WALI

اِنَّمَاوَلِيُّكُمُ اللهُ وَرَسُوْلَهُ وَالَّذِيْنَ امَنُوْاالَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلوةَوَيُؤْتُوْنَ الزَّكوةَوَهُمْ رَاكِعُوْنَ
﴿المئدة :٥٥﴾
Artinya :

Hanya sesungguhnya pemimpin kalian adalah Allah dan Rasul-Nya, serta orang-orang yang beriman ; yaitu orang-orang yang mendirikan sholat dan membayar zakat sedang dia dalam keadaan rukuk(QS Al-Maidah : 55)
.
Ayat di atas turun berkenaan dengan peristiwa adanya pengemis yang meminta di Masjid, namun tidak ada orang yang mau memberinya sesuatu, lalu imam Ali bin abi Thalib yang sedang shalat mengisyaratkan agar pengemis itu mengambil cincin yang ada di jari tangan kanan beliau.
Kejadian ini diriwayatkan oleh:

1. Fahrur Razi dalam tafsir al Kabir juz 12 hal 26
2. Al Zamaksari dalam al Kassaf juz 1 hal 347
3. As Suyuti dalam ad Durul Mansur juz 1 hal 104,106
4. Al Ha’itsami dalam Majma’ al Jawa’id juz 7 hal 19,20
5. al Jassos dalam Ahkamul Qur’an juz 2 hal 446
6. As Sudi dalam tafsir Kabir al Qur’an 231
7. Ibn Katsir dalam tafsirnya juz 2 hal 74
8. Al Kanji As Syafi’i dalam Kifayat at Talib hal 200
9. An Nasafi dalam Tafsirul Qur’an juz1 hal 420
10. At Thabari dalam tafsirnya Jami’ul Bayan juz 13 hal 108
11. Al Wahidi dalam Asbabun Nuzul hal 113
12. Al Muttaqi al Hindi dalam Kanzul Ummal juz 13 hal 108
13. Alauddin al Haziri dalam Tafsirnya juz 2 hal 67
14. As Saukani dalam Fathul Gadhir juz 2 hal 78
15. At Thabari dalam Dahairul Uqba hal 102
Dan masih ada 20 riwayat lagi yang berkata; ayat ini turun berkenaan dengan imam Ali bin abi Thalib, yang bersedekah saat shalat.

Dari ayat itu juga dapat dijelaskan bahwa Wali anda adalah Allah, Rasul dan orang yang bersedekah saat sholat yaitu Ali ibn Abi Thalib. Dan tentu ada beberapa hal yang perlu dijelaskan dari ayat ini. Pertama, ayat ini dimulai dengan [اِنَّمَا]yang artinya pengkhususan, dan jika bermakna khusus tentu ada penjelasan siapa yang dimaksud. Kedua, disini mengunakan kata wali yang berarti penolong, pencinta, pewaris, penguat, yang lebih utama dalam perkara. Namun, setelah ada pegkhususan [اِنَّمَا]maka tidak ada arti yang cocok kecuali yang lebih utama dalam perkara (pemimpin). Ketiga, Sifat pemimpin itu yaitu salat dan saat rukuk dia bersedekah, dan tentu tidak semua orang melakukan hal ini. Karena itu asbabun nuzul menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah Ali bin Abi Thalib. Keempat, tentu beliau khusu’ walau bersedekah. Terbukti Allah SWT kemudian menjadikan kejadian ini sebagai tanda bagi pemimpin setelah Rasulullah SAAW. Berikut kami nukilkan hadist yang dengan jelas mengartikan kata wali (وَلِيُّكُم) dengan arti pemimpin :
Diriwayatkan oleh al Qunduzi al Hanafi dalam kitab Yanabiul Mawaddah bab 38 hal 134, Rasul saw bersabda di Ghadir Khum, “Wahai manusia tahukah kalian bahwa Allah SWT adalah Waliku dan aku walinya kaum mukminin dan aku lebih utama [dalam kepemimpinan] kepada mereka dari diri mereka sendiri.” Lalu mereka menjawab, “Benar ya Rasulullah.” Lalu beliau mengambil tangan Ali dan bersabda, “Siapa yang menjadikan Aku pemimpinnya, maka Ali juga pemimpinnya. Ya Allah! Pimpinlah orang yang menjadikan Ali sebagai pemimpinnya dan musuhilah yang menjadikan Ali sebagai musuhnya.” Lalu Salman berdiri dan berkata; “Ya Rasulullah! Kepemimpinan Ali seperti apa?” Kepemimpinannya adalah seperti kepemimpinanku! Barangsiapa yang menjadikan Aku lebih utama kepada dirinya dari pada dirinya , maka Ali juga harus lebih utama dari dirinya sendiri”.
Apabila ada yang bertanya, bukankah ayat itu وَالَّذِيْنَ امَنُوْا – menunjukan arti jamak (banyak)? Lalu mengapa hanya untuk satu orang, yaitu imam Ali bin Abi Thalib? Jawabnya yang pasti bahwa selain ayat ini ada juga ayat lain yang menggunakan lafadz jama’ tapi ¼ dituju hanya satu orang, berikut kami berikan contohnya:

اَلَّذِيْنَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ اِنَّ النَّاسَ قَدْجَمَعُوْالَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ اِيْمَانًا وَّقَالُوْاحَسْبُنَااللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ ﴿ﺁل عمران : ١٧٣﴾

Artinya :
(yaitu) orang-orang yang (mentaati Allah dan Rasul) kepada mereka ada orang mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang (kafir) telah berkumpul untuk menyerang kamu, maka takutlah kamu kepada mereka”. Maka (hal itu) menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung”.(QS Ali Imran : 173)

النَّاسُ – disini dipakai untuk satu orang, yaitu Naim bin Mas’ud al Asja’i, menurut;
• Ar Rozi dalam Tafsir Kabir juz 9 hal 99
• Az Zamaksari dalam al Kassaf jaz 1 hal 441

ياَيُّهَاالَّذِيْنَ امَنُوْااذْكُرُوْانِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ اِذْهَمَّ قَوْمٌ اَنْ يَّسْبُطُوْااِلَيْكُمْ اَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ اَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ وَالتَّقُااللهَ وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ ﴿ﺁل عمران : ١١﴾
Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah atas kamu, ketika suatu kaum hendak mengulurkan tangan (jahat) mereka kepada kamu, maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertaqwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin bertawakkal.(QS Ali Imran : 11)

يَّسْبُطُوْا – Walaupun jama’, yang dituju satu orang: غورث – Ada yang bilang . عموبن جحاس من بنى النضير menurut :
• Thabari, dalam Jamiul Bayan juz 10 hal 101
• Az Zamaksari, dalam al Kassas juz 1 hal 613
• Muhammad Rasid Rida, dalam al Manar juz 1 hal 276.

فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَاجَاءَكَ مِنَ العِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْانَدْعُ اَبْنَاءَنَاوَاَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَاوَنِسَاءَكُمْ وَاَنْفُسَنَاوَاَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَفْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللهِ عَلَى الْكذِبِيْنَ ﴿ﺁل عمران : ٦١﴾
Artinya :

Maka barang siapa yang membantah engkau tentang (kebenaran) itu sesudah datang pengetahuan kepadamu, maka katakanlah (kepadanya), “Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kamu, diri-diri kami dan diri-diri kamu, kemudian kita berdo’a dengan sungguh-sungguh (mubahala); dan kita jadikan (kita minta) supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta”.(QS Ali Imran : 61)
اَبْنَاءَنَا – bentuk jama’ untuk Hasan dan Husain
نِسَاءَنَا – bentuk jama’ untuk sayyidah Fatimah
اَنْفُسَنَا – bentuk jama’ untuk Imam Ali as, menurut :
a, Zamaksari, dalam Kassaf juz 1 hal 368
b, Muhammad Rasyid Rida dalam al Manar juz 3 hal 322
Ayat al Qur’an kadang pakai نَحْنُ padahal itu untuk Allah SWT yang Esa (untuk pengagungan).
Kita kadang ucapkan اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ – padahal untuk satu orang.