Beda Ilmu dan Makrifat dalam Irfan

Dalam bahasa: Makrifat berarti mengetahui dan mengenali sesuatu kerena ketidaktahuan seseorang akan sesuatu. Ilmu juga bermakna demikian, oleh karena itu para ahli bahasa dalam hal ini berpendapat ilmu dan irfan memiliki makna yang sama dan tidak memiliki perbedaan, akan tetapi dalam kitab-kitab khusus telah dibahas bahwa kedua hal tersebut mempunyai perbedaan.

Rhaghib Isfahani dalam kitab Al Mufradat menjelaskan, makrifat adalah ilmu, tetapi pengetahuan tentang suatu zat sesuatu [materi], sementara ma’rifat berhubungan dengan haq Ta’ala [non materi]. Oleh karena itu makrifat tentang dzat Haq Taala hanya bisa dirasakan melalui atsar-atsarNYa (ciptaanNya). Lebih lanjut Rhagib menjelaskan bahwa, kata (ilm) ilmu tidak dipakai untuk mengenal tuhan, sebagai contoh dalam bahasa arab kalimat Alima Zaidun Allah tidak dipakai, dikarenakan kata alima atau (ilm -berilmu) hanya di pakai pada sesuatu yang bisa kita rasakan dan sadari (melalui pancaindera), tetapi menggunakan kalimat (Arifa Zaidun Allah). Ketika kalimat Alima Allah pakai, karena Allah sudah mengetahui hamba-hambaNya, oleh karena itu kalimat Arifa Allah tidak dipakai.

Dengan demikian pendapat Raghib, ma’rifat lebih lebih khusus (akhos) dari ilmu dan dari sisi istilah antara irfan dan ilmu mempunyai perbedaan yang sangat jauh. Pada kenyataannya, penggunaan kata ilmu dan ma’rifat digunakan pada pembahasan yang menyerupai, bukan seperti yang dikatakan oleh Raghib, tentunya pembahasan ini akan kita bahas dalam pembahasannya sendiri yang dalam istilah khusus para ahli ma’rifat dan irfan. InsyaAllah.

Almarhum Shaikh Baha’i dalam hal ini menukil dari beberapa pembesar-pembesar [urafa] bahwasannya antara ilmu dan ma’rifat saling bertentangan. Misalnya, Ilmu kita terhadap sesuatu diluar [berupa materi], atau pengetahuan pertama yang kita ambil dari luar, atau pengenalan pertama manusia terhadap sesuatu diluar, di takbirkan sebagai ilmu, akan tetapi ketika pengetahuan kedua yang diambil dari pengetahuan pertama dan setelah adanya kealpaan [ghiflat] akan benda diluar dari pengetahuan yang diambil dari luar maka itulah yang ditakbirkan sebagai ma’rifat.

Ada kata yang menarik dalam ungkapan makrifatullah. Para mufasir berpendapat, Allah swt telah menciptakan arwah (jamak, ruh) terlebih dahulu sebelum menciptakan badan atau jasad (jism), ketika itu Allah swt meng-ikrar-kan ke-Tuhanan-Nya, seperti yang telah di katakan Qur’an: ”Bukankah Aku adalah Tuhankamu, mereka menjawab: ”Benar”. Hal ini terjadi pada alam arwah. Ahli ma’rifat mengatakan bahwa ketika itu arwah telah mengakui (dengan memberikan ikrar- pernyataan) Ketuhanan –akan- Allah swt , dan setelah itu arwah menuju alam kegelapan [alam materi] dan menemukan keterikatan kepada badan jasad-jasad. Karena ruh turun ke alam materi dan terikat dengannya, maka ini menyebabkan lupa [ghiflat] atas pengakuannya terhadap Allah swt di alam arwah.

Tetapi setelah melakukan amalan-amalan Ilahi dan riyadhotu shyar’iyah maka, hal ini akan membuka kembali tirai-tirai kegelapan dunia dan kemudian melihat (syuhud) kembali pengakuannya terhadap Allah swt sebagaimana yang terjadi di alam arwah. Nah Pengelihatan atau pengetahuan setelah terlepasnya hijab dunia inilah yang disebut dengan irfan dan makrifat.

Dalam pandangan irfan, makrifat manusia dibagi menjadi dua. Yang pertama adalah pengetahuan yang didapat oleh manusia secara langsung. Artinya pengetahuan itu didapat tanpa melalui perantara atau disebut dengan ilmu mafhumi. Dan makrifat yang kedua adalah kebalikan dari yang pertama. Dalam irfan disebut sebagai ilmu misdaqi.

Dalam ilmu mafhumi manusia tidak secara langsung berhadap-hadapan dengan maklum, akan tetapi dengan hal-hal yang ia ketahui, lalu melalui proses akal sehingga maklum yang ada dalam akal tersebut bisa difahami. Maka dari itu ilmu ini memiliki sisi mafhumi (pemahaman).

Sementara makrifat misdaqi, ketika seseorang datang kepada kita lalu dia menceritakan sesuatu dan mensifati sesuatu tersebut pada kita maka secara otomatis otak dan akal kita akan langsung menggambarkan dan menggabungkan seperti apa yang telah dia ceritakan teman kita tersebut, dan kitapun memahami hal tersebut, dan saat kita secara langsung bertatapan dekat dengan “sesuatu” tersebut maka kita akan merasakan adanya ikatan dan merasa seakan-akan kita telah mengenalinya. Disinilah perbedaan antara mengetahui dan mengenal.

Dalam filsafat pembahasan ini di bahas secara berbeda, para filosof membagi ilmu tersebut dengan dua bagian. Yang pertama adalah Ilmu Husuli dan yang kedua adalah Ilmu Hudhuri.

Dalam irfan kita kenal dua maqam, maqam mushahada [makam penyaksian atas Allah swt semata] dan maqam mukashafa [maqam mencari Allah swt semata]. Dua maqam ini dalam irfan mempunyai kedudukan yang sangat fital dan penting. Dalam riwayat, Imam Ali as membagi ilmu dengan dua bagian. Imam berkata:” Ilmu dibagi menjadi dua, ilmu matbu (ilmu hudzuri) dan ilmu masmu (ilmu husuli), jikalau tidak ada ilmu matbu yakni ilmu hudhuri maka ilmu masmu’ tidak akan ada gunanya.”

Oleh karena itu, jalan manusia untuk menuju pengenalan Tuhan terbagi menjadi dua: jalan dhahir [ilmu husuli dalam filsafat] dan jalan bathin [ilmu hudhuri dalam filsafat]. Rasulallah saw menta’birkannya ilmu ini dan bersabda:” Ilmu terbagi menjadi dua, ilmu lisan [husuli] yaitu dalil akan Bani Adam dan yang kedua adalah ilmu Qalb [Hudhuri] yaitu ilmu yang bermanfaat”. Mungkin dalam riwayat ini ilmu pertama dikatakan ilmu husuli dan yang kedua adalah ilmu hudzuri.

Oleh karena itu sering kita mendengar riwayat dari beberapa maksumin yang mengatakan bahwa ilmu adalah nur atau cahaya. Ini berangkat dari ilmu yang diaggap sebagai penghidup nafs dan cahaya bagi akal manusia. Ilmu ini pada hakekatnya adalah cahaya Allah swt yang oleh Allah swt akan diberikan kepada setiap hati yang Allah swt inginkan. Dan inilah hakekat ilmu yang dimaksudkan dalam pembahasan makrifatullah dalam irfan, yaitu ilmu hudzuri.

Dengan demikian jelaslah bagi kita perbedaan antara ilmu husuli dan ilmu hudhuri, dimana bisa diibaratkan bahwa ilmu husuli adalah bermakna mengetahui akan tujuan dan ilmu hudzuri bermakna terwujudnya akan tujuan, oleh karena itu ilmu husuli adalah mukashafah, dan ilmu hudhuri adalah mushahadah dalam pandangan irfan.

Sekarang telah jelas bagi kita makna dari mukashafah dan mushahadah. Oleh karena itu untuk mengenal Allah swt ada dua jalan. Jalan dhahiri atau ilmu husuli atau mukashafah dan jalan batini atau ilmu hudzuri atau mushahadah.

Jalan dhahiri dengan cara berdalil. Dan dengan itu kita bisa menyelesaikan permasalahan dari subyek ke obyek sebagaimana yang sering kita fahami dengan istilah sebab dari akibat atau dalam istilah falsafah burhan inni. Seperti ketika kita melihat asap di belakang tembok besar maka otak kita akan memahami bahwa di balik tembok tersebut ada api. Atau kebalikan dari burhan inni kita mengetahui sesuatu dari sebab untuk mengetahu akibat, dalam istilah filsafat disebut dengan burhan limmi.[IM/M]