Al Baqarah ayat 30

﴿ وَ إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوْا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَن يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَ نَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَ نُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّيْ أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُوْنَ ﴾

30. Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku ingin menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau akan menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu?” Tuhan berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Tragedi hari kamis

~Tragedi Hari Kamis~
 
::<>::<>::<>:: 

Pulang dari Baqi’, Nabi SAW jatuh sakit lagi. 
Ia menderita demam dan sakit kepala. 
Para pelayat bergantian menemui Nabi SAW. 
Tidak seorangpun berbicara keras dihadapannya. 
Semua mata memandang wajah putih bersih. 
Nabi menarik napas perlahan-lahan, seakan-akan mengikuti detak jantung para pelayatnya. 
Tiba-tiba, bibir yang suci itu terbuka: 
“Ambillah kitab dan tita supaya ku tinggalkan pesan untuk kalian, tulisan yang tidak akan sesat sepeninggalku.” 
Suara itu disusul dengan suara gemuruh. 
Seorang pelayat berteriak: 
“Biarkan! Nabi sedang mengigau. 
Nabi diserang penyakit panas, cukuplah bagi Kitab ALLAH.” 
Perempuan-perempuan berteriak, 
“Tidakkah kalian mendengar sabda Rosul ALLAH?” 
Kita dengar suara keras menghardik ibu-ibu kaum mukminin. 
Kita dengar suara keras itu menghardik ummahaatul mu’minin. 
“Ah, kalian sama saja dengan perempuan-perempuan sahabat Yusuf. 
Jika ia sakit, kalian berduka cita. 
Jika ia sembuh, kalian bertengger di lehernya.” 
Dengarlah, Nabi SAW bersabda: 
“Biarkan perempuan-perempuan itu. 
Mereka lebih baik darimu. 
Enyahlah kalian dari sini!” 
Yaa Nabiyar Rohmah, inikah fitnah besar itu? 
Di depan manusia 
“yang tidak berbicara dari hawa nafsunya tetapi selalu berdasarkan wahyu yang diterimanya” 
::QS An Najm 3-4:: 
ada orang yang berani menyebut bahwa Nabi meracau karena sakit panas. 
Di depan orang yang sakit, apalagi yang sakit itu manusia mulia junjungan alam, orang-orang bersuara keras. 
“Ya Rosulullah, inikah fitnah besar itu?” 

Lihatlah, Ibn Abbas menyebut peristiwa itu sebagai 
“Tragedi Hari Kamis”. 
Setiap kali mengenang hari itu, ia menangis. 
Kita juga ingin menangis. 
Kita tidak tahu apa gerangan yang ingin diwasiatkan Nabi SAW. 
Kita tidak ingin tersesat sepeninggal beliau. 
Kita ingin memeluk agama Islam yang sebenarnya. 
Kita ingin mendengar dan membaca wasiat Nabi SAW yang terakhir. 
Hampir saja Rosulullah memberikan anugerah besar yang akan menjadi pedoman kita sesudah sepeninggalnya. 

Mengapa orang-orang itu mengabaikan permintaan Nabi yang mulia? 
Padahal, penjahat yang akan dihukum mati pun dipenuhi permintaan terakhirnya. 
Mengapa tidak kita penuhi permintaan seorang manusia yang suci dan agung? 

Maafkan kami, ya Rosulullah. 
Kami umat yang tidak tahu berterima kasih. 
Kami ini umat yang tidak beradab di hadapan NabiNYA. 
Ampuni kami 
Yaa Abal Qoosim.. 
Yaa Nabiyar Rohmah.. 

~~§~~