalahgunaan oleh kelompok-kelompok tertentu. Demikian juga pemberitaan bias, boikot 2/3 anggota parlemen Iran yang tidak menghadiri acara syukuran kemenangan Ahmadinejad sebagaimana yang diturunkan Kompas (27/6). Bagaimana mungkin Ahmadinejad mengadakan acara syukuran kemenangan sementara Dewan Garda Konstitusi belum lagi mengesahkan hasil pemilu tersebut dan sekarang masih menggodok dan mengkaji hasil pemilu? Sejauh ini dari pihak kepresidenan sendiri, belum ada yang namanya acara syukuran sehingga harus diboikot oleh 2/3 anggota parlemen?

Berita-berita yang disebutkan di atas ini hanyalah sebagian contoh yang dimanipulasi oleh wartawan-wartawan asing yang berujung pada pengusiran mereka dari Iran. Berita-berita ini kemudian menghiasi banyak media TV, elektronika dan cetak di tanah air. Image yang muncul dari para pembaca berita ini adalah sikap refresif, diktator, haus kekuasaan, tidak demokratis, pemerintah Iran dan rezim mullah terhadap para pengunjuk rasa yang lebih didominasi oleh preman dan orang-orang bayaran, karena hampir 60 persen pengunjuk rasa yang ditangkap adalah golput alias tidak memilih.

Yang paling gress dan mencengangkan bagi siapa saja yang mendengar apatah lagi melihatnya adalah film detik-detik akhir hidup Neda (26 tahun). Konten film tersebut adalah detik-detik terakhir Neda Agha Sultani meregang nyawa setelah tertembak timah panas yang dilontarkan tidak jauh dari tempatnya. Film tersebut segera beredar secara luas di dunia maya dan setiap orang yang melakukan selancar dunia maya dengan menggunakan kata kunci, “Neda” dapat dengan mudah melihat film tersebut berikut pengumuman pelaku penembakan dengan melihat berita lainnya, “Shot by Basij” atau “Basij shoot to death a young woman.” Padahal pihak keamanan dan intelegen mengumumkan bahwa mereka sedang mengusut kasus ini dan segera akan mempublikasikan hasil temuan mereka kepada publik. Anehnya, di antara puluhan orang yang gugur, Neda saja yang menjadi sorotan, seolah-olah darahnya saja yang berharga? Neda dipandang sebagai pahlawan reformasi sementara puluhan lainnya gugur begitu saja? Ada 8 orang Basiji yang gugur dalam kerusuhan ini, sebagian mereka gugur karena ditembak sebagian karena dikeroyok oleh preman yang berkedok demonstran. Kok malah mereka yang tertuduh?

Beberapa poin di bawah ini patut mendapat perhatian untuk mengantarkan kita kepada sebuah kesimpulan bahwa kematian Neda Agha Sultani adalah sebuah konspirasi untuk menyudutkan pihak pemerintah dan rezmi mullah yang berkuasa di Iran.
TKP sangat jauh dari tempat terjadinya kerusuhan.
Sekiranya pihak keamanan ada di tempat itu, maka seharusnya mereka berada di tempat kerusuhan, bukan di tempat yang jauh dari kerusuhan. Hal ini diakui oleh saksi mata, pengendara mobil yang mencoba menyelamatkan Neda bahwa ia tidak melihat satu pun pasukan keamanan atau polisi di sekitar tempat itu.
Pihak keamanan dalam menghadapi para demonstran berlaku sangat persuasif dan mendapat perintah untuk tidak menggunakan senjata api.
Menurut pihak forensik bahwa peluru yang digunakan ini bukan peluru milik pihak keamanan dan militer Iran.
Setelah terdengarnya suara senapan dan terkulainya seeorang karena ditembus peluru di jalan, biasanya orang-orang yang ada di sekeliling korban bertiarap dan berusaha untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing. Akan tetapi pada film ini, setelah wanita muda ini tertembak, beberapa orang pemotret dan kameramen, alih-alih menolongnya, malah sibuk mengambil film.
Sebelum penembakan selama kurang-lebih 45 menit, si malang Neda, menjadi sorotan kamera yang menandaskan bahwa ia telah diincar beberapa lama sebelumnya dan kameramennya sedang menjalankan sebuah skenario pembunuhan gadis muda malang ini.
Subyek pembunuhan yang dipilih adalah seorang gadis, muda, cantik dan mahasiswi sehingga dapat dengan cepat mempengaruhi opini dan menggugah perasaan publik dunia.
Film dan berita tentang terbunuhnya wanita malang ini sedemikian dibuat sehingga detik-detik akhir hidupnya meregang nyawa bahkan informasi tentang pembunuhnya tersebar di internet dan para antek MKO di Eropa dan Amerika langsung turun ke jalan unjuk rasa dengan menenteng foto-foto ukuran besar gadis malang ini. Mereka berusaha memperkenalkan pasukan keamanan Iran sebagai pasukan yang kasar, haus darah dan haus kekuasaan.
Kalau pun ingin mencari kambing hitam perkara ini maka yang orang paling pertama yang dipatut dituding adalah Mosavi karena telah berulang kali diingatkan untuk tidak turun ke jalan dan diminta menempuh jalur hukum dalam menyampaikan komplainnya.

Segera irama pembusukan ini terbongkar dan konspirasi yang mengorbankan seorang gadis muda ini akan terungkap. Dalam menghadapi pelbagai pembusukan dan konspirasi Barat, Iran dan masyarakatnya sudah amat terbiasa. Dan masyarakat Iran telah menjanjikan jawaban yang menohok atas konspirasi ini. Adapun gejolak yang terjadi belakangan merupakan sekedar riak kecil yang akan mengantarkan Iran menjadi lebih besar dan berkuasa. Hal ini terbukti semenjak kemenangan Revolusi Islam 1979, pelbagai konspirasi, pembusukan, intrik, invasi militer, embargo, dan sebagainya, toh tidak berhasil merongrong apatah lagi untuk menumbangkan Revolusi yang mendapatkan sokongan dari mayoritas masyarakat. Semakin ditekan, semakin besar. Semakin ditolak, semakin dicari. Semakin dibusukin, semakin menyebarkan wewangian.

Kalau Alvin Toffler pernah menuturkan “bahwa barang siapa menguasai informasi maka ia menguasai dunia.” Maka dalam kamus para media asing, “barang siapa yang menguasai media informasi, ia menguasai dunia.” Jangan lupa bahwa, menyitir Ahmadinejad, dunia sekarang telah berubah. Masyarakat dunia akan memilih kejujuran, obyektifitas, kebenaran dan keadilan. Perubahan ini juga akan terjadi terhadap media informasi dan orang-orang yang ingin mencari berita yang obyektif, jujur dan berasaskan mencari kebenaran dan keadilan. Nantilah kita serahkan pada waktu yang akan menjawabnya. [ http://www.isyraq.net ]