LALAI VIRUSNYA JIWA

Oleh : Muhammad Nur

LALAI

Setelah kita membahas pengertian Irfan dan Tasawwuf dalam edisi sebelumnya. Dalam edisi kedua ini saya ingin mengajak para pembaca untuk menelusuri lebih jauh mengenai persoalan Tazkiyatun Nafs ( sayr suluk ). Namun sebelum kita masuk dalam persoalan tersebut, baiknya jika kita mengetahui sebelumnya tentang hal – hal apa sajakah yang menghalangi proses tazkiyatun nafs.

Salah satu yang jadi penghalang dalam proses tazkiyatun nafs adalah lalai. “ Lalai ” dalam terminologi akhlak dianggap sebagai penghalang, sedangkan “ sadar “ dipandang sebagai sebuah kemestian dalam proses “ tazkiyyatun-nafs “. Langkah pertama dalam sair-suluk adalah manusia harus meyakini bahwa dirinya “ belum sempurna “, karena itu dia harus “ menyempurna “. Dari “ belum sempurna “ ke “ menyempurna “ terdapat gerak perjalanan, artinya ia sedang musafir dan membutuhkan petunjuk untuk sampai pada tujuannya. Mereka yang lalai dan belum mengetahui bahwa dirinya musafir maka ia akan tetap diam pada tempatnya. Sebagaimana Sa’di berkata ;

kita telah melewati kawanan perampok

sebuah istana sedang menanti

yang berangkat, beruntung

yang tinggal, mati

Mereka yang sedang berangkat, tetapi ia tidak mengetahui bahwa dirinya musafir bahkan ia tidak mengetahui bahwa dirinya sedang diintai oleh kawanan perampok. Disaat dirinya tertidur dan terlelap tentunya akan menjadi tawanan perampok. Namun jika ia tetap terjaga dan tetap beranjak, maka ia akan sampai pada tujuan. Syaitan dengan lantang mengatakan لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِراطَكَ الْمُسْتَقيمَ saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus ( Al-‘araf ; 16 ).

Mereka yang mengetahui bahwa dirinya musafir. Tentunya, ia akan terus berfikir untuk beranjak. Jika demikian halnya maka dirinya pun akan terus berusaha untuk mencari petunjuk atau nasehat – nasehat tertentu, sebagai bekal dirinya untuk sampai pada tujuannya.

Dalam bahasa Syariat, mereka yang bukan ahli sair-suluk disebut sebagai “ tertidur “ atau “ mabuk “. Yang disebut dengan mabuk adalah mereka yang membungkus akalnya dengan arak. Oleh karena itu, harta-benda, kemasyhuran, kesombongan, popularitas dan semacamnya juga digolongkan sebagai hal – hal yang memabukkan. Karena hal – hal yang disebutkan diatas, membungkus akal manusia dan tidak membiarkan manusia “ sadar “ dan “ bergerak “.

Ala kulli hal, mereka yang tidak mengetahui bahwa dirinya “ belum sempurna “ sehingga butuh untuk “ menyempurna “, atau mereka yang tidak mengetahui bahwa dirinya “ butuh “ sehingga “ wujud yang tidak butuh pada sesuatu apapun “ akan memenuhi kebutuhannya, atau mereka yang tidak mengetahui bahwa dirinya musafir sehingga ia harus bergerak, maka mereka semuanya digolongkan sebagai orang – orang yang masih dalam kondisi “ tidur “. Pada saat inilah mereka akan digiring pada tempat yang ia tidak inginkan sama sekali. Sebab suka atau tidak diri kita pasti bergerak. Dalam surah Al-anbiya ; 34 وَما جَعَلْنا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخالِدُونَ Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelummu (Muhammad). Maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal?

Tidak seorangpun didunia ini berada dalam kondisi diam. Dunia bukanlah tempat istirahat, sebagaimana pula alam barzakh dan alam kubur bukan tempat peristirahatan. Jika di tempat kuburan biasa kita ketemukan tulisan “ tempat peristirahatan “, hal ini disebabkan karena hal tersebut dibandingkan dengan dunia, namun barzakh jika dibandingkan dengan qiamat bukanlah tempat peristirahatan, walaupun sebenarnya mereka yang dibarzakh telah melakukan usaha dialam dunia. Akan tetapi selama mereka masih di alam barzakh, mereka masih gelisah dan risau hingga mereka sampai ke surga yang merupakan tempat peristirahatan yang hakiki. Oleh sebab itu, surgalah yang merupakan tempat peristirahatan yang hakiki.

Dalam Munajat Sya’baniyah diisyaratkan tentang “ sadar “ dari “ kelalaian “ اللهم لم یکن لی حول فأنتقل به عن معصیتک الاّفی وقت ایقظتنی لمحبتک wahai tuhanku, kami telah lalai dan kami belum mendapatkan taufik untuk bergerak, hingga suatu saat Engkau bangunkan kami dengan cintamu .

Namun untuk bangun diperlukan tekad dan usaha tertentu. Anjuran para Nabi ketika sampai ditelinga mereka, tentunya akan membangunkan mereka, sekalipun orang tersebut dalam keadaan tertidur. Tetapi jika tidur mereka sangat berat, anjuran Nabi tersebut tidak akan bisa membangunkan mereka, sebab tidur mereka sangat berat. Oleh sebab itu Allah swt berpesan pada Rasulullah saw: “kamu sekali-kali tiada dapat memperdengarkan (seruanmu) kepada orang yang berada dalam kubur” ( surah Fathir ; 22 ). Namun jika seseorang terjaga dan memahami bahwa dirinya harus beranjak, jika ia tetap tidak beranjak artinya ia tinggal dua saat dalam satu kondisi, maka orang ini digolongkan sebagai orang yang merugi, sebagaimana sabda Rasulullah saw: “jika dua harinya seseorang tidak berbeda sama-sekali berarti orang tersebut adalah orang yang merugi”. Maksud dari “ hari “ disini bukan siang dan malam, dan bukan siang yang diperhadapkan dengan malam. Oleh Karena itu, jika dua jamnya bahkan dua detiknya tidak berbeda sama sekali maka orang tersebut termasuk orang yang merugi. Sebab umurnya berlalu begitu saja tanpa mendapatkan apa – apa. Tapi jika seseorang senantiasa mengingat Allah swt, dua menitnya bahkan dua detiknya pun tidak sama. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-qur’an : “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. ( Al-‘araf ; 205 ). Setiap saat dirinya semakin dekat kepada Allah swt. Ia mengetahui bahwa tahapan saat ini jika dibandingkan dengan tahapan selanjutnya adalah “ kekurangan “, sedangkan tahapan saat ini jika dibandingkan dengan tahapan sebelumnya adalah “ kesempurnaan “. Oleh karena itu syarat pertama dalam syair – suluk adalah “ kesadaran “ . dari kesadaran inilah yang akan mengantarkan manusia untuk beranjak, dan dalam musafir dibutuhkan wejangan, kendaraan, petunjuk dan pengetahuan.

LALAI, VIRUSNYA JIWA

Lalai adalah salah satu penghalang menuju Allah swt. Dalam defini agama lalai disebut sebagai “ rijsun “ yang bermakna kotoran dan mengotori. Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib as berkata ; “ Lalai menyesatkan jiwa “. Lalai membuat jiwa menjadi tersesat. Boleh jadi ada yang beranggapan bahwa perkataan diatas – lalai sebagai kotoran jiwa – hanyalah bersifat majazi. Tapi sebagaimana kita ketahui bahwa manusia memiliki sisi lahiriyah dan juga sisi bathiniyah. Dihari qiamat nantilah akan nampak hal – hal yang bersifat bathiniyah. Dihari qiamat nanti sebagian orang akan dibangkitkan dengan wajah yang penuh cahaya, putih dan bersih, dan sebagian lagi akan dibangkitkan dengan wajah hitam, jelek dan bernanah karena makanan mereka adalah makanan dari nanah dan darah. Sebagaimana dalam surah Haqqah ; 35-37 “ِMaka ia tidak memiliki seorang teman pun pada hari ini di sini dan tiada (pula) makanan sedikit pun kecuali dari darah dan nanah yang tidak akan dimakan kecuali oleh orang-orang yang berdosa”. Segala kerugian yang menimpa kita bersumber dari faktor diluar diri kita, akan tetapi “ lalai “ didalam diri kita. Jika dalam diri kita terdapat benteng keyakinan dan kesadaran, maka kita akan terhindar dari nestapa, karena tiap satu kelalaian setara dengan sebuah anak panah. Sebagaimana dijelaskan dengan indah dalam sebuah Hadits ; “ tidak satupun seekor burung yang akan terkena anak panah ketika mereka berzikir mengingat Allah swt. Setiap anak panah yang mengenai tubuh seekor burung atau hewan lainnya, pastilah hewan tersebut dalam keadaan lalai “. Hadits ini selain memberikan muatan pengetahuan dan keyakinan yang cukup tinggi, namun memberikan kita pula unsur tarbiyah. Jangan sampai kita lalai terhadap Allah swt dan juga lalai akan ayat – ayatNYA.

Siapa saja yang lalai dari Allah swt dan juga lalai akan ayat – ayatNYA, tentunya mereka tidak memiliki proses tazkiyatun nafs. Ruh manusia ketika berhadapan dengan kejadian – kejadian, baik yang bersifat indah maupun yang bersifat buruk, tentunya pada saat yang sama ia pun akan merasakan kondisi yang baru, dan kondisi baru tentunya membutuhkan hukum yang baru pula, kemudian akhlaqlah dalam hal ini yang berkompeten dalam memberikan hukum baru tersebut. Seseorang yang lalai terhadap fenomena dirinya, tentunya ia pun tak mampu mempersepsi objek – objek akhlak, selanjutnya ia pun tak mampu menentukan hukum – hukum akhlaq. Kondisini inilah yang kemudian membawanya pada wilayah kemaksiatan tanpa ia sadari. Itulah sebabnya mengapa kita diperintahkan untuk menghindari kelalaian. Imam Shodiq as berkata ; “ jauhilah kelalaian, karena akan merugikan jiwa kalian “. Jika kita menjauhi kelalaian berarti kita telah menjauhi kerugian jiwa.

Hadit diatas sesuai dengan pesan Al-qur’an dalam surah Muhammad saw ; ayat 38 ; “Siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri”. Dalam ayat ini menjelaskan bahwa mereka yang kikir, pada hakekatnya hanya akan merugikan diri mereka sendiri, mereka berpikir untuk menyimpannya dimasa mendatang tapi pada hakekatnya mereka tidak menyimpannya.

Al-qur’an Al-karim dalam surah Al-baqarah ; 110 Allah swt Berfirman ;”Setiap kebaikan yang kamu usakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapatkannya di sisi Allah”. Kemudian Allah swt tidak mungkin khianat kepada apa yang telah dijanjikannya. Kelalaian – kelalaian yang berkaitan dengan harta ataupun semacamnya tentunya akan mengakibatkan kerugian duniawi. Akan tetapi, lalai dari tazkiyah dan lalai dari mensucikan ruh adalah lalai dari jiwa dan akan mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Karena kita telah menghilangkan potensi yang ada. Oleh sebab itu Allah swt berfirman; “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian”. Itulah sebabnya mengapa terdapat sebagian orang yang terasing dari dirinya sendiri. Syaitan pun pada hakekatnya tidak ada urusan dengan harta, tahta dan keturunan. Urusan syaitan satu – satunya hanya berkaitan dengan keimanan manusia. Jika syaitan memancing jiwa kita dan syaitan berhasil memerangkap jiwa kita, maka pada saat itulah, kaki dan tangan kita terbuka pada hal – hal yang bersifat haram. Akan tetapi tertutup pada hal – hal yang bersifat kebaikan.