SYIAH DALAM AL QUR’AN DAN SUNNAH

Kalau kita teliti di dalam membaca Al-Qur’an maka kita kan jumpai ayat-ayat yang memakai kata syi’ah yang dalam terjemahan bahasa Indonesia disepakati dengan arti golongan atau pengikut lihat Al-Qur’an Surat Al-Qashash ayat 15 yaitu :

وَدَخَلَ المَدِيْنَةَ عَلَى حِيْنِ غَفْلَةٍ مِّنْ اَهْلِهَافَوَجَدَفِيْهَارَجُلَيْنِ يَقْتَتِلنِ هذَامِنْ شِيْعَتِه وَهذَامِنْ عَدُوْه فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِيْ مِنْ شِيْعَتِه عَلَى الَّذِيْ مِنْ عَدُوِّه فَوَكَزَهُ مُوْسَى فَقَضَى عَلَيْهِ قَالَ هذَامِنْ عَمَلِ الشَيْطن اِنَّهُ عَدُوٌّمُّضِلٌّ
Artinya :

Dan dia masuk ke kota (mesir) ketika penduduknya sedang lengah, dan dia mendapati padanya dua laki-laki sedang berkelahi. Yang seorang dari golongannya (bani Israel) dan yang seorang lagi dari golongan musuhnya (Qibthi). Maka yang dari golongannya itu meminta pertolongannya melawan orang yang dari golongan musuhnya, lalu Musa meninjunya maka orang itu mati. Musa berkata,”ini adalah dari perbuatan setan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang terang menyesatkan”.(QS Al-Qashash : 15)

وَاِنَّ مِنْ شِعَتِه لاِبْرهِيْمُ
Artinya :

Dan sesungguhnya Ibrahim adalah dari golongannya (QS Ash Shaffat : 83)

ثُمَّ لَنَنْزِعَنَّ مِنْ كُلِّ شِيْعَةٍ اَيُّهُمْ اَشَدُّعَلَى الْرَّحْمنِ عِتِيًّا
Artinya :

Kemudian kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa diantara mereka yang amat durhaka kepada yang Mahapengasih (QS Maryam : 69)

Dan di dalam kitab-kitab hadist rujukan ahlus sunnah Rasulullah SAWW juga beberapa kali memakai kata “syi’ah” untuk menunjuk pada pengikut Al-Imam Ali ibn Abi Thalib as antara lain :

• Ibnu Asakir dalam tarikhnya juz 2 hal. 442 berkata : Jabir bin Abdullah berkata : kita bersama Nabi SAWW saat Ali AS datang lalu Nabi SAWW bersabda : Demi yang jiwaku ada dalam genggaman Allah SWT. Sesungguhnya dia (imam Ali AS) dan syi’ahnya (pengikutnya) adalah yang beruntung di hari kiamat.
• Ibnu Hajar dalam Sawaiq Muhriqah bab 11 pasal 1 ayat 11 dari Ibnu Abbas ra. Saat turun ayat هُمْ خَيْرُ البَرِيْة Rasulullah SAWW bersabda : mereka itu engkau dan syi’ahmu (pengikutmu). Engkau dan syi’ahmu (pengikutmu) akan datang di hari kiamat dalam keadaan ridho dan diridhoi, sedang musuhmu akan dibenci dan dimarahi.
• Al Qunduzi Al Hanafi dalam Yanabiul Mawaddah juz 2 hal. 61 berkata Ummu Salamah ra. Rasulullah SAWW telah bersabda : Ali dan syi’ahnya adalah orang yang beruntung di hari kiamat.
• As Sablanji dalam kitab Nurul Absar hal. 78 dari Ibnu Abbas ra. Berkata : saat turun ayat Rasulullah SAWW bersabda : Engkau dan syi’ahmu akan datang di hari kiamat dalam keadaan ridho dan diridhoi, sedang musuhmu akan dimarahi dan dibenci.
• Al Hakim Al Hiskani dalam syawahid Tanzil dengan sanad dari Imam Ali As, Rasulullah SAWW bersabda : Wahai tidakkah kau dengar firman Allah SWT : هُمْ خَيْرُ البَرِيْةٌ Mereka itu adalah syi’ahmu. Tempatku dan tempatmu adalah di telaga haud dalam keadaan berseri-seri.
• Thabari dalam tafsirnya juz 3 hal. 365 dari Muhammad bin Ali berkata : saat turun ayat هُمْ خَيْرُ البَرِيْة Rasulullah SAWW bersabda : itu engkau dan syi’ahmu wahai Ali.
• As Suyuti dalam Ad Durul Mansur juz 6 hal 379 dari Imam Ali As, Rasulullah SAWW bersabda : tidakkah kau dengar firman Allah SWT هُمْ خَيْرُ البَرِيْة itu engkau dan syi’ahmu. Tempatku dan tempat anda semua di telaga haud saat orang-orang dihisab, kita di tempat yang berseri-seri
.
Juga bisa dilihat di :

1. Al Kanji Asy Syafii dalam kifayat At Talib hal 214
2. Al Khawarazimi dalam manaqib hal. 111
3. Al Manawi dalam Kunuzul Haqaiq juz 1 hal.150
4. ibnu sibagh Al Maliki dalam Fusulul Muhimmah hal 107
5. Al Baladuri dalam Ansabul Asraf hal. 182
6. Al Alusi dalam Ruhul Ma’ani juz 16 hal 370
7. As sibt ibnu Jauzi dalam Tazdkiratul Khawas hal. 27
8. As Saukani dalam Fathul Ghadir juz 5 hal. 398
9. Az Zarnadi dalam Nadom Durarus Simtain hal. 92

Sungguh sangat mengherankan apabila Al Qur’an dan Rasulullah SAWW seringkali menggunakan kata-kata Syi’ah untuk para pengikut Imam Ali AS, tiba-tiba masih saja ada yang mengatakan bahwa syi’ah itu produk Ibnu Saba’.
Padahal cerita tentang ibnu saba’ baru muncul pada pertengahan abad ke-2 Hijriah dan itupun hanya diriwayatkan oleh saif ibn umar at tamimi dalam kitabnya yang berjudul Al futuh al kabir wa ar riddah dan Al jamal wa masiri Ali wa Aisyah (170H).
Kemudian Ath thabari, ibn Asakir, Adh dhahabi dan lain-lain menukil dari kitab diatas. Sementara itu, ada sekitar 13 ulama sunni yang menilai saif ibn umar at tamimi sebagai berikut:
1. Yahya ibn Muin (233H) : “riwayat-riwayatnya lemah dan tidak berguna”.
2. Nasa’i (303 H) dalam kitab shahih-nya, “riwayat-riwayatnya lemah, riwayat-riwayat itu harus diabaikan karena ia orang yang tidak dapat diandalkan dan tidak patut dipercaya.”
3. Abu Daud (316 H) mengatakan, “tidak ada harganya, ia seorang pembohong ( Al-Khadzdzab).”
4. Ibn Abi Hatim (327 H) mengatakan bahwa, “mereka telah meninggalkan riwayat-riwayatnya.”
5. Ibn Al-Sakan (353 H), lemah, (dha’if).
6. Ibn Adi (365 H), “lemah, sebagian dari riwayat-riwayatnya terkenal namun bagian terbesar dari riwayat-riwayatnya mungkar dan tidak diikuti.”
7. Ibn Hibban (354 H), “ia terdakwa sebagai Zindiq dan memalsukan riwayat-riwayat.”
8. Al-Hakim (405 H),” riwayat-riwayatnya telah ditinggalkan, ia dituduh zindiq.”
9. Khatib Al-Baghdadi (406 H), tidak mempercayainya.
10. Ibn ‘Abdil Barr (463 H) meriwayatkan dari Abi Hayyam bahwa ” riwayat-riwayat saif telah ditinggalkan; kami menyebutnya sekedar untuk diketahui saja.”
11. Saifuddin (923 H): “dianggap lemah (dha’if).
12. Fihruzabadi (817 H) dalam tawalif menyebutkan saif dan lain-lain mengatakan bahwa mereka itu lemah, dha’if.
13. Ibnu Hajar (852 H) setelah menyebutkan salah satu dari riwayat-riwayatnya menyebutkan bahwa riwayat itu disampaikan oleh musnad-musnad yang lemah, yang terlemah diantaranya (asysyadduhum) ialah saif.

Dengan demikian, dapat di tarik kesimpulan bahwa berita tentang syi’ah yang pertama bersumber dari Al-qur’an dan hadist, yang kedua diriwayatkan oleh saif ibn umar at tamimi yang mengatakan bahwa syi’ah adalah ciptaan Ibn saba’.
Jika ulama Jarh wa ta’dil menilai saif ibn umar at tamimi tak dapat dipercaya, riwayatnya lemah, tidak diikuti, tidak ada nilainya, mungkar, pendusta, penipu, zindiq dan lain-lain.
Allah SWT berfirman :

ياَيُّهَاالَّذِيْنَ امَنُوْااِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْااَنْ تُصِيْبُوْاقَوْمًابِجَهَالَةٍفَتُصْبِحُوْاعَلٰى مَافَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ ﴿الحجرات :٦﴾
Yang artinya :

Hai orang-orang yang beriman,jika datang kepadamu orang fasiq dengan suatu berita, maka selidikilah agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, kemudian kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS : al-hujurat 49:6)

lalu mungkinkah berita si fasiq saif ibn umar at tamimi ini lebih didahulukan dari Al-qur’an dan sabda baginda Rasulullah SAWW ??? lalu sebagian kaum muslimin tak segan-segan menfitnah saudaranya (syi’ah) bahkan tanpa mengecek kebenarannya, padahal kita semua tahu bahwa fitnah itu lebih kejam dari membunuh.
Allah SWT berfirman :

وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ وَاَخْرِجُوْهُمْ مِنْ حَيْثُ اَخْرَجُوْكُمْ وَالْفِتْنَةُ اَشَدُّمِنَ الْقَتْلِ وَلاَتُقَاتِلُوْهُمْ عِنْدَالْمَسْجِدِالْحَرَامِ حَتّٰى يُقٰتِلُوْكُمْ فِيْهِ فَاِنْ قٰتَلُوْهُمْ كَذٰلِكَ جَزَاءُالْكٰفِرِيْنَ ﴿البقرة : ١٩١﴾
Artinya :

Dan perangilah mereka di mana saja kamu jumpai dan usirlah mereka dari tempat mana kamu telah diusir, dan fitnah itu lebih berbahaya dari pembunuhan. Dan janganlah kamu perangi mereka di Masjidil Haram kecuali mereka memerangi kamu, maka perangilah mereka. Demikianlah pembalasan terhadap orang-orang kafir (QS Al-Baqarah :191).

………………وَالْفِتْنَةُ اَكْبَرُمِنَ الْقَتْلِ …………………………… ﴿البقرة : ٢١٧﴾
Artinya :

…………Dan fitnah itu lebih besar (dosanya) dari pembunuhan………(QS Al-Baqarah :217).

Dan kadangkala kita menyangka bahwa fitnah itu kecil padahal besar dosanya di hadapan Allah SWT dan Allah SWT memerintahkan agar jika kita mengaku sebagai orang mukmin maka jangan lakukan hal itu lagi.
Allah SWT berfirman :

اِذْتَلَقَّوْنَهُ بِاَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُوْلُوْنَ بِاَفْوَاهِكُمْ مَّالَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَّتَحْسَبُوْنَهُ هَيِّنًاوَهُوَعِنْدَاللهِ عَظِيْمٌ ﴿النور :١٥﴾
Artinya :

Ketika kamu menyampaikan berita itu dengan lidahmu dan kamu katakana dengan mulutmu tentang apa yang kamu tidak mengetahuinya dan kamu menganggap hal itu kecil, sedang di sisi Allah hal itu adalah besar. (QS An-Nur : 15)

وَلَوْﻵاِذْسَمِعْتُمُوْهُ قُلْتُمْ مَّايَكُوْنُ لَنَااَنْ نََّتَكَلَّمَ بِهٰذَاسُبْحٰنَكَ هٰذَابُهْتَانٌ عَظِيْمٌ ﴿النور :١٦﴾
Artinya :

Dan mengapa kamu tidak berkata ketika mendengarnya,”tidak patut bagi kami memperkatakan tentang ini, Mahasuci Engkau, ini adalah dusta yang besar. (QS An-Nur :16)
يَعِظُكُمُ اللهُ اَنْ تَعُوْدُوْالِمِِثْلِهِ اَبَدًااِنْ كُنْتُمْ ﻣُﺆْمِنِيْنَ ﴿النور :١٧﴾
Artinya :

Allah memberi pengajaran kepada kamu supaya kamu tidak mengulangi seperti itu selama-lamanya kembali jika kamu orang mukmin.(QS An-Nur : 17)

setelah penjelasan diatas, semoga kita mampu menjadi orang yang bijaksana, yang lebih mendahulukan Rasulullah SAWW daripada sekedar pendapat si pembohong saif ibn umar at tamimi dan lebih menjaga persatuan dan kesatuan serta nama baik saudara seagama daripada fitnah yang ternyata lebih besar daripada pembunuhan.
Ya Allah ! jadikan kami semua orang yang mau mendengar pendapat-pendapat orang lain dan tidak selalu mengaku sebagai yang terbenar sehingga kami beroleh hidayah-MU dan dihitung sebagai oaring-orang yang berakal.
Sebagaimana firman-Mu :

وَالَّذِيْنَ اجْتَنَبُوْاالطَّاغُوْتَ اَيَّعْبُدُوْهَاوَاَنَابُوْﺁاِلَى اللهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْعِبَادِ ﴿الزمر : ١٧﴾
Artinya :

Dan orang-orang yang menjauhi menyembah setan-setan (berhala) dan mereka kembali kepada Allah (taubat), bagi mereka kabar gembira, maka gembirakanlah hamba-hamba-Ku itu, (QS Az Zumar : 17)

الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهُ اُولٰئِكَ الَّذِيْنَ هَدٰهُمُ اللهُ وَاُولٰئِكَ هُمْ اُولُواالاَلْبَابِ ﴿الزمر : ١٨﴾
Artinya :

Yang mereka mendengarkan perkataan, lalu mereka mengikuti dengan sebaik-baiknya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang berakal.(QS Az-Zumar :18)