Iran Abadikan “Martir Jilbab” Marwah Sherbini sebagai Nama Jalan

Selama ini hubungan Mesir dan Iran terus kurang baik bahkan cenderung memburuk karena terlibat perselisihan terkait dengan sejumlah masalah terutama masalah dukungan Iran atas Hamas dan faksi-faksi perlawanan di Palestina.

Salah satu masalah lama yang menjadi dalam hubungan antar kedua negara Islam ini adalah sikap dan dukungan Iran terhadap Ikhwanul-Muslimin.

Rezim Mubarak marah besar karena Iran mengabadikan nama Khalid Islambuli, perwira yang menembak mati Anwar Sadat beberapa tahun silam, sebagai nama jalan di kota Tehran. Meski memprotesnya, Iran tetap menggunakannya sebagai bentuk penghargaan atas keberanian dan kesyahidannya.

Kini hubungan kedua negara itu diharapkan sedikit membaik bila saja Pemerintah Mesir mengapresiasi langkah pemerintah Iran yang berencana mengganti nama jalan Khalid Islambudli dengan nama Marwah Sherbini, wanita Mesir yang ditikam 18 kali oleh rasis Jerman karena kesal atas jilbab yang dikenakannya.

Hal lain yang menjadi salah satu alasan membaiknya hubungan itu adalah posisi Marwah berbeda dengan Khalid Islambuli. Marwa adalah warga Mesir yang melakukan studi bersama suaminya dalam program doktoral Dressden, Jerman. Kasus pembunuhan sadis Marwa mendapatkan perhatian dari rakyat dan Pemerintah Mesir dan seluruh dunia Islam. Iran sendiri telah mengajukan protes resmi ke Kedutaaan Jerman di Tehran. Warga Iran juga melakukan aksi demonstrasi di depan kedubes Jerman di Tehran sebagai ungkapan solidaritas atas Syahid Jilbab, Marwah.

Sementara itu, sebagaimana dilaporkan dalam situs islammuhammadi, para pengamat Mesir memuji sikap tegas Republik Islam Iran berkaitan dengan terbunuhnya muslimah Marwa el-Sherbani di Jerman. Dalam wawancara dengan wartawan IRNA di Kairo, sejumlah pengamat Mesir memuji sikap Iran terkait kasus Marwa el-Sherbani yang menjadikan pembantaian wanita berjilbab itu sebagai masalah penting bagi dunia Islam. Karena sikap ini, Iran menjadi cermin kebanggaan bagi dunia Islam yang saat ini terus memperhatikan berbagai problema ummat Islam. Penasehat Lembaga Strategi Arab di Kairo, Doktor Sami Mansour, saat menanggapi sikap Iran terkait Marwa mengatakan, “Sikap Iran dalam menanggapi kasus ini lebih tangguh dibanding negara-negara Islam dan Arab lainnya. Sejak kemenanangan Revolusi Islam, negara ini senantiasa menunjukkan sikap yang konkrit.”

Ketua Pusat Penelitian Yafa di Kairo, Doktor Rafaat Sayid Ahmad, dalam wawancaranya juga menyatakan bahwa, sikap mulia Iran dalam kasus Marwa mencerminkan ketangguhan negara ini dan perhatian luar biasa negara ini terhadap masalah ummat serta pembelaan terhadap segala problema muslimin di segala kancah.

Jumat kemaren, Kantor Penerangan dan Pers Deplu Republik Islam Iran telah memanggil Duta Besar Jerman di Tehran untuk dimintai keterangan terkait dengan kasus Marwa. Di depan Duta Besar Jerman, pemerintah Iran secara resmi menyampaikan sikap protesnya atas kejadian tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan keji dan tidak manusiawi.

Lebih dari itu, Republik Islam Iran menekankan pertanggungjawaban Jerman akan jaminan hukum dan keamanan terhadap kelompok minoritas dan warga muslim di negara ini. Pembunuhan terhadap seorang muslimah di ruang sidang pengadilan Jerman merupakan bukti lain sentimen Islam di Barat.

Tehran juga mengkritik pemboikotan media massa atas kasus pembunuhan muslimah asal Mesir di Jerman.