SHOLAWAT PADA NABI SAAW

اِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ياَيُّهَاالَّذِيْنَ امَنُوْا صَلُّوْاعَلَيْهِ وَسَلِّمُوْاتَسْلِيْمًا ﴿الأحزاب :٥٦﴾
Artinya :

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersalawat atas Nabi. Hai orang-orang yang beriman salawatlah kepadanya dan berilah salam dengan bersungguh-sungguh. (QS Al-Ahzab:56)

Ayat ini mempunyai arti yang sedemikian agung. Allah SWT tidak pernah memerintah sesuatu yang dimulai dari diri-Nya, kecuali di ayat ini. Ini merupakan bukti keagungan baginda Rasulullah SAAW di sisi Allah SWT.

Rasulullah SAAW banyak menjelaskan keagungan bersholawat. Sabdanya, “Sesungguhnya paling kikirnya seseorang adalah yang mendengar namaku disebut tapi dia enggan bersholawat padaku (Kanzul Ummal 2144)

Bahkan seluruh kaum muslimin percaya bahwa amal yang sangat penting adalah shalat. Shalat adalah tiang agama. Sementara shalat tidak akan sempurna dan tidak akan diterima sampai kita membaca sholawat. Dan setiap kali itu anda menyebut Rasulullah SAAW dan keluarganya.

Anda selalu menggandengkan nama rasulullah SAAW dan keluarganya. Dan wajib menggandengkan Rasulullah SAAW dan keluarganya. Bahkan imam syafi’i berkata, “Barangsiapa yang tidak membaca nama keluarga (Ahlulbait Rasul SAAW) maka batallah salatnya.

Alangkah menyedihkan apabila nama Ahlul bait yang wajib digandengkan dengan nama Rasul SAAW dan yang kita baca setiap hari, namun kita tidak tahu siapa Ahlul bait yang dimaksud dan yang kita ulangi terus disetiap shalat sepanjang hidup kita.

Saat para sahabat bertanya, bagaimana salawat itu? Rasulullaah saw selalu menggandengkan namanya dengan Ahlulbait. Sabdanya:
قُوْلُ : اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاَلِ مُحَمَّدٍ
Rasulullah SAAW selalu mengajarkan agar setiap baca shalawat harus menyebut nama Ahlul Bait Beliau SAAW. (Sahih Bukhari juz 1 hal 489, Sahih Muslim juz 1 hal 305, Sahih Turmudzi juz 2 hal 352, Sunan ibn Majah juz 1 hal 293, Musnad Ahmad bin Hanbal juz 5 hal 353).

Rasulullah SAAW tidak pernah memisahkan namanya dengan nama Ahlul Bait disetiap shalawat, bahkan dalam salat sekalipun. Kemudian Rasulullah SAAW mengancam untuk tidak menerima shalawat yang tidak digandengkan dengan Ahlul Bait. Sabdanya, “Janganlah kalian bersalawat padaku dengan salawat yang buntung/terputus (اَلْبَتْرَاءُ). “Apa itu ya Rasulullah?” Tanya sahabat. Rasulullah bersabda, “kalian bersalawat padaku Allahumma shalli ala Muhammad

(اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ, (
kemudian kalian diam. Tapi hendaklah kalian membaca:
(اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاَلِ مُحَمَّدٍ) .
(Ibn Hajar dalam Sawaiq Muhriqah, hal 225).
Yang sangat mengherankan (walau kadang disebut ustadz), seringkali orang membaca:
(اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ, (
tanpa menyebut keluarganya. Apakah belum sampai hadist pada mereka yang Rasulullah SAAW selalu mengajarkan agar kita menggandengkan nama beliau dengan keluarganya? Atau mereka belum tahu ancaman Rasulullah SAAW untuk tidak menerima shalawat
yang tidak disertai penyebutan Ahlul Bait? Atau pura-pura tidak tahu dan lebih memilih pendapat lain, selain pendapat Rasulullah saaw. Kenapa mereka tidak membaca:

(اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَاَلِ مُحَمَّدٍ) .

bukankah itu shalawat yang diridhai Rasulullah SAAW, dan keridhaan Rasulullah SAAW adalah keridhaan Allah SWT. Ataukah kita akan sengaja membaca shalawat yang terputusdan di tolak. Alangkah malangnya yang lebih menuruti kemauan hawa nafsunya. Shalawat bisa jadi pintu syafa’at maka sebutlah dan sertakan Ahlul Bait.

Begitulah Allah SWT ingin memuliakan Rasulullah SAAW dan Ahlul Baitnya. Ya Allah beri kami kekuatan untuk selalu memuliakan Rasulullah SAAW dan Ahlul Baitnya, dan menempatkan mereka pada porsi yang benar seperti yang diinginkan Allah SWT dan Rasulnya SAAW.