Qadha dan Qadhar dari Lisan Imam Ali as

 

Tahun 36 Hijriah. Amirul Mukminin Ali as bersama pasukannya bergerak ke daerah Shiffin untuk menghancurkan pasukan Muawiyah. Terjadilah perang Shiffin. Perang ini berlanjut hingga 18 bulan dan setelah berakhir, Imam Ali as kembali ke Kufah.

 

Suatu hari ada seorang pria berumur mendatangi Imam Ali as di Kufah dan bertanya, “Wahai Amirul Mukminin! Apakah kepergian kita ke medan perang Shiffin dan berperang dengan warga Syam termasuk Qadha dan Qadha Ilahi?”

 

Imam Ali as menjawab, “Benar, wahai orang tua! Kita tidak akan pernah menaiki dataran tinggi sekalipun atau menuruni jalan terjal, kecuali dengan Qadha dan Qadha Ilahi.”

 

Orang tua itu salah memahami apa yang disampaikan oleh Imam Ali as dan beranggapan segala yang terjadi merupakan determinasi ilahi (Ijbar) berkata, “Dengan demikian, apakah saya bisa menisbatkan kesulitan yang saya alami dalam perjalanan ini dikarenakan Allah, dan saya mengatakan bahwa Allah Swt yang memaksa saya melakukan semua ini? Artinya, saya tidak akan mendapat pahala atas semua pekerjaan ini?”

 

Imam Ali as berkata, “Diamlah, wahai orang tua! Jangan berucap seperti itu. Demi Allah! Perjalananmu ke Shiffin, tinggal di sana dan kembali dari sana telah disediakan pahala yang besar di sisi Allah. Engkau tidak terpaksa dalam melakukan semua ini.”

 

Orang tua itu bertanya lagi, “Bila kepergian kita ke Shiffin adalah bebas dan sesuai dengan kehendak kita sendiri, lalu mengapa kembalinya kita dari sana dengan Qadha dan Qadar Ilahi?”

 

Imam Ali as menjawab, “Seakan-akan engkau beranggapan yang dimaksud dari Qadha dan Qadar Ilahi adalah kepastian ilahi, dimana engkau terpaksa melakukannya. Bila memang demikian, maka segala bentuk pahala, siksa, perintah dan larangan Allah Swt menjadi sia-sia. Kabar gembira dan ancaman kepada manusia tidak berarti. Tidak ada orang melakukan perbuatan baik yang dipuji dan pelaku dosa tidak patut dicela. Pelaku kebaikan tidak akan dinilai lebih baik dari pendosa dan pelaku keburukan tidak layat dicela dari pelaku kebaikan. Ucapan seperti ini sama seperti ucapan para penyembah berhala dan musuh Allah, golongan setan dan kelompok Ijbar dan Majusinya umat ini. Allah Swt meletakkan kewajiban kepada manusia berdasarkan kehendak manusia dan begitu juga larangan sesuai dengan ikhtiarnya, sehingga mereka tidak melakukan dosa sesuai dengan ikhtiarnya. Dengan demikian, setiap sedikit perbuatan baik akan diganjar pahala yang banyak dan tidak menaati Allah bukan berarti mengalahkan-Nya. Menaati Allah Swt dilakukan tidak dengan terpaksa. Allah Swt tidak memberikan ikhtiar sempurna kepada manusia dan segalanya diserahkan kepada mereka (Tafwidh). Begitu juga Allah Swt tidak menciptakan langit, bumi dan udara secara sia-sia, tidak juga mengutus begitu saja para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Ini adalah akidah orang kafir. Celakalah mereka dan akan dimasukkan ke neraka Jahannam.”

 

Penjelasan lugas dan argumentatif Imam Ali as berhasil memuaskan orang tua itu dan membuatnya gembira. Ia kemudian membacakan dua bait syair kepada Imam Ali as:

 

انت الامام الذى نرجو بطاعته               

يوم النجاة من الرحمان غفرانا

 

اوضحت من امرنا ما كان ملتبسا            

جزاك ربك بالاحسان احسانا

 

Engkau Imam yang wajib ditaati

Di Hari Kiamat kami berharap ampunan ilahi

 

Engkau jelaskan urusan yang sulit

Allah membalas kebaikanmu dengan kebaikan.[1] (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

 

Sumber: Dastanha-ye Usul Kafi, Mohammad Mohammadi Eshtehardi, 1371Hs,  jilid 1.

 

Baca juga:

Kisah Ushul Kafi: Jawaban Ini dari Hijaz!

Kisah Ushul Kafi: Menafikan Bentuk Fisik dari Allah



[1]
 . Bab al-Jabr wa al-Qadr, jilid 1, hal 155-156, hadis 1.